Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Bertemu


__ADS_3

''Sama-sama. Maaf, saya tidak menemani tuan. Saya, pamit keruangan saya.'' ujar Ibu Lucy.


''Baiklah.'' Bruce mengangguk mengerti.


Bruce melangkah dengan yakin, kedua tangan membawa bunga dan kue titipan dari Lestari, ke kamar Tifani. Di depan pintu wanita itu itu sudah meneteskan air matanya, bahunya bergetar hebat, tubuhnya seperti tidak bertulang, kedua tanganya memegang sisi pintu untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh. Sesak rasanya, pria yang ia sakiti, benar-benar datang menemui dia.


Tifani ingin menutup pintu, dia ingin berlari menjauhi Bruce, tapi kakinya tidak ingin beranjak dari pintu itu. Hatinya, pun menginginkan dia untuk bertemu Bruce.


''Ayah," Air matanya luluh membasahi pipinya. Dia bersimpuh dibawah kaki Bruce.


"Makasih, Ayah sudah meluangkan waktu menemui aku." Ia mendoangakkan kepala menatap Bruce, dengan butiran kristal terus saja berderai membasahi pipinya.


Bruce memejamkan matanya, " Fani, bangun!" Tifani menggelengkan kepala, dia menolak berdiri. Tifani melakukan itu untuk mendapatkan maaf dari Bruce.


"Fani, berdiri malu dilihat orang." Bruce menatap langit-langit kamar Tifani.


Melihat Bruce yang menghela napas berat, Tifani akhirnya berdiri. Dia melingkarkan kedua tangannya dipinggang Bruce, "Ayah."


"Hmmm..." Bruce menatap Tifani yang kini lebih kurus, wajahnya yang dulu glowing berubah jadi pucat, pipinya tirus, kuku lentiknya kini tidak lagi terlihat.

__ADS_1


''Ini, ada titipan bunga dan kue dari Lestari. Baca kartunya nanti saja setelah saya pulang.'' pesan Bruce.


Tifani menelan salivanya dengan kasar, tangannya ragu menerima bunga dan paperbag itu, tapi Bruce memberi isyarat dengan gerakan kepala dan matanya, "Baik." ucap Tifani.


"Terima kasih. Bunganya sangat cantik, begitu juga artinya sangat menginspirasi. Kuenya juga enak. Lestari wanita hebat dia mau memaafkan saya, yang sudah menghancurkan rumah tangga dia." Tifani mencium wangi mawar dan dandelion itu.Lalu menghirup aroma kue dari paperbox. Air matanya pun menetes lagi, dia sudah melupakan masalah itu namun kiriman Lestari mengingatkan dia lagi.


"Sama-sama. Jangan bersedih lagi." balas Bruce.


"Baik." Tifani menunduk malu.


"Ayah, duduk di tepi ranjang saja. Maaf, kamar aku nggak ada kursi." Tifani menunduk malu.


Tifani duduk tepi ranjang tapi ia menjaga jarak, ''Apa kau betah disini?'' sikapnya masih dingin.


''Aku sangat bahagia tinggal disini. Di tempat ini aku banyak belajar, aku juga lebih dekat dengan Tuhan dan satu yang membuatku bersyukur aku bisa menerima keadaanku yang sekarang. Sulit memang sulit, itu hanya diawal aku datang tapi dengan proses yang panjang dan melewati hari yang penuh suka cita aku mulai menerima dan iklas menjalani hidupku.''' Tifani mengusap air matanya.


''Kemarilah, mendekatilah.'' Bruce memanggil, matanya tidak lepas dari tubuh yang kini sangat kurus.


''Kau, menghilang. Kau pikir aku tidak sedih? Kau pikir aku tidak cemas?'' Bruce memeluk tubuh Tifani, dia mengecup ujung kepala Tifani.

__ADS_1


''Sebenarnya ada masalah apa?'' Bruce membawa tubuh Tifani kedalam dadanya. Getaran hatinya sudah berbeda tidak seperti dulu. Perasaan yang Bruce rasakan ini seperti seorang ayah yang merindukan anaknya yang hilang, mereka saling melepas rindu.


''Aku hanya ingin belajar iklas.'' sahutnya.


''Iklas? Iklas yang bagaimana?'' Bruce menangkup wajah Tifani dia menatapnya lamat-lamat.


''Sejak empat tahun disini, aku menemukan kata iklas sesungguhnya. aku menerima keadaanku yang sakit, luka dan hina dengan hati yang luas. Iklas yang berarti kita mengiklaskan orang yang sangat berarti dalam hidup kita hidup dengan orang lain tanpa kita merasakan sedih dan luka. Kita bahagia melihat mereka bahagia, kita pun harus terus menjalani kehidupan kita yang entah kapan kehidupan itu berakhir.'' Tifani melingkarkan tangannya dipinggang Bruce, '' Ayah, terima kasih mau mengunjungiku. Apa ayah tidak kesulitan mencari aku?''


Bruce membawa tubuh tifani keatas pangkuannya.


''Sejak kapan ayahmu kesulitan menemukan orang. Apalagi orang itu putrinya yang dulu sangat nakal,'' keduanya terkekeh.


"Kau masih ingatkan ayahmu orang seperti apa. Ayahmu masih sama seperti dulu sampai sekarang bekum berubah." Bruce mengusap rambut Tifani.


"Berubahlah ayah demi masa depan ayah." Tifani tersenyum.


''Kembalilah ke mansion bersama ayahmu ini. Pria tua ini, hmmm? Maka ayahmu ini akan berubah secara perlahan," Bruce tersenyum.


''Tidak, aku sudah bahagia disini berkumpul dengan mereka yang bernasib sama dengan aku. Kami, saling memahami, saling mengerti kondisi kami." Tifani menggeleng.

__ADS_1


Bruce menghela napas, "Ayahkan membawa kau berobat." tegas Bruce.


__ADS_2