
Perlahan mentari terbit dengan hening, mafia itu masih nyaman dibalik semut. Awan-awan hitam selama ini yang terdapat dimatanya perlahan lenyap bersama hangatnya mentari.
Mafia itu mengerjap hal pertama yang ia tuju adalah alarm jam yang sedari tadi berbunyi. Dia menekan tombol off, lalu kembali meletakkan alarm berbetuk segiempat itu diatas nakas.
Bruce menyibak selimutnya, ia turun dari tempat tidur. Dia masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual pagi sekaligus membersihkan tubuhnya.
Usai membersihkan tubuhnya, Bruce keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya. Tangannya terus menggosokkan handuk putih kecil dikepalanya untuk mengeringkan rambutnya.
Drthhh...
Deringan ponsel mengganggu konsentrasinya. Bruce berjalan ke arah nakas, ahh, dia lupa menelpon kekasihnya Lestari. Dia tersenyum menatap layar ponsel nama penelpon itu wanita yang baru saja ia ingin menelepon.
''Hai, aku ganggu ya.'' Lestari juga baru selesai mandi. Dia juga masih mengenakan handuk kimono di tubuhnya.
[Hmmm...sedikit. Bukan hanya mengganggu aku tapi si dedek juga.]
Kebiasaan Bruce selalu bercanda receh jika Lestari melakukan video call disaat mereka sama-sama baru selesai mandi.
''Dasar. Aku pikir kau belum bangun.'' Wajah Lestari sudah merah padam. Dia sangat malu jika Bruce menggoda seperti itu.
[Maaf, aku terlambat bangunnya. Putri sudah bangun?]
Biarpun dia berbicara mata Bruce fokus di tempat lain kedua alisnya naik-turun sesekali bibirnya dimajukan seakan ingin mencium Lestari.
Lestari yang tidak tahan dengan tingkah konyol Bruce akhirnya memilih mengakhiri panggilan. Bruce menaikkan bahunya sembari tersenyum.
Lestari berdecak kenapa kekasihnya itu masih saja bertingkah layaknya anak ABG? Ia pun meletakkan ponselnya di atas meja rias. Lestari mengenakan celana panjang, dipadu blouse hitam tanpa lengan. Tidak lupa Lestari memoles wajahnya dengan make-up natural. Untuk menyempurnakan penampilannya Lestari menggoreskan lipstik berwarna nude di bibirnya, dia mengecapa-ecap untuk memastikkan lipstiknya sudah rata.
Usai merias diri Lestari menarik koper dan satu tas brand di tenteng di bahunya.
Putri, yang sudah selesai bersiap-siap juga berlari memeluk sang ibunda yang baru menuruni anak tangga.
''Mami, kita sudah telat.'' protesnya. Ya, dia sedari tidak sabar ingin bertemu Tifani karena Lestari sudah memberitahu kepada dia kalau mereka ikut ke Jerman tujuan untuk menemani Tifani operasi.
''Belum, sayang. Paman Bruce sudah datang?'' Lestari berjongkok untuk menyamai tinggi dengan sang anak. Ia mendaratkan satu kecupan di pipi chubby Putri.
''Belum.'' Dia membalas kecupan sang ibunda.
''Baiklah. Kita tunggu paman diruang tamu.'' Lestari menggandeng tangan Putri. Kopernya sudah diambil alih oleh Tati, Artnya itu membawa kopernya diletakkan bersama dengan koper Putri didepan teras.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️
Bruce sudah tiba didepan rumah Lestari. Dia turun dari mobil. Di dalam rumah Lestari dan Putri juga sudah bersiap-siap. Putri sangat antusias karena ini kali pertama dia melakukan perjalanan keluar negeri. Berbeda dengan Lestari, dia bersemangat karena ini kali pertama dia bertemu Tifani setelah tidak ada lagi rasa benci dihatinya.
Benar, Kemarin Bruce ingat besok ulang tahun Lestari. Karena, tidak ingin kehilangan momen ulang tahun sang kekasih, Bruce memutuskan mengajak Lestari dan Putri ikut ke Jerman juga. Selain untuk melakukan pengobatan Tifani, Bruce juga ingin memberikan surprise di sana.
''Paman,'' Putri langsung berlari menyambut Bruce.
''Hi, cantik. You're ready to go ?'' Bruce pun langsung menggendong Putri.
''Sudah. Kata Mami, nanti kita akan bertemu tante Tifani?'' Lestari mengutuk dirinya, anaknya ini sungguh cerewet kenapa dia malah mengatakan kepada Bruce.
''Ya. Putri senang?'' Bruce mendaratkan satu kecupan dipipi Putri.
''Hore, berarti Papi boleh ikut?'' Putri menunjukkan puppy eyes, salah satu cara ampuh meluluhkan hati orang tua.
''Tentu. Jika papi Putri tidak keberatan.'' Bruce mendaratkan satu kecupan dipipi Lestari, '' Morning sayang, Ayo kita berangkat.'' Dia melingkarkan satu tangan dipinggang Lestari. Tangan kirinya masih tetap menggendong Putri.
''Morning juga. Sorry, anak ini sudah saya jelaskan tetap saja nggak bisa kontrol bicaranya.'' Lestari tersenyum.
''Nggak, apa-apa. Ngapain mesti merasa nggak enak biarin saja jangan melarang dia mau mengatakan apapun selagi itu masih sopan dan wajar.'' sahut Bruce.
''Putri duduk dibelakang aja paman, Putri mau tidur lagi.'' pintanya, ketika Bruce ingin mendudukkan dia di kursi depan.
''Okey.'' Sesuai permintaan Putri. Bruce mendudukkan Putri di kursi belakang tidak lupa dia memasang sabuk pengaman ditubuh Putri.
"Mami duduk didepan temani paman Bruce,'' Bruce membisik ditelinga Lestari.
Lestari mendaratkan satu cubitan dipinggang Bruce. Pagi-pagi sudah mengajak dia bercanda. Putri, tertawa melihat Bruce pura-pura merintih kesakitan.
Sesuai permintaan Bruce, Lestari duduk di kursi depan menemani Bruce yang memilih mengemudi sendiri.
''Pasang sabuk pengamannya.'' Pinta Bruce.
Lestari menurut dia pun segera memasang sabuk pengaman ditubuhnya.
Kklik...
Sabuk pengaman sudah terpasang semua dengan baik. Bruce menoleh sebentar kebelakang memastikan Putri duduk dengan nyaman. Ternyata gadis kecil itu sudah tertidur.
__ADS_1
''Apa tadi malam dia nggak tidur?'' tanya Bruce.
''Ya. Dia tidurnya hanya tiga jam. Jam empat pagi dia sudah heboh membangunkan saya untuk bersiap-siap.'' Lestari tersenyum.
''Apa kamu dulu seperti itu?'' Bruce bertanya seraya kakinya menginjak pedal gas mobil. Bruce melajukan mobilnya menuju yayasana karena mereka akan menjemput Tifani dulu barulah mereka sama-sama berangkat ke bandara.
''Kurang lebih 95% mirip Putri." Lestari tersenyum.
"Pantas, nurun ibunya." Bruce tersenyum menggoda.
Lestari mencebik. Mafia dingin ini sekarang lebih banyak bercanda tidaksingin dan kaku seperti awal mereka bertemu.
"Kamu, nggak apa-apa ketemu Tifani?'' Bruce bertanya saat ia membelokkan mobilnya memasuki halaman yayasan.
''Aku nggak apa-apa. Tadi malam kami sudah melakukan video call.'' cerita Lestari.
''Baguslah.'' sahut Bruce senang. Hatinya lega, ternyata dia tidak salah memilih wanita. Lestari selain cerdas, dia juga baik, dan dewasa.
🌹🌹🌹🌹
Di yayasan ada seorang pria yang bergegas menuju mobilnya setelah matanya melihat mobil Bruce memasuki halaman yayasan.
Namun, pria itu kalah cepat Bruce sudah berdiri di belakangnya.
''Mau kemana? Sudah datang ke sini kenapa tidak ikut ke Jerman juga?'' Ini kali pertama Bruce mengajak bicara Rico sesantai ini.
''Aaakuu, eh maaksuuud saaaaya ada banyak pekerjaan dikantor.'' Rico masih menunduk malu. Dia terbata-bata.
''Aku pikir tidak ada pekerjaan yang penting karena aku pun mengajak Tari dan Putri ikut ke Jerman juga.'' balas Bruce.
Rico baru ingat tadi malam video call Putri mengatakan mereka akan ke Jerman. Berarti ini jawabannya mereka ikuti menemani Tifani berobat. Apa Lestari kuat melihat Tifani?
''Aku titip anakku.'' Antara bodoh dan takut Rico mengucapkan kalimat itu.
''Ck, soal itu jangan kau kwatir aku sudah mengerti dan itu kewajiban aku menjaga orang-orang terpenting dalam hidupku.'' sela Bruce.
''Ayo ikutlah bersama kami. Temani Tifani untuk melakukan operasi aku pikir Tifani jauh lebih tenang jika kamu juga ikut bersama kami.'' ajak Bruce.
''Baiklah. Terima kasih.'' Rico semakin mengutuk dirinya. Mengapa dua manusia ini begitu berhati mulia disakiti, dikhianati tapi mereka masih dengan tulus memaafkan dia dan Tifani? Bahkan Bruce dan Lestari seperti tidak pernah merasa dikhianati.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹