
Tifani mendoangak dia menatap Bruce, kedua alisnya saling bertaut.
''Nggak, Fani nggak sakit. Fani hanya ditegur Tuhan. Mungkin selama ini Fani melupakan Dia, Fani terlalu sibuk dengan kesenangan dunia.'' Tifani melingkarkan tangannya di leher Bruce.
''Tidak, Aku yang akan bicara dengan kepala yayasan. Aku yang minta kamu hari ini harus pulang bersama aku.'' tegas Bruce.
''Ayah, kenapa senang sekali mengambil keputusan sepihak?" Tifani mencebik.
''Ya, semua demi kesehatan kamu. Di sini, kamu hanya berobat seadanya, selebihnya kamu dibimbing untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Oke, ayah tahu berdoa itu penting dan wajib sebagai umat beragama. Namun, berobat itu pun harus, karena obat yang bisa menyembuhkan sakitmu selain berdoa.'' Bruce menaikkan kedua bahunya sembari menggelengkan kepala, '' Tapi kmu harus segera dioperasi,'' suara Bruce melemah.
Dia menatap Tifani, ada perasaan bersalah di hatinya, dia sedih,telah mengusir Tifani, menyesal karena sempat membuat jarak antara mereka dengan bodohnya dia, obsesinya dia menyatakan cinta kepada Tifani.
''Seandainya dulu pria bodoh ini tidak terobsesi pasti kamu sudah sembuh, kamu tidak sampai menderita. Ayo, turuti permintaan ayah.'' Bruce lebih nyaman menyebutnya sebagai ayah.
''Jangan mengungkit masalalu lagi. Mungkin dulu ayah hanya ingin Fani hanya untuk ayah, dunia Fani ya dunia Ayah tapi sebenarnya itu hanya ketakutan dan obsesi ayah saja.Lupakan itu aku tidak menyesal.'' Tifani tersenyum.
Tifani, turun dari pangkuan Bruce, dia berjalan ke arah lemari pendingin. Tifani mengambil satu botol air mineral tanggung.
__ADS_1
''Maaf, hanya ada air mineral.'' Tifani meletakkan diatas nakas. Tifani duduk di tepi ranjang samping Bruce.
''Pria itu tahu kamu sakit? Dia tahu kamu sekarang disini? Dia pernah menjenguk kamu?'' Bruce ingat percakapan dia dan Lestari di mobil. Dia pikir dia perlu tanya langsung di Tifani. Bruce ingin pastikan ucapan Rico kepada Lestari itu benar atau tidak?
''Nggak, dia tidak tahu. Dia sama sekali tidak tahu aku sakit, aku berada dimana karena sebelum aku sakit kami sudah tidak bertemu lagi.'' Tifani menghela napas, dia sadar semua itu karena kesalaham dia. Rico marah dengan sikap dia yang berlebihan.
Bruce mengepal, "Kenapa dia berbohong?" Bruce mengeraskan rahangnya.
"Bohong? Siapa yang bohong?" Tifani penasaran. Dia menatap wajah Bruce.
"Hmmm..." Tifani menghela napas.
"Mungkin dia mencari aku setelah aku pergi dari apartemen." Tifani tersenyum.
"Aku sempat meminta dia ke apartemen untuk menemani aku ke dokter. Sayangnya, waktu itu aku tunggu sampai sore dia tidak datang, akhirnya aku putuskan untuk tidak menghubungi dia lagi. Mulai saat itu aku menghilang dari dia sampai sekarang." Tifani tersenyum.
"Lupakan dia. Kamu masih cantik masih banyak pria yang mencintai kamu. Sekarang fokus sembuhkan sakitmu." Bruce meraih tangan Tifani, dia menautkan jari mereka.
__ADS_1
"Aku, sudah nyaman disini."
"Tidak. Kamu harus pulang kita segera cari rumah sakit terbaik. Aku tahu kamu pasti tidak akan mau berobat di rumah sakitku. Kita akan cari rumah sakit yang lain untuk melakukan operasi jika di Spanyol tidak ada kita akan terbang ke Jerman." ujar Bruce.
"Kata Felix kamu stadium tiga? Apa itu benar?" Bruce menatap dalam wajah Tifani.
"Belum luka, baru benjol menurut diagnosa dokter stadium tiga." lirih Tifani.
"Lalu, mengapa kamu kerasa kepala?"
"Aku malu, aku merasa tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua dari ayah. Aku sudah melukai ayah, sudah membuat harga diri ayah jatuh. Mengapa ayah masih saja datang mengunjungi aku, mau mengobati aku? Harusnya biarkan saja aku mau jadi apa nantinya." Tifani terisak, Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Malu, mengingat lagi kejadian itu sedih melihat wajah Bruce yang tulus ingin mengobati dia. Walaupun dia tahu Bruce sudah tulis memaafkan dia tapi tetap saja dia merasa bersalah dan menyesali perbuatannya.
Bruce menghela napas, " Aku bukan orang jahat. Jangan berpikir aku hidup di dunia hitam jadi tidak memiliki hati, aku masih ada rasa kemanusiaan. Bagiku kesalahan mu karena keegoisan aku. Sebagai seorang yang pernah merawat kamu dari kecil harusnya menganggap kamu anak tapi justru aku khilaf jadi wajar kamu menyakiti aku. Aku tidak membenci ataupun ada dendam sama kamu. Justru aku akan marah jika kamu tidak pulang bersama aku. Ayolah, kita berobat kamu harus yakin kamu pasti sembuh. Apa kamu nggak mau lihat aku memiliki anak karena sebentar lagi aku mau menikah dengan Lestari." Bruce tersenyum dia mengusap ujung kepala Tifani.
Tifani kaget, hatinya seperti diremas begitu sakit. Dia mengerjap menatap Bruce.
"Benarkah begitu?" lirihnya.
__ADS_1