Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Permintaan Tifani.


__ADS_3

"Maafkan aku.Kamu sakit karena sikap egois aku, karena perbuatan aku." Rico memeluk Tifani, bahunya sudah bergetar hebat. Rico tidak peduli dikatain pria cengeng. Yang dia tau, dia laki-laki breng*sek tidak tahu diri, suka menyakiti wanita.


Rico mengeratkan pelukannya, dia mencium punggung belakang Tifani. Rico mencium aroma tubuh yang dulu membuat dia tergila, aroma itu masih sama. Dia mengusap lembut kepala Tifani, "Pasti sakit banget, hmm?" Rico membiarkan air matanya membasahi bahu Tifani.


"Lebih sakit awal-awal aku kehilangan kamu. Aku sempat berpikir pendek untuk mengakhiri hidupku. Aku pikir sia-sia aku hidup. Semua yang aku cintai perlahan menjauh dan menghilang dari aku. Waktu itu aku depresi berat hingga akhirnya aku memutuskan meninggalkan semua kenangan kita diapartemen itu, aku pilih hidup di yayasan ini. Disini selain berobat aku juga menemukan jati diriku yang sebenarnya, aku perlahan mulai mengerti dan belajar iklas tentang semua yang terjadi dihidupku. Benar kata pepatah 'apa yang kau tabur maka itulah yang kau tuai' Mungkin saat ini aku sedang terima apa yang dulu aku tabur." Tifani tersenyum getir.


"Jangan, jangan berkata begitu.Kamu, tidak salah. Aku lah biang dari semua ini. Maafkan aku, harusnya aku yang sakit, harusnya aku yang tinggal disini. Karena, aku telah melukai banyak hati yang tidak bersalah." Rico memegang kedua bahu Tifani, dia memajukan tubuh Tifani. Ia menatap wajah Tifani, sorot matanya menatap tajam wajah kurus itu, " katakan aku harus bagaimana untuk menebus semua kesalahanku?" Dia memegang erat kedua bahu Tifani.


"Kamu harus berubah menjadi orang yang lebih baik, lebih bermanfaat dan terutama menjadi ayah yang dibanggakan Putri. Kamu, sudah minta maaf di Lestari? Aku ingin sekali bertemu wanita itu, aku ingin minta maaf secara langsung di dia." Tifani tersenyum. Bicara tentang Putri, Tifani ingat keinginan dia tadi siang.


"Sudah. Aku sudah minta maaf di Lestari, benar katamu dia wanita hebat, Lestari bukan wanita pendendam, dia hanya tegas pada pendiriannya. Mengenai Putri, aku juga sering kali minta maaf di dia, sekarang aku sedang berusaha menebus semua waktu yang dia lewati tanpa aku," Rico mengangguk. Benar, Rico sekarang sedang berusaha menjadi ayah yang baik, membayar kembali waktu yang dulu dia sia-siakan untuk Putri.


"Ah...aku hampir lupa, aku punya satu permintaan, boleh?" sela Tifani. Dia ragu-ragu untuk mengatakan.


"Apa itu? katakan, aku pasti akan penuhi permintaanmu. Asal_ jangan meminta aku untuk mengambil bintang aku pasti tidak bisa," canda Rico.


"Candamu garing, aku hanya ingin bertemu Putri." pinta Tifani. Dia menunduk malu, "Tapi jika aku tidak pantas, maka abaikan saja permintaan anehku ini, anggap saja kamu tidak pernah mendengarnya." sambung Tifani lagi.


Rico kaget, kemudian dia tertawa, "Sangat bisa. Bagaimana, besok aku ajak dia kesini?" Rico begitu antusias. Dia ingat waktu di kebun binatang Putri sempat mengatakan Papi kapan punya Tante seperti Mami?


"Mami punya Tante?" sahut Rico bingung.


"Bukan. Mami punya paman Bruce jadi kemana-mana kami bertiga." jelas Putri.


"Ah... Itu nanti. Sekarang ini Papi hanya ingin bersama Putri aja." Rico tersenyum.


"Terserah papi aja." Putri mencebik.

__ADS_1


*****


"Boleh, tapi jam berapa?" Lirih Tifani.


"Kenapa?" Rico mengernyit.


"Besok aku diajak ke Jerman." sahut Tifani.


"Jerman? Apa kamu mau ingin menjauh lagi dari aku? Apa permintaan maaf ku tadi kurang cukup? Jika kurang, katakan aku harus bagaimana untuk menebus kesalahanku?" Rico menatap Tifani.


"Bukan seperti itu. Aku diajak ayah maksudku ayah Bruce untuk berobat di Jerman," jelas Tifani.


"Oh begitu, aku sedih jika ditinggal kamu lagi. Jangan pernah berniat pergi dari aku lagi, kita akan bersama merawat sakitmu hingga kau sembuh, hmm?" Rico meraih tangan Tifani, dia menautkan jemari mereka. Rico menatap jemari yang kini sudah kurus dia berkali-kali mencium punggung tangan Tifani.


"Jam berapa?" Berbicara Bruce, Rico tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah.


"Kalau begitu izinkan aku malam ini menginap disini? Aku janji sebelum Bruce datang aku sudah pergi dari sini." Rico meremas jemari Tifani.


"Aku tanya kepala Yayasan dulu. Aku tidak ingin menyalahkan aturan yang ada disini. Lagian, aku tidak yakin kamu bisa nyaman tidur di ranjangku yang sederhana ini."


"Kamu ini bicara apa? Aku juga dari desa, orang tuaku jauh lebih miskin dari kamu. Aku beruntung karena menikah dengan Lestari." jujur Rico.


Rico, pikir mungkin saat ini dia harus jujur kepada Tifani siapa dia sebenarnya. Karena, selama ini Tifani tahu, Rico itu pemilik perusahaan. Rico itu pria kaya raya. Dia tidak mau Tifani mendengar dari mulut orang lain tentang keadaan dia yang sebenarnya.


"Maaf tidak bermaksud mengungkit masalah keluargamu," tutur Tifani.


"It's oke dear! Aku juga ingin menceritakan semua tentang aku kepada kamu. Aku tidak mau kamu dengar dari orang lain tentang aku yang sebenarnya." sahut Rico. Dia menunduk malu.

__ADS_1


"Cerita apa?" Tifani menautkan kedua alisnya.


"Tentang aku, kehidupan aku. Kamu mau mendengar?" tanya Rico memastikan.


Tifani mengangguk, bibir tipisnya mengulas senyum indah.


"Aku bukan pria kaya raya. Aku hanya menjabat sebagai CEO diperusahan ayah Lestari ' Ayah Filipo'. yang kapan saja bisa dipecat. Orang tua Lestari yang waktu itu membiayai kuliah aku. Karena, ayahku orang kepercayaan tuan Filipo." Rico meraih cangkir lalu meneguk air mineral hingga tandas. Berkata jujur tentang dirinya membuat tenggorokannya kering, tangannya panas dingin.


"Terus," Tifani menatap Rico.


"Ahh...aku lanjut ya?" Rico tersenyum.


"Hmm...aku ingin mendengar semuanya."


"Baiklah."


"Aku dan Lestari sudah bersama sejak dia kecil karena umur kamu yang terpaut sangat jauh. Waktu itu Lestari lahir usiaku lima tahun, jadi kemanapun dia berada disitu aku ada sebagai pelindung dia. Karena kebersamaan itu kami saling jatuh cinta dan kebetulan juga kami sudah dijodohkan dari Lestari masih didalam perut. Jadi, pernikahan kami waktu itu semua berjalan mulus tanpa ada halangan apapun." Rico menghela napas.


"Kamu, tidak merasa bersalah mengkhianati pernikahan kamu waktu itu? Kamu waktu mengatakan cinta kepada aku.Tapi, waktu itu kamu sudah menjadi kekasih Lestari." Tifani menghela napas.


"Benar. Aku jatuh cinta kepada kamu. Karena di universitas itu hanya kamu gadis yang cerdas.Kamu bukan hanya cantik tapi kamu juga baik hati." Rico menunduk.


"Tapi, kamu sudah memiliki kekasih." Tifani berdiri dia berjalan ke lemari tangannya meraih dua buah pigura berukuran 7x8. Dia mengusap pigura itu. Lalu kembali lagi keranjang, duduk bersebelahan dengan Rico lagi.


Tifani menunjukkan pigura kepada Rico. Tampak seorang wanita tua, berbaring lemah diatas tumpukan kardus, disamping wanita tua itu ada gadis kecil dengan tampilan kucel, rambut acak-acakan gadis itu tampak tidak pernah mandi.


"Kamu, tahu siapa gadis dan wanita dipugura ini?" tanya Tifani terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2