
Sementara di kantor ada seorang wanita sedang berdebat dengan resepsionis.
"Saya calon istri dari Presdir perusahaan ini," Tampak wanita itu terus saja berbicara. Sedangkan, resepsionis itu hanya tersenyum.
"Maaf. Bisa anda tunjukkan bukti? Karena, Presdir di sini sudah berusia 70 tahunan lebih. Beliau juga saat ini sedang sakit. Dia memiliki satu orang anak tapi anaknya seorang perempuan bukan laki-laki," tegas resepsionis.
"Okey, Saya akan menghubungi calon suami saya. Awas, akan saya suruh pecat kalian semua." Wanita itu menunjuk pada resepsionis serta security yang sedari tadi mengawasi dia.
"Ruangan kamu berada dilantai berapa? Kenapa, Resepsionismu sangat kurang ajar?" tanya wanita itu melalui sambungan telepon.
Pria yang sedang sibuk mengecek proposal itu. Meletakkan kembali ponselnya diatas meja secara kasar. Dia keluar dari ruangan nya.
"Kamu, tolong jemput tamu saya, bawa dia ke ruangan saya," perintah Rico pada sekretarisnya.
Namun, tiba-tiba suara itu muncul dari pintu lift. Dia melangkah datang dengan hentakan bunyi sepatu terdengar ia sangat kesal.
Tak...tak...tak
"Nggak usah, saya sudah disini!" Wanita itu berjalan begitu angkuh. Dia yang dulu terkenal memiliki sikap manis nan sopan kini berubah menjadi wanita yang sama sekali tidak memiliki etika.
Rico, melebarkan matanya. Dia menatap wanita itu dengan seksama. Masih berharap semoga ini hanya halusinasi dia saja. Mungkin, karena kangen atau karena perdebatan mereka tadi pagi sebelum dikantor? Rico pikir telepon tadi hanya ancaman Tifani. Namun, benar. Dokter cantik itu benar-benar berada didepan dia saat ini? Wanita itu langsung masuk melewati Rico dan sekretaris Rico, yang masih kebingungan didepan pintu ruangannya.
Lalu, Rico mengangkat kedua tangannya. Dia pun segera masuk menyusul Tifani. Bukannya langsung memeluk Rico seperti biasanya lalu bermanja-manja.Tifani langsung menatap tajam Rico.
__ADS_1
"Ouh...Jadi kamu bukan Presdir dari perusahaan ini?" Wanita itu mendudukkan tubuhnya begitu kasar di sofa dengan dua tangan dilipat di dadanya. Wajahnya sudah seperti harimau yang ingin menerkam musuhnya.
"Sayang? Kenapa datang tidak kabarin dulu?" Rico berusaha selembut mungkin.
"Nggak. Jika, aku kabarin pasti kamu akan melarang aku lagi untuk tidak boleh datang." Tifani masih memalingkan wajahnya.
Rico berjalan ke arah kulkas dia mengeluarkan minuman lalu meletakkan diatas meja, " Minum dulu." suruh Rico. Lalu, dia mendekati Tifani. Rico pun duduk disamping Tifani. Dia memeluk dokter itu dengan lembut. Kemudian, mencium ujung kepala Tifani.
"Kenapa, suka sekali memikirkan hal yang aneh-aneh? Hari ini, kerjaan aku banyak sekali, ditambah lagi proses sidang perceraian ku yang kedua. Jika, kamu benar-benar sayang dengan aku, cobalah mengerti posisi aku sebentar saja," Rico mengusap kasar wajahnya.
Rasanya dia ingin mengatakan dia tidak suka ditekan seperti ini. Dia ingin bilang jika perusahaan ini milik Lestari. Namun, Rico masih ragu, dia takut Tifani meninggalkan dia. Tapi, wait! Bukannya dulu Tifani tidak peduli Rico mengemban jabatan apa? Bukannya Tifani hanya ingin cinta dan tanggung jawab Rico. Karena, perselingkuhan mereka. Sehingga menyebabkan Bruce mengusir dia serta mengambil lagi semua yang sudah dia miliki? Atau karena kini dia tidak memiliki apa-apa lagi selain mobil dan apartemen serta klinik, wanita itu jadi tamak?
Mungkinkah?
Sementara di rumah sakit Lestari masih diam saja. Bruce terus menatap wajah Lestari, dia sama sekali tidak mau berpaling dari wajah itu.
"Tari?" Bruce memanggil sekali lagi.
Tari menarik napasnya, bibirnya melengkung indah. Mungkin, dia harus menyerah mempertahankan prinsipnya?
"Hmmm...Benar. Banyak sekali perubahan dan kejadian yang terjadi pada diriku. Aku ingin bertanya, boleh?" Akhirnya Lestari pun bersuara.
Bruce mengangguk. Dia memberi ruang untuk wanita itu berbicara.
__ADS_1
"Silakan!"
"Tadi saya diberitahu oleh security rumah sakit ini.Dia mengatakan saya dipanggil oleh dokter ahli jantung.Jadi, bagaimana dengan kondisi Ayah sekarang?" tanya Lestari.
Dia datang ke ruangan ini untuk mendengar hasil diagnosa ayahnya.Bukan membahas masalah pribadi yang terjadi saat ini.
Bruce tersenyum, dia berdiri dari sofa lalu melangkah ke meja kerjanya. Dia mengambil paper bag itu kemudian kembali ke arah Lestari.
"Tolong di terima, ini hadiah dari aku buat kamu dan Putri." Bruce meletak'kan papaerbag diatas meja sofa. Dia tersenyum. Lestari menatap Bruce penuh tanya.
"Kenapa repot-repot?" tanya Lestari. Dia meraih paperbag lalu melirik ke dalam, benar ada dua bungkusan besar.
"Tidak repot. Itu hanya ada di Rusia." Bruce tersenyum sedikit merasa lega karena Lestari tidak menolak hadiah dari dirinya.
"Terima kasih. Tapi, saya yakin ini pasti sangat mahal. Kita baru bertemu sekali tapi kenapa kamu begitu baik terhadap saya?" tanya Lestari berkaca-kaca.Saat ini dia sedang membutuhkan bahu, untuk melepas semua beban yang selama ini dia pikul dan sembunyikan dari semua orang.
"Jangan dilihat dari harganya. Karena, seberapa pun harganya jika tidak tulus maka akan sia-sia. Aku tulus membelikan ini untuk kalian berdua. Oya? aku boleh tanya?" Bruce kembali mengalih kan pembicaraan karena dia tidak ingin wanita cantik ini menangis.
"Iya, tanya saja," lirih Lestari.
"Maaf. Sebelumnya jika aku tidak sopan meminta kamu ke sini dengan alasan dokter yang ingin bertemu. Aku bukan dokter Johan. Tapi, aku pemilik dari rumah sakit ini. Itu yang pertama, biar kamu tidak memikirkan hal yang aneh tentang aku lagi," Bruce tersenyum.
Mendengar pemilik rumah sakit. Lestari makin penasaran siapa sosok Bruce? Kenapa, pria ini seperti puzzle?
__ADS_1
"Aku, meminta kamu ke sini karena aku mengetahui sesuatu.Tadi, aku rapat di kantor aku dan investor di kantor kamu itu dari perusahaan aku, jauh sebelum aku mengenal kamu." Bruce pikir dia harus jujur agar ketika dia menunjukkan video itu Lestari tidak kaget.