Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Bunga titipan Lestari


__ADS_3

"Ya, benar.Kata Rico dia tidak bisa menghubungi Tifani." sahut Lestari.


"Lalu, dia menyerah?" sewot Bruce.


Wajar dia marah, bagaimana pun Tifani tetap anak kecil yang dulu dia rawat menjadi seorang dokter cantik dan pintar. Terlepas dari luka yang pernah Tifani torehkan, semua tidak melulu salah Tifani. Karena itu, Bruce sudah melupakan itu semua.


Bruce, sadar seandainya dulu dia tidak egois menyatakan cintanya kepada Tifani pasti dokter itu masih hidup bersama dia sebagai anak dan ayah di mansion besar itu.


Bruce menggelengkan kepalanya. Mungkin, itu garis yang sudah Tuhan tentukan. Mereka dipertemukan lalu berpisah dengan luka lalu bertemu lagi dengan keadaan yang menyedihkan?


"Huft..." Bruce membuang napas kasar.


"Are you okey?" Lestari pikir dia salah bicara tadi.


"Hmmm... aku menyesal." sahut Bruce. Dia menatap Lestari sebentar lalu kembali fokus menyetir.


"Kenapa?" tanya Lestari penasaran.


"Seandainya dulu aku tidak mengikuti perasaanku, aku tidak mengatakan aku cinta dia, aku tidak menginginkan dia. Pasti saat ini dia masih bersama aku di tinggal bersama dimansion sebagai anak dan ayah. Aku terlalu egois." dada Bruce terasa sesak.


" Tuhan, yang membuat skenario itu. Karena, Tuhan ingin kamu dan aku bertemu. Jika, kau tidak mengatakan cinta kepada Tifani. Pasti hari ini kita tidak bertemu sebagai pasangan kekasih. Oke fine, kita pasti bertemu tapi mungkin sebagai klien." Lestari tersenyum.


"Jangan pernah menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Kamu harus yakin Tifani pasti sembuh, jika pengobatan di Spanyol, tidak bisa, kamu bawa dia ke Jerman obati dia disana aku pasti akan selalu mendukung setiap keputusan kamu. Dunia sekarang canggih penyakit kanker ada obatnya dan bisa disembuhkan." Lestari mengusap lengan Bruce. Bibir tipisnya mengulas senyum manis disana, membuat Bruce menelan salivanya dengan kasar.

__ADS_1


"Terima kasih, atas semua kebaikanmu. Maaf, ternyata hubungan kita harus terganggu dengan sakitnya Tifani." Bruce meraih jemari kurus itu, dia menautkan jari-jemari mereka, dia meletakkan diatas pahanya sesekali dia mengecupnya dengan mesra.


"Fokus, setor mobilnya." celetuk Lestari.


Bruce hanya tersenyum. Ia menambahkan kecepatan mobil. Akhirnya setelah tiga puluh menit dalam perjalanan mobil Bruce berhenti didepan rumah Lestari.


Sebelum Lestari keluar dari mobil, Bruce membantu Lestari melepaskan sabuk pengaman. Lalu, dia menahan tengkuk Lestari, ia melayangkan satu kecupan di kening Lestari, perlahan turun ke bibir Lestari.


"Maafkan aku. Tidak bisa mengantar kamu sampai ke dalam rumah. Aku terus jenguk Tifani dulu." Bruce mengusap-usap pipi tirus Lestari.


"Iya aku ngerti. Kamu hati-hati dijalan.Jangan lupa sampaikan salam ku kepada Tifani ya." balas Lestari. Dia mencium punggung tangan Bruce. Kemudian, dia keluar dari mobil. Lestari berdiri disamping mobil Bruce.


"Siap, nanti aku sampaikan. I love you sayang," Bruce melambaikan tangannya.


Bruce melajukan mobil menuju yayasan kanker. Karena, jarak yang lumayan jauh dari rumah Lestari ke yayasan memakan waktu satu jam. Ia, menambah kecepatan mobil 120/ jam. Banyak mobil yang protes dengan kecepatan mobil Bruce ditambah lagi dengan membunyikan klakson mobil


Beep...beep...beep....


Bruce hanya tersenyum lalu melirik lewat kaca spion mobil. Bruce membelokkan mobilnya dengan kasar masuk ke halaman yayasan kanker.


Disana Felix sedang menunggu didepan teras kantor yayasan sembari bercerita dengan kepala yayasan. Melihat Bruce keluar dari mobil, Felix datang menghampiri Bruce.


"Tuan."

__ADS_1


"Hmmm... dimana dia?" Bruce memasukkan kunci mobil ke dalam kantong celananya.


Dia memutar ke arah belakang mobil, mengambil kue kesukaan Tifani dan bunga mawar untuk Tifani di kap mobil.


******


Tadi pas melewati toko bunga dan toko Kue Lestari meminta Bruce menghentikan mobil. Ibu satu anak itu bergegas keluar dari mobil dia berjalan ke arah toko bunga, Lestari membeli sebucket bunga mawar putih campur dandelion. Lestari juga minta di kasih pita warna putih. Tidak hanya di toko bunga saja, Lestari juga menyeberang jalan dia pergi ke toko kue, ia memesan kue kesukaan Tifani tadi didalam mobil Lestari menanyakan kue kesukaan Tifani kepada Bruce.


"Saya pesan cheese cake sedang satu," ucap Lestari kepada pegawai toko kue.


"Baik ibu. Terima kasih." ucap pegawai toko kue itu.


"Sama-sama." balas Lestari.


Kemudian, dia membawa bucket bunga mawar dan kue itu ke mobil. Di sana Bruce sedang menunggu, Bruce pikir bunga dan kue itu untuk Rose atau Filipo. Tapi, Bruce salah semua itu Lestari beli untuk Tifani.


"Tolong, berikan bunga dan kue ini untuk Tifani. Aku yakin dia tahu arti dari dandelion dan mawar putih. Semoga dia terus bersemangat untuk berjuang melawan Kanker dan hidup lebih lama lagi. Aku percaya dia sembuh." Pesan Lestari.Dia meletakkan di kap mobil.


"Terima kasih, kamu masih sempatin beli bunga dan kue.Jujur aku melupakan semuanya ini. Kamu, juga memiliki hati yang luas, dan pemaaf." Bruce bangga menjadi kekasih Lestari.


"Sama-sama. Hidup jangan menyimpan dendam di hati. Jujur, terluka aku masih terluka, tapi untuk apa kita menyimpan luka di hati apalagi dendam. Aku selalu mengingatkan diriku, mungkin Rico jodoh orang yang hanya mampir dihidupku sebentar."


******

__ADS_1


"Nona Tifani di kamarnya. Dia tidak bisa keluar jika ada tamu bisa langsung ke kamarnya." sahut Felix


__ADS_2