
"Dia siapa, katakan!" Bruce meremas jemari Lestari. Hingga wanita disampingnya yang tidak tahu apa-apa menarik tangannya karena kesakitan.
[Dia, Nona Tifani]
Suara Felix melemah dia takut Bruce marah.
"Mengapa dia berada disana?"
["Nona Tifani sedang proses penyembuhan dan pengobatan kanker.]
"Hah? Kanker? Kau tetap awasi dia disitu satu jam lagi saya akan tiba disana." Hati Bruce seperti diremas-remas matanya memanas dia menahan buliran bening air matanya, lalu ia menghela napas lalu menatap Lestari.
"Ada apa? Kau seperti mencemaskan sesuatu?" tanya Lestari hati-hati.
"Tifani sakit, dia sementara berada di yayasan peduli kanker." jawab Bruce jujur. Bruce, pria yang selalu berpegang pada kejujuran, dia tidak ingin karena Tifani lalu dia membohongi Lestari karena bagi Bruce Lestari masa depan dia sedangkan Tifani hanya masa lalu dia. Namun, saat ini yang membuat Bruce bingung dia harus mengatakan apa kepada Lestari. Karena sekarang juga dia harus pergi ke yayasan Kanker.
"Apa ada yang ingin kamu bicarakan? Bicaralah aku tidak apa-apa." Lestari tersenyum, dia meraih tangan Bruce lalu menggenggamnya. Lestari sudah mengetahui semua kisah Tifani dan Bruce. Jadi, dia tidak kan pernah cemburu bagi Lestari wajar Bruce kwatir tentang kondisi Tifani.
"Itu, aku harus ke yayasan. Apa kamu masih ingin menonton filmnya?" tanya Bruce hati-hati.
Bruce benar, apapun keputusan yang dia dia harus berkata jujur kepada Lestari. Karena, Lestari yang selama ini ada disampingnya setelah pengkhiatan besar yang Tifani berikan kepada dia. Lestari, yang meyakini dia jika cinta itu ada.
"Aku sebenarnya masih mau nonton, ingin tahu endingnya bahagia atau sad ending. Tapi, jika kamu ada urusan kita bisa pulang sekarang. Mengenai filmnya gampang, dunia sekarang modern aku bisa menontonnya lewat internet.'' jawab Lestari tenang.
Lestari berdiri dari kursi dia meraih tasnya lalu menenteng dibahunya.
''Ayo, kita pulang.'' Lestari tersenyum.
__ADS_1
"Kamu tidak marah, 'kan?" Bruce mengusap rambut Lestari.
"Kenapa harus marah? Aku sudah jujur lalu apa lagi yang harus membuat aku marah kamu?" tanya Lestari.
"Acara nonton bersama gagal dan menemui Tifani,"
"Masalah nonton itu gampang, mengenai menemui Tifani? aku ngga adalah karena kamu sudah izin aku. Jika kamu ingin menyakiti aku kamu tadi langsung berangkat tanpa meminta izin dulu kepada aku. Pergilah, dia butuh kamu. Aku yakin dia selama ini mencari kamu, jangan kamu pertahankan egomu, tapi pikirkan dia anak kecil yang dulu kamu rawat menjadi seorang dokter cantik.Temui dia dan beri semangat hidup untuk dia. Aku, tetap mendukung kamu apapun keputusan kamu nantinya." Lestari tersenyum dia menatap wajah Bruce yang seketika berubah menjadi dingin dan misterius.
"Baiklah. Kita, pulang. Aku janji aku akan membayar utang ini di lain waktu. Maafkan aku ya," Bruce menggandeng tangan Lestari.
Keduanya berjalan keluar dari teater. Bruce terlihat begitu gelisah, dia merangkul bahu Lestari.
''Aku pulangnya dengan taksi aja. Kamu berangkat saja ke yayasan, sampaikan dukunganku untuk Tifani, semoga ada keajaiban dalam hidupnya. Aku tidak janji kapan bisa menjenguk dia tapi aku pasti akan datang menemui dia disana.'' Lestari tersenyum lagi.
Bruce kagum dengan kebesaran hati Lestari. Karena, Tifani, wanita yang pernah menjadi duri dalam rumah tangganya yang me yebabkan perceraian mereka. Namun, Bruce sama sekali tidak melihat ada kebencian dimata Lestari.
Ting...
Lift berhenti, keduanya masuk ke lift. Dia dalam lift Bruce masih diam, sesekali dia tersenyum menatap Lestari lalu membawa Lestari masuk ke dalam dadanya.
"Maaf, jika aku boleh tanya. Apa selama ini kamu benar-benar putus komunikasi?" Lestari heran saja kenapa Bruce tadi terlihat begitu kaget dan sedih.
"Ya, kami sudah putus komunikasi, dari sejak aku usir dia pergi dari mansionku. Sejak itu aku sama sekali tidak mau berkomunikasi dengan dia. Benar dia pernah berulang kali menghubungi aku tapi aku tidak pernah menerima panggilan dari dia." jujur Bruce.
"Kenapa kamu tega sekali? Kamu tidak tau, jika ada seseorang menghubungi kita itu karena mereka ada keperluan dengan kita. Bisa saja waktu itu dia ingin meminta maaf, atau memberitahu kamu jika dia menderita kanker." jelas Lestari.
"Ada hati yang harus aku jaga." sela Bruce tersenyum.
__ADS_1
`
Wajah Lestari berubah seperti kepiting rebus ketika mendengar ucapan Bruce barusan. Lestari penasaran seberapa pentingkah dia untuk Bruce?
"Hati siapa?" tanya Lestari. Dia ingin tahu pasti siapa wanita itu?
"Kamu. Walaupun aku tahu waktu itu kamu belum membalas cintaku tapi aku yakin suatu saat kamu pasti menerima aku."
"Terima kasih," Lestari melingkarkan tangannya di pinggang Bruce.
"Sama-sama." balas Bruce
Ting...
Lift berhenti keduanya keluar lalu berjalan menuju lobby. Mobil Bruce diparkir didepan mall di parkiran VVIP. Keduanya berjalan menuju mobil Bruce, sesampainya di mobil.
"Aku pesan taksi saja.Kamu sekarang segera ke yayasan." ucap Lestari.
"Masuk. Aku antar kamu dulu barulah aku pergi ke yayasan. Aku tidak akan rela wanitaku pulang dengan taksi." tegas Bruce.
"Baiklah." Lestari pun masuk kedalam mobil. Begitupun dengan Bruce. Setelah duduk, keduanya memasang sabuk pengaman dengan baik. Bruce segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Aku dua hari lalu pernah tanya Rico mengenai hubungan mereka. Tapi, Rico mengatakan dia sudah putus komunikasi dengan Tifani.Dia juga selama ini mencari Tifani namun dia tidak menemukan Tifani di apartemen atau pun klinik milik Tifani. Bisa, saja sakit Tifani sudah lama karena mereka juga sudah lama tidak tinggal bersama." cerita Lestari, dia sangat berhati-hati karena kwatir Bruce Salah paham.
"Jadi, selama ini Rico juga tidak tahu Tifani kemana?" Bruce meremas setirnya begitu kencang.
Dia kecewa mengapa Rico tidak berusaha mencari Tifani samapai dia menemukan Tifani? Bukannya dulu mereka berpisah tujuh tahun tapi Rico berusaha mencari sampai menemukan Tifani? Lalu, mengapa disaat Tifani terpuruk Rico seakan lepas tangan?
__ADS_1
'Brengsek! aku akan membuat perhitungan dengan kau.' batin Bruce