
Hari ini sesuai perjanjian dokter, Filipo akan melakukan operasi jantung. Asisten dokter sedang sibuk mempersiapkan segala macam persiapan untuk operasi. Di ICU, Rose menunggu dengan gelisah. Dia terus menggenggam tangan Filipo menunggu perawat datang membawa Filipo ke ruang operasi. Takut, kwatir dan sedih rasa yang sudah bercampur aduk sejak semalam dimana dokter Johan mengatakan hari ini akan diadakan operasi pemasangan baterai pada jantung Filipo.
Lestari termenung dikoridor. Bruce terus menemani Lestari. Sesekali Bruce menerima telepon lalu mengembalikan ke kantong celananya.
"Jangan panik ini hanya operasi pemasangan baterai. Paling lama lima atau tujuh jam selesai." Melihat Lestari yang begitu gelisah Bruce berusaha menenangkan Lestari.
Bruce percaya kinerja dokter dan rumah sakitnya karena semua dokter yang bekerja di rumah sakit milik dia, bukan dokter kaleng-kaleng. Terbukti rumah sakitnya bersaing ketat dengan Leticia Hospital mengenai kualitas pelayanan terbaik di Spanyol.( Cie othornya kangen Leticia 🥺)
"Iya, tapi aku tetap kwatir. Ayah itu sosok yang sempurna di mata aku dan bunda. Aku ngg bisa ngebayangin jika harus kehilangan ayah sekarang.Jujur aku belum siap!" Matanya berkaca-kaca menatap Bruce.
"I know." Bruce memejamkan matanya rasanya dia ingin sekali memberi pelukan untuk menenangkan wanita ini. Tapi, dia tidak memiliki keberanian. Ia ragu suatu saat dia patah hati lagi seperti kemarin dimana dia sulit menerima kembali wanita untuk hadir dalam hatinya lagi. Beruntung bertemu Lestari hatinya kembali bergetar.
"Aku juga bingung hari ini putusan perceraianku juga, semoga semuanya berjalan dengan lancar." lirih Lestari.
"Kita berdoa semoga semua berjalan sesuai harapan kamu," celetuk Bruce.
"Semoga. Aku berharap begitu. Biar aku bisa tenang urus anak dan kerja," sambung Lestari.
"Jangan lupa juga, kamu harus memberi jawaban soal ungkapan aku kemarin," celetuk Bruce.
Lestari tersenyum dia sangat malu dengan ucapan Bruce barusan. Tapi, dia juga bersyukur disaat dia butuh teman curhat ada Bruce yang setia menemani dia.
"Jangan kwatir. Aku selalu ada disini menemani kamu." Mata Rose mulai berembun rasanya dia ingin menangis.
"Dimana Tari?" Filipo mengedar mencari keberada Lestari diruangan itu.
__ADS_1
"Tari dikoridor,'kan nggak boleh masuk bersamaan, harus gantian Ayah," jelas Rose.
"Oh...Ayah lupa.Titip Tari jaga dia baik-baik. Ayah menyesal__"
"Udah Ayah fokus operasi saja. Nggak usah mikirin Tari, dia baik-baik saja. Ayah tau,'kan putri ayah itu kuat.Hm?" potong Rose.Dia sudah tau tujuan suamin itu. Bagi Rose saat ini fokus kesehatan Filipo, mengenai Lestari dia sudah iklas anaknya menjanda. Iya'kan mau berusaha bagaimana pun sama saja Lestari yang menginginkan perceraian ini karena tidak mau diduakan Rico.
Filipo memejamkan matanya, sembari menganguk. Butiran kristal itu jatuh dari sudut matanya. Ia berulang kali menghela napas sulit menerima kenyataan ini, kenyataan Rico telah kepincut dengan wanita lain.Lebih menyesakkan lagi Lestari sudah jujur dia dalam proses perceraian. Sial yang beruntun dalam kehidupan Filipo.
"Ayah..." Rose memanggil Filipo.
"Hmmm..."
"Are you okey, dad?" tanya Rose. Dia mengecup kening Filipo.
"Kamu harus bisa melewati semua ini dengan baik.Cepat sembuh demi aku, Lestari dan Putri." Rose mengecup punggung tangan suaminya.
Filipo mengusap lembut rambut Rose, " Yeah..aku harus bertahan untuk menyelesaikan semuanya dulu," sahutnya penuh lirih.
Tok...tok...tok...
Perawat mengetuk pintu.
Rose berdiri dari kursi.
"Maaf Bu. Pak Filipo harus segera dibawa ke ruang operasi," ucap perawat.
__ADS_1
"Silakan sus." Rose menatap dalam Filipo.
Filipo memejamkan mata. Dia ingin istrinya tenang.
****
Sementara dikoridor Lestari tidak tenang. Dia berdiri di pembatas kaca menatap Filipo. Bruce sedang berbicara serius dengen seorang dokter salah tim dokter untuk pemasangan baterai pada jantung Filipo.
"Dok, saya harap operasi ini harus sukses.Jika tidak, maka siap-siap untuk melepas gelar doktermu itu. Saya tidak main-main," ancam Bruce.
Ya, siapa sih yang tidak mengenal Bruce. Pria berwajah dingin itu.Dia tidak banyak bicara namun sekali bertindak semua usai dalam sekejap. Dokter itu memejamkan matanya.
"Saya tidak berjanji namun saya akan usahakan sebaik mungkin," jawab dokter.
"Okey.. semoga sukses. Sampaikan pesan saya ini juga kepada dokter Johan," pesannya pada dokter itu, seraya menepuk bahu dokter itu dengen lembut.
Melihat Filipo didorong menuju ruang tindakan, Bruce mengangguk pada perawat yang mendorong Brankar itu.Perawat yang sudh paham kode dari Bruce menghentikan langkahnya dia memberi waktu untuk Lestari mengecup kening Filipo.
"Ayah...Harus sembuh.Harus bisa demi Tari, dan Putri." Lestari menempelkan keningnya dikening Filipo air matanya sudah jatuh membasahi pipinya.Dia takut sosok yang dibanggakan pergi meninggalkan dia untuk selamanya.
Lestari memang paling takut operasi karena itu waktu dia melahirkan Putri, Tari berusaha untuk melahirkan normal.
"Iya sayang...Ayah janji. Doain Ayah ya," sahut Filipo.
"Itu pasti Ayah." Lestari mengangkat kepalanya dia menyeka air matanya. Bruce hanya diam menyaksikan drama Ayah dan Putrinya itu. Sedikit merasa iri karena dari lahir Bruce tidak pernah merasakan apa itu kasih sayang. Hidup di panti asuhan lalu berkelana sendiri di jalanan hingga membawa dia dalam dunia hitam., membuat Bruce sama sekali tidak merasakan apa itu kasih sayang orang tua. Hatinya mati bak es balok di Antartika. Namun, ia mencair saat bertemu Tifani namun semuanya hanya sementara dan meninggalkan luka yang mendalam.
__ADS_1