
"Sebenarnya ada apa ini? Sepertinya pria ini sangat mengenal kamu, Fan? apa kamu itu___?" Belum juga Rico selesai bicara. Tifani dengan cepat mencium bibir Rico.
"Tidak! Dia yang merasa sok kenal dengan aku," bantah Tifani. Lalu melepaskan bibirnya dari bibir Rico.
Bruce, dan Lestari tersenyum melihat aksi spontan Tifani barusan. Sedangkan, Rico salah tingkah dia berulang kali menghela napas untuk menghilangkan rasa canggung, matanya tidak ingin menatap Lestari atau Bruce.
"Terserah apa kata kau! Aku tidak rugi!" Bruce menggeleng. Dia membalikkan tubuh menuju sofa samping Lestari. Benar, Bruce tidak rugi karena bagi Bruce biaya untuk Tifani selama ini, sudah dia anggap sebagai amal. Tapi, Bruce merasa beruntung karena Tifani dengan mudahnya menyerahkan mahkota berharganya untuk dia.
"Kau, jangan macam-macam!" balas Tifani. Dokter itu menatap tajam Bruce.
"Aku nggak macam-macam. Aku hanya mau satu macam. KAMU JUJUR!!!" Bruce tertawa lalu kembali duduk di samping Lestari. Dia menaikkan satu kaki kiri diatas kaki kanannya, tersenyum sinis.
Tifani gugup dia takut bagaimana kalau Bruce benar-benar bertindak? Dulu saja dia memohon pun Bruce tetap mengusir dia dari mansion apalagi sekarang? Hubungan mereka sudah berakhir. Bruce pasti tidak ragu untuk mengusir dia dari apartemen itu.
'Aku jujur apa ngga ya? Aku nggak mau harus nginap di klinik,' batin Tifani.
Rico tidak tahan lagi dengan sikap berbelit-belit Tifani. Belum lagi Bruce seakan menunjukkan dirinya telah lama mengenal Tifani. Akhirnya dia berdiri dari sofa menghela napas sembari tangannya menarik ujung jas.
"Fani...kamu nggak mau,'kan kita pisah? Jika kamu masih sayang dengan aku maka jawab dengan jujur aja. Jujur sebenarnya aku sangat lelah dengan semua ini." Rico memijit keningnya. Air matanya penuh dipelupuk mata entah apa yang sedang dipikirkan oleh Rico tapi jika dilihat dari wajahnya dia benar-benar sangat lelah.
__ADS_1
Lestari menelan salivanya dengan kasar. Dia juga tidak tega melihat kondisi Rico seperti hari ini.
"Kenapa kamu juga ikutan memaksa aku sayang?" Fani menatap kesal Rico.
Rico mengibas tangan nya dia pasrah dengan sikap Fani yang berbelit-belit.
"Sudah terserah kamu saja. Malam ini aku tidak pulang ke apartemen mu. Aku ingin main dengan Putri kecilku." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Rico. Getaran nadanya menunjukkan dia merindukan balita kecil itu. Sudah lama
dia tidak menyentuh kulit halus bayi itu, sudah lama dia juga tidak mengajak Putri tersenyum. Benar sejak perselingkuhan ini diketahui Lestari, dia tidak ada keberanian untuk dekat dengan Putri. Padahal Lestari tidak mempersoalkan dia dekat dengan Putri. Bagi Lestari ini masalah mereka tidak seharusnya Putri ikut dilibatkan.
Lestari membulatkan mata indahnya dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Apa benar Rico sudah sadar? Atau ini karena Rico lelah dengan sikap Tifani?
"Ya udah aku jujur," cebik Tifani dia menunduk kesal.
Tifani menatap kesal Bruce. Rico berjalan menuju meja kerjanya. Ia duduk di kursi lalu menopang tangannya diatas meja kerja. Pria itu menatap tajam Tifani.
"Jika mau jujur silakan. Atau berubah pikiran nggak mau jujur? Silakan keluar dari ruangan ku. Aku mau kerja, kau tidak lihat banyak berkas yang harus aku periksa?" timpal Rico kesal.
Tifani meremas tasnya. Dia menghela napas, matanya memandangi Bruce dan Lestari bergantian. Jika bukan Rico yang minta dan takut Bruce usir dari apartemen, dia juga tidak mau mengakui perbuatannya. Tifani menganggap jika dia jujur berarti secara tidak langsung dia mengakui kekalahanya didepan Lestari.
__ADS_1
''Iya...ya...aku jujur,'' cebik Tifani.
Bruce menaikkan satu alisnya lalu tersenyum. Dia lucu melihat wajah Tifani yang kesal.
''I...ya aku akui apa yang ada di video itu benar adanya. Aku mengambil nomor si tua bangka itu dari ponsel Rico. Karena, kesal dengan sidang putusan yang sangat lama. Akhirnya aku putuskan untuk menghubungi dia.'' Tifani menunduk dia menggigit bibir bawahnya. Dia juga tidak ingin menatap wajah Bruce, Lestari dan Rico.
Lestari berdiri dari sofa dia menunjuk tepat diwajah Tifani, '' Dasar perempuan tidak tau adab. Enak sekali kau menyebut ayahku dengan tua bangka? Lalu, siapa kau? Pelakor berkulit badak? ck!'' Lestari mengangkat tangan untuk menampar wanita murahan itu. Tapi, Bruce dengan cepat berdiri dan menahan tangan Lestari.
"Sabar, berusaha berada di pihak benar." Bruce mengangguk meminta Lestari duduk lagi.
Lestari berdecih dia menghempaskan tubuhnya kembali ke sofa. Rico berdiri dari kursi, dia datang dan berdiri menatap Tifani.
"Kamu bodoh! Apa kamu tidak berpikir dengan perbuatan mu itu aku memilih pergi?" Rico mengambil laptop dari atas meja sofa. Dia menyimpan File dan mengeluarkan memori kecil itu lalu mengembalikan untuk Lestari.
"Sekarang jawab aku dengan jujur bagaimana Pria ini dengan mudah nya mendapat file ini? Terus sejak kapan ada kamera didalam apartemen? Kenapa aku tidak tau itu?" tanya Rico tegas.
Bruce mengedipkan mata, dia ingin lihat Tifani jujur atau tidak.
"Mungkin dia kenal dengan satpam," jawab Tifani.
__ADS_1
"Nggak mungkin! Berarti selama ini kamu membiarkan satpam masuk didalam apartemen mu? begitu Tifani?" Rico sudah mulai emosi.
"Apa? Kamu menganggap aku murahan? Apa segitu rendahnya aku sehingga kamu menuduh aku dengan satpam?" Tifani menitikan air matanya tangan nya meremas ujung dresnya hingga lusuh. Ia tidak percaya kenapa Rico tega menuduh dia semurah itu? Semua karena Bruce dia harus membuat perhitungan dengan Bruce namun bagaimana caranya?