Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
penyesalan Rico


__ADS_3

"Baik. Terima kasih." Rico membaca buku tamu itu lalu dia membubuhkan tanda tangannya. Rico gelisah, dia takut Tifani menolak bertemu dia. Dia tahu dulu dia salah tidak mengerti perasaan Tifani. Menurut Rico, sikap Tifani terlalu egois, dulu ingat itu dulu.


Rico, sesekali melirik ke arah koridor yang tadi dilewati Security, Ia menghela napas, jemarinya saling bertaut di meremasnya hingga buku-buku jarinya terlihat putih.


"Huft, Kenapa jadi berasa seperti anak remaja yang baru jatuh belajar mengungkapkan perasaan kepada wanita pujaannya." Rico tersenyum.


"Pak Rico, silakan ikut saya." Security membuyarkan lamunan Rico.


"Ha? Saya, ikut pak? Kemana?" Rico pikir, Tifani tidak mau bertemu dia lagi.


"Ya. Ke kamar nona Theresia." Security itu tersenyum.


"Oh, Baiklah." Rico menghela napas, dia mengusap dadanya. Dia ragu dia berdiri dari kursi mengikuti langkah security menuntun dia menuju kamar Tifani.


"Apa dia sudah tidur? Ehh, maksudku Nona Theresia." Rico mempercepat langkahnya, dia berjejer dengan security itu.


"Nona baru salah selesai yoga." sahut Security itu.


"Yoga? Apa dia masih bisa Yoga? Bukanya dia mengidap kan---"


"Aku penderita Kanker, benar begitu?" sahut suara yang begitu dia rindukan. Suara yang sudah empat tahun lamanya tidak pernah dia dengar. Wanita itu dengan tenang, berdiri didepan pintu kamarnya, bibirnya tersenyum memotong ucapan Rico.

__ADS_1


Rico tercekat, serasa tenggorokannya kering tiba-tiba. Oh, Tuhan, Tifani. Dokter cantik itu, kini sedang berdiri didepan dia. Rico, mengerjap meyakinkan dirinya Benar yang dia lihat ini Tifani? Dia bergeming seperti patung hidup, mulutnya masih menganga tidak percaya dengan tampilan dokter cantik itu. Wanita itu, dulu dipuja bak seorang bidadari, wajahnya yang dulu mulus, licin seperti keramik putih kilap bahkan sulit menemukan bintik hitam atau sekedar bekas jerawat di wajahnya, itu dulu.


Namun, sekarang wajah itu pucat, pipinya tirus.Body goalnya kini menjadi kurus bukan lagi ramping ala gitar Spanyol.


"Hai...Bukannya kamu ingin bertemu aku? Lalu mengapa kamu terpaku disitu?" lagi-lagi Tifani tersenyum.


Rico bergeming. Ia lelaki tidak berguna Rico brengs*ek, lihat wanita itu terus saja mengajak dia bicara. Namun, mengapa Rico diam tanpa kata? Hei..bukanya dulu Rico tidak pernah menyerah ingin mendapatkan Tifani, ingin merebut Tifani padahal Rico tahu posisi dia waktu itu bukan singel. Padahal Rico tahu Tifani juga selalu mengatakan dia punya seorang kekasih. Tapi, Rico tetap bersikukuh harus mendapatkan Tifani , alasan Rico dulu, wanita itu mantan kekasihnya tujuh tahun silam waktu sama-sama mengemban ilmu di salah satu universitas yang sama, Universitas Oxford. Akhirnya wanita itu luluh jatuh dalam pelukannya, tapi setelah satu tahun lamanya Rico bersama Tifani. Rico menghindari wanita itu, Rico beralasan sikap wanita itu terlalu berlebihan, egois dan tidak mengerti dengan keadaannya.


Benar, waktu itu Rico masih depresi karena Lestari memutuskan bercerai dengannya. Lalu, Rico mulai menjaga jarak dengan Tifani kemudian perlahan Rico melupakan Tifani, hanya sekali Rico mencari Tifani. Setelah Rico tahu Tifani tidak tinggal lagi diapartemen itu Rico menyerah berhenti mencari Tifani.


Empat tahun Rico tidak bertemu Tifani, kemarin dia mendapat informasi dari Lestari mengenai kabar wanita ini. Namun, mengapa Rico tidak mau memeluk Tifani, meminta maaf telah mencampakkan, mengabaikan Tifani? Rico benar, dia bukan laki-laki yang bisa diandalkan. Justru sekarang terlihat jelas siapa yang egois diantara mereka berdua ? Dia Rico, Rico!


"Ah, maaf." Hatinya seperti dihujam paku berkali-kali, sakit sakit banget. Melihat kondisi Tifani seperti saat ini.


"Tadi aku denger kau meragukan seorang penderita kanker bisa yoga? Bisa, kami bisa Yoga. Setelah tadi Bruce kesini, maksudku ayah. Aku sempat stres karena permintaan Ayah yang berlebihan menurutku. Makanya, aku memilih yoga, untuk menghilangkan stres. Yoga juga sangat penting untuk penderita kanker payudara seperti saya, selain untuk menghilangkan stres, bisa juga untuk memulihkan kondisi pasien payudara, mengurangi rasa mual setelah pasca pengobatan. Yoga juga untuk ketenangan dan menghibur serta membuat pasien merasa sehat." Tifani tersenyum, dia menjelaskan dengan sabar kepada Rico.


Tifani mengajak Rico masuk ke kamarnya. Karena dia tidak bisa kuat, terkena udara luar yang sangat dingin, "Maaf kita bicaranya di kamar saya saja. Tubuhku lemah jika berada diluar, cuaca sangat dingin." sambung Tifani lagi.


Rico masih diam, dia terus menatap Tifani, mulutnya belum bisa bicara, lidahnya keluh untuk sekedar mengucapkan kata 'Maaf'. Dia menunduk jika bola mata mereka saling bertemu.


"Akhirnya kau bisa menemukan alamatku." Tifani berdiri, dia mengambil air mineral. Dia meletak'kan diatas nakas, "Di minum dulu."

__ADS_1


'Kau tahu, aku pertama kali dengar kabarmu dari wanita yang dulu kita sakiti. Aku tahu alamat mu dari Bruce. Tapi sebelum mendapatkan alamatmu, Bruce menghajarku sampai mulutku berada. Tapi, aku tidak menyesal dipukul Bruce yang aku menyesal aku telah menyakiti banyak wanita.' batin Rico.


Rico hanya menganggukkan kepala. Dia yang dulu pandai merayu Tifani, kini berubah menjadi kaku. Dia mengikuti Tifani keduanya duduk ditepi ranjang.


"Maaf ini kondisi kamarku, tidak ada sofa." cetus Tifani.


"Maaf. Waktu itu aku pergi diam-diam. Sebenarnya aku ingin menghilang tidak mau siapapun mengetahui keberadaanku saat ini. Tapi, aku kalah, aku tidak bisa menjauh dari kalian semua untuk selamanya. Akhirnya, aku yang menelepon kalian lebih dulu." Tifani terkekeh, dia. mengusap lengannya yang mulai terasa dingin.


Rico menatap Tifani, dia refleks melepas mantel dari tubuhnya. Rico berdiri dari tepi ranjang, tangannya memakaikan mantel miliknya dipunggung Tifani, "Pakai ini kamu kedinginan." ucapnya kaku.


Tifani tidak menolak, dia menerima mantel itu. Tifani mengeratkan di tubuhnya.


"Terima kasih. Aku kesini hanya bawa tiga mantelku saja, yang lainnya masih diapartemenku," ucap Tifani.


"Maaf, aku lelaki bodoh. Aku pikir menjauh dari kamu, aku bisa bahagia dengan Putri, tapi tetap saja kakiku menuntun ku kesini untuk mencari kamu." Rico tersenyum getir, di iringi gelengan kepalanya.


"Udah lupakan semuanya. Sekarang jalani kehidupan mu yang sekarang. Kamu benar, waktu itu aku begitu egois. Aku hanya memikirkan perasaan ku saja, karena jujur sebenarnya aku takut kehilangan kamu. Aku tidak rela kamu bertemu dengan Lestari lagi. Maafkan aku, ya." Tifani tersenyum.


"Aku yang salah. Aku yang egois, waktu itu aku tidak bisa memposisikan diriku. siapa aku bagi Lestari, Putri dan kamu." sesal Rico. dia menunduk tanpa ia sadari air matanya jatuh dari sudut matanya, " Waktu itu kamu menelpon aku karena sakit? Tapi, aku mengabaikan kamu. aku benar-benar brengs*ek." Dia ingin memeluk Tifani, tapi dia menahan dirinya. Dia takut Tifani menolak.


"Aku sudah maafkan kamu. Sudah, jangan bersedih lagi, semua sudah terjadi." Tifani mengusap punggung Rico.

__ADS_1


__ADS_2