Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
gagal.


__ADS_3

Selesai bersiap-siap, ia mengambil kotak berisi cincin yang dipesan dari Alvares kemarin diatas nakas lalu dimasukkan ke kantong celananya. Yakin, tidak ada yang tertinggal Bruce bergegas keluar dari kamar, ia menuruni anak tangga namun saat Bruce hendak menuruni anak tangga terakhir. Perdro, pelayan mansion miliknya membungkuk menunggu Bruce di ujung tangga.


''Tuan,'' Pedro menunduk.


''Ada apa?'' Bruce menghentikan langkahnya.


''Tadi, ada yang menelpon, dia menanyakan kabar tuan.'' ucap Pedro.


''Siapa?'' tanya Bruce mengernyit.


''Dari suaranya dia seorang wanita. Tapi waktu saya tanya siapa namanya dia tidak menjawab, dia meninggalkan pesan, dia minta besok tuan menjenguk dia di yayasan kanker kota Madrid. Tapi, dia berpesan lagi itu pun jika tuan tidak repot.'' Pedro terus menundukkan kepala.


''Wanita katamu? Saya, tidak mengenal wanita apalagi orang di yayasan kecuali kepala yayasan.'' Bruce benar, dia tidak pernah mengenal pasien kanker disana tapi mengapa ada pasien kanker yang meminta Bruce segera menjenguk dia disana? Bruce mengenal kepala yayasan karena dia donatur tetap di yayasan itu. Tapi, kepala yayasan sama sekali tidak pernah menelpon dia apalagi meminta dia pergi ke yayasan.


''Maaf,'kan saya, tuan. Karena, setelah berbicara wanita itu langsung mengakhiri panggilan.'' jawab Pedro.


''Baiklah. Nanti saya akan minta Felix untuk mencari tahu siapa wanita itu.'' Lalu, Bruce bergegas ke depan dia masuk ke mobil berwarna putihnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Lestari.


Dalam perjalanan menuju rumah Lestari, Bruce menghubungi Felix. Dia meminta Felix untuk menyelidiki wanita di yayasan kanker sesuai apa yang dikatakan Pedro pelayannya.


''Felix, kau cari tahu wanita yang tinggal di yayasan kanker. Siapa, dan mengapa dia meminta saya besok ke sana.''


Bruce terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.


[Baik, Tuan.]


''Bagus.''


Bruce pun mengakhiri panggilan. Mobil berwarna putih itu mulai memasuki kompleks perumahan mewah Lestari. Setelah sampai di rumah Lestari, Dia pun memarkirkan mobilnya di depan pintu rumah Lestari. Bruce segera turun dari mobil. Seperti biasa security yang menjaga rumah Lestari membungkuk.


''Tuan, ingin bertemu nyonya?'' tanya security itu.


Bruce menghentikan langkahnya, dia melirik menatap Security Lestari.


''Ya. Nyonya ada, 'kan?'' Jari telunjuknya mainkan kunci mobilnya.


''Maaf, Nyonya tidak ada di rumah. Nyonya ke rumah sakit menemani tuan Filipo kontrol jantung.'' Security itu menunduk, sumpah demi apapun dia tidak ingin melihat reaksi Bruce karena itu sangat menakutkan.


''Terima kasih.'' Bruce bukan tipe yang sabar mnenunggu. Sudah cukup dia menunggu semasa dia dengan Tifani, tidak lagi saat ini dia bersama Lestari.


Bruce kembali masuk ke mobilnya. Dia memacukan mobilnya begitu kencang menuju rumah sakit, Bruce tau dia harus menghubungi siapa sebelum dirinya yakin dengan ucapan security tadi. Dia mengambil ponselnya yang ia letakkan di dasbord mobil, lalu mengambil earphone miliknya dan memasang ditelinganya

__ADS_1


''Dokter Johan,''


[Tuan, ada perlu apa?]


''Benar, hari ini pak Filipo kontrol?''


Bukan tidak percaya namun Bruce sudah trauma. Dulu, ingat dulu. Dia masih bersama Tifani. Setiap kali dia ingin melamar dan mengajak Tifani menikah resmi ada saja alasan yang di buat Tifani untuk menunda niat Bruce. Hingga pada akhirnya Tifani Ketahuan berselingkuh dengan Rico.


''Jam, berapa?''


[Jama tujuh, tuan. Tadi, ibu Lestari menghubungi saya kalau mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.]


Setelah mengakhiri panggilan. Bruce memarkirkan mobilnya ditepi dijalan. Dia menatap kosong ke depan dengan kedua tangan diletakkan diatas stir mobil.


Bruce, berpikir mungkin dia tidak ditakdirkan memiliki pasangan karena pekerjaan dia yang berada di dunia hitam atau mungkin karena dia yang berasal dari anak panti asuhan dan tidak jelas siapa orang tuanya? Bruce tersenyum, ia menggelengkan kepalanya. Lalu, meletakkan kepalanya diatas stir mobil, ia tertawa mengejek dirinya sendiri.


Bruce melanjutkan perjalanannya bukan ke rumah sakit tapi dia memilih ke markas. Ya dia kemarkas tempat yang tepat untuk melepas semua kekesalan dihatinya. Marah, kecewa semua berkecambuk jadi satu. Matanya memerah, tidak perlu menunggu lama mobil putih mewah itu berhenti tepat di depan markas. Anak buahnya yang menjaga didepan markas semua menunduk, ketika melihat Bruce keluar dari mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam markas disana ada Sisilia yang sedang menikmati wine seorang diri.


"Sampai kapan kau berhenti minum?" Bruce tersenyum sinis menatap Sisilia.


"Hidupku sudah rusak untuk apalagi aku memperbaiki diri?" Sisilia yang sudah terpengaruh dengan alkohol begitu santai menjawab Bruce.


"Ya, ya! Lanjutkan sesuka hatimu.Lagian aku membayarmu untuk bekerja bukan untuk aku mengatur hidupmu!" Bruce masuk keruang pribadinya meninggalkan Sisilia yang masih kesal menatap Bruce.


"Tumben, tuan rapi banget. Atau mungkin tuan korban ghosting lagi." gumam Sisilia. Lalu, ia pun bergegas masuk ke kamar nya sebelum menjadi sasaran amarah Bruce.


♥️♥️♥️


Sementara, Lestari dan Filipo baru saja tiba dirumha sakit.


Tok...tok..tok


Lestari mengetuk pintu ruangan dokter Johan.


"Ya silakan masuk " ucap dokter Johan.


Mendengar sahutan dari dalam Lestari menggandeng tangan Filipo.


"Ayo, Pi." ajak Lestari.Dia menggandeng tangan Filipo. Lalu Lestari menarik gagang pintu dokter Johan, keduanya masuk.


"Selamat malam, pak Filipo, ibu Lestari. silakan duduk." ujar Dokter Johan. Dia mendoangak menatap Lestari dan Filipo.

__ADS_1


"Selamat malam juga. Dok. Terima kasih." sahut Lestari dan Filipo bersamaan. Lalu keduanya pun menarik kursi dan duduk. Menghadap dokter Johan


"Apakabar pak Filipo?" Dokter Johan membuka obrolan.


"Baik, Dok." Filipo tersenyum.


"Tumben ibu nggak ikut?" Dokter Johan melihat hanya ada Lestari dan Pak Filipo. Benar saja, tadi Bruce menanyakan jadwal kontrol Filipo ternyata ini alasannya.


"Bunda, lagi kurang sehat." sahut Lestari.


"Baiklah. Harus banyak istirahat dan mengkonsumsi buah dan vitamin." saran dokter Johan.


"Terima kasih dok,atas sarannya." sahut Lestari.


"Sama-sama." balas Dokter Johan.


Setelah basa-basi sebentar. Dokter Johan kembali ke pokok permasalahan.


"Bagaimana kondisinya, pak Filipo?" tanya dokter Johan.


"Saya merasa lebih baik. Hanya kalau kecapean masih terasa sesak didada dan sering terasa panas dada bagian kiri." jelas Filipo.


"Oh wajar itu Pak, mengingat Pak Filipo juga baru saja melakukan operasi ditambah lagi usia bapak tidak muda lagi. Baik, silakan berbaring saya akan melakukan pemeriksaan sebentar." ujar dokter Johan.


Filipo segera berbaring, Dokter Johan mulai melakukan pemeriksaan. Selesai semua Filipo kembali ke kursi begitu pun dengan Dokter Johan.


''Bagaimana kondisi ayah saya, Dok?'' tanya Lestari. Lestari sangat kwatir dengan kondisi ayahnya walaupun Filipo sering mengatakan dia baik-baik saja tetap Lestari kwatir.


''Kondisi pak Filipo sudah pulih. Tapi namanya jantung tidak ada yang bisa sembuh total. Kami sarankan pak Filipo selalu menjaga pola makan dan rutin olahraga pagi-sore minimal lima belas menit. Olahraga ringan saja.'' pesan dokter Johan.


''Baik, Dok. Terima kasih.'' ujar Lestari.


''Sama-sama." balas dokter Johan.


Selesai kontrol, Lestari dan Filipo meninggalkan rumah sakit kembali ke rumah.


♥️♥️♥️♥️♥️


Sementara di hotel semua yang diminta Bruce sudah selesai. Tampak mawar merah dan putih menghiasi lobby masuk hingga sampai di rooftop. Tidak lupa diatas Rooftop ada Piano besar dan seorang pria yang siap memainkan musik indah. Balon-balon berwarna merah dan putih sudah melayang-layang di udara. Sungguh indah bahkan bukan hanya itu saja, Balon udara besar dengan hiasan balon berbentuk jantung pun sudah bersiap-siap diudara.


Felix menunggu di lobby, gelisah. Dia sesekali memperhatikan ponselnya namun tidak ada panggilan dari Bruce.

__ADS_1


"Kemana Tuan? Jangan-jangan tuan kecelakaan dijalan? Karena, tadi saya dengar tuan sementara dalam perjalanan?" Ia bergumam. Ia berdiri didepan lobby bersama security menunggu Bruce dengan cemas.


__ADS_2