
"Papi..." panggil Putri. Balita berusia tiga tahun itu berlari mendekati Rico yang baru keluar dari kamar. Ayahnya itu begitu tampan dengan balutan jas hitam. Rico memang ganteng, wajar Tifani kepincut sampai melupakan Bruce.
"Iya sayang..." sahut Rico dia membungkuk lalu menggendong Putri kecilnya itu.
"Papi mau kemana?" Putri menatap Rico.
"Papi mau ke kantor. Kerja," sahut Rico tersenyum.
"Papi halus janji sebentar pulang main lagi dengan Putli," pintanya. Matanya berbinar-binar membuat Rico gemas.
Cup..
Dua kecupan bolak balik bergantian di pipi Putri.
"Okey, Papi janji!"
"Janji!" Putri mengangguk seraya menunjukkan jari kelingkingnya meminta daddynya untuk melingkarkan jari kelingking di kelingking kecilnya. Sebagai bukti sudah berjanji ala Putri. Itu kebiasaan yang dia lakukan dengan Nanny dan Lestari.
"Ya udah. Putri main dulu dengan Nanny.Nanti Papi pulang baru deh main dengan Papi.Sekarang Papi harus kerja," ucap Rico lalu menempelkan hidung dipipi halus Putri.
"Okey..Take care Papi! I love you." Putri melingkarkan tanganya diatas kepala berbentuk hati.Lalu, mengecup pipi Rico.
"Love you too!" Ia pun membalas kecupan Putri. Setelah berpamitan Rico segera masuk ke mobilnya, hari ini dia belum ke kantor dia harus ke pengadilan lebih dulu untuk menghadiri sidang putusan perceraian dia dan Lestari.
Setelah Rico pergi. Tati segera mengirim pesan kepada Lestari.
"Pagi ibu. Pak Rico baru saja berangkat ke kantor."
Lestari mengeluarkan ponselnya dia menggeser layar ponselnya lalu membaca pesan dari Tati. Bruce melirik kearah ponsel Lestari.
[Gimana dengan Putri? Mau sama papa nya?]
"Iya Putri tadi malam tidurnya sama pak Rico,"
[Emang nggak rewel?]
"Siapa?" Bruce yang sudah tidak menahan diri akhirnya bertanya.
"Oh asisten rumah tanggaku." Lestari menjawab namun jarinya terus menari dilayar ponselnya. Mendengar penjelasan Lestari yang acuh Bruce menaikkan satu alisnya.
[Syukurlah kalau nggak rewel. Terus apa kata pak Rico lagi?]
__ADS_1
"Tadi pak Rico pesan nanti malam pak Rico kembali ke rumah mau main bareng Putri lagi,"
[Oh...gitu. Ya udah biarin aja.]
Lalu ia mengembalikan ponselnya ke dalam tasnya. Bruce menatap Lestari sedikit ada rasa cemburu dimatanya.
"Bahas apa?" tanya Bruce penasaran.
" Katanya Rico janji dengan Putri, malam ini dia mau nginap lagi dirumahku." Lestari menghela napas.
"Bagus dong.Kamu bisa temani Ayahmu disini." Bruce pikir saran ini lebih baik.Dia tidak ingin Lestari pulang dan mereka bertemu, dia kwatir Lestari bisa berubah jika ada Rico dirumah. Namanya pernah ada hubungan bisa saja'kan gelap mata mengikuti rayuan setan.
"Tapi, aku sepertinya harus pulang. Aku tidak mau tinggalkan Putri berlama-lama sendiri tanpa aku." Lestari menghela napas.
"Ya udah up to you, who i'm?" Bruce berdiri dia meninggalkan Lestari. Mafia itu tidak mau terpancing emosi. Dia lebih baik menjauh sementara dari Lestari agar tidak melakukan kesalahan.
Lestari bingung dengan ucapan Bruce. Dia menatap punggung Bruce yang berdiri membelakangi dirinya.
'Who i'm?' batin Lestari.
Drtthh...
"Hallo.. selamat siang pak!" jawab Lestari. Suaranya berat untuk menyapa.
Bruce mendekati Lestari perlahan dia memasang kupingnya.
[Lestari...Putusan perceraian kamu sudah beres. sekarang kamu jadi singel parent dan hak asuh anak jatuh ditangan kamu. Saya salut dengan sikap pak Rico. Dia sama sekali tidak keberatan dengan semua keputusan hakim, mantan suamimu itu begitu tenang tapi sepertinya dia masih belum siap untuk berpisah dengan kamu]
Lestari tidak menjawab. Seketika air matanya berlinang membasahi pipinya.
"Terima kasih banyak pak." Suaranya sudah bergetar bahkan bahunya pun ikut bergetar. Sesak rasanya lima tahun pernikahan berakhir begitu cepat. Janji yang dulu mereka ucapkan untuk sehidup-semati kandas sudah. Impian untuk membesarkan Putri bersama lenyap seketika.
Cinta...
Kematian...
Jodoh...
Semua penuh misteri. Yang direncanakan manusia belum tentu sesuai yang digariskan Tuhan. Lestari hari ini sah menjadi singel parents. Siap atau tidak palu sudah diketuk. Hanya helaan napas yang mewakili perasaannya. Dia juga belum tau apakah akan ada jodoh untuk dirinya atau tidak, biarkan semuanya berjalan sesuai alurnya. Lestari tidak ingin memaksakan kehendaknya dia takut akan berakhir seperti hari ini.
[ Sama-sama. Aku pikir kita perlu merayakan kemenangan ini,"]
__ADS_1
Tawar pria berkepala botak tengah itu.
"Baik. Nanti malam. Aku akan share Lok," sahut Lestari menghela napas.
Panggilan pun berakhir. Lestari kembali meletakkan ponsel ke dalam tasnya. Bruce datang dia menyentuh bahu Lestari penuh hangat. Karena sejak tadi Bruce bisa menyimpulkan percakapan Lestari dengan Julio pengacara Lestari.
Lestari menoleh dia menyapa Bruce. Air matanya tidak bisa terbendung lagi.
"I fell not good." Lestari menutup wajahnya diatas kedua pahanya, sembari terisak.
Bruce duduk lagi disamping Lestari, cemburu yang tadi sempat membara dihatinya seketika lenyap. Bruce ingin menenangkan wanita sampingnya ini.
"Iklas!" Bruce menghela napas.Jujur dia tidak bisa melihat wanita yang dia puja menangis dihadapannya.
"Aku iklas.Tapi kenapa waktu begitu cepat sekali.Jujur ini mau ku, ini keinginan ku.Tapi, aku belum siap." Lestari terus menangis.
"Lalu? Apa kamu ingin batalkan putusan ini? Jika, itu membuat kamu bahagia. Oke, aku akan menelpon pihak pengadilan untuk batalkan perceraian ini." Wajahnya berubah jadi dingin.
Lestari tidak mengangkat kepalanya.Dia hanya menggeleng, " Bukan seperti itu. Aku hanya masih belum siap.Kamu ngerti nggak sih? Lihat saat ini aku gundah menunggu operasi Ayah, lalu dalam sejam berita datang aku sudah bercerai. Bayangkan kamu diposisi aku sekarang. Apa yang kamu lakukan selain menangis? Please ngertiin aku sebentar aja! " Lestari mengangkat wajahnya dia menatap Bruce. Wajahnya sendu, air matanya masih dipipi tirus indah itu.
Bruce menyentuh pipi mulus itu, dia menyekanya penuh lembut, "Jangan menangis! Lampiskan semua di aku. Terserah kamu mau marah, mau pukul atau cakar sampai berdarahpun, terserah kamu.Lakukan semau kamu hari ini tubuhku hanya milikmu." Dia menatap Lestari dengan yakin. Mengangguk meminta Lestari melakukan, "Maybe forever for you if you want!" gumam Bruce.
Lestari tersenyum tapi masih menangis, "Kamu!" Dua tangan Lestari bergantian memukul lengan kekar Bruce berulang kali.
Plak..plak..plak..
Bruce terkekeh, karena pukulan Lestari tidak terasa sama sekali dilengannya, "Bagaimana? Sudah lega?" Tanya Bruce ketika melihat Lestari menghentikan pukulannya.
"Belum!" Dia malu lalu tanpa sadar menyembunyikan wajahnya di lengan Bruce.
"Ayo kalau belum lega kita ke ruanganku diatas, hmm?" ajak Bruce. Dia mengusap rambut Lestari.
Lestari merona, dengan wajahnya yang berada dibawah lengan Bruce, "Mau ngapain ke ruangan mu?"
"Menurut kamu, apalagi?" Bruce menaikkan satu alisnya.
"Ish...Aku nggak mau!"
"Harus mau!!! Ada janji yang harus kamu tepati,hmm?" jawab Bruce.
Lestari dan Bruce tidak menyadari sedaritadi ada Rose yang mengamati keduanya. Rose menarik napas lega kini Putrinya tidak lagi stres dengan kelakuan Rico.
__ADS_1