Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Perdana.


__ADS_3

"Sayang...entar'kan papi datang Putri main dulu ya dengan Papi. Mama masih ada urusan diluar," Izin Lestari. Wanita itu menatap jam yang menempel di dinding ruang tamu. Kurang lima belas menit pukul tujuh malam. Berarti dia harus segera bersiap-siap untuk bertemu dengan Julio. Lestari dari sejak pulang dari rumah sakit, Putri terus saja mengajak dia bermain.


"Papi beyum datang, mami!" protes Putri.


"Bukannya tadi pagi sebelum berangkat, papi sudah janji akan datang? Berarti sebentar lagi papi pasti pulang." Lestari menangkup wajah cantik Putri lalu menatapnya dengan tersenyum. Iya melirik ke arah pintu masuk. Terdengar ada langkah kaki yang datang.


"Hore...Papi datang!" Putri turun dari sofa ia berlari ke arah Rico. Penampilan Rico malam ini sangat berbeda, pakaiannya lusuh, wajahnya kusut seperti orang yang baru selesai mabok. Rambutnya berantakan, ini bukan Rico yang di kenal Lestari dulu. Di mana penampilan nomor satu bagi Rico tapi malam ini berbeda 180 derajat. Tangan kanannya membawa paperbag besar berisi boneka bear berwarna coklat serta dua kotak coklat mahal kesukaan Putri.


"Sayang..." Rico meletakan tas laptop diatas sofa. Kemudian, merentangkan tangannya menyambut Putri. Dia menggendong Putri, Rico memeluknya begitu erat. Tanpa ia sadari butiran kristal itu jatuh membasahi pipinya. Rico semakin mengutuk dirinya ketika balita kecil itu menyambut kedatangannya dengan suka cita.


Malam ini pemandangan sedikit berubah. Lestari yang biasanya menyambut Rico dengan tersenyum lalu dibalas kecupan manis dari Rico kini tidak lagi terjadi.


Wanita yang sudah memberi dia seorang Putri kecil itu. Berdiri dari sofa, ia berjalan masuk ke kamar tanpa sepatah katapun.Namun, sebelum masuk kamar Lestari melirik sebentar kebelakang, kedu mata saling bertemu sesaat kedua bola mata itu saling mengunci.


Hati Rico seperti tersayat sembiluh. Harapan dia untuk bersua dan berbicara empat mata dengan Lestari pupus sudah. Hanya helaan napas yang dapat menggambarkan perasaan Rico saat ini.


"Belum tidur?" Rico mendudukkan tubuhnya diata sofa.


"Belum. Putri masih tunggu papi. Papi bawa apa?" tanya Putri antusias. Balita itu tidak sabar ingin membuka bungkusan besar itu.


"Buka aja sendiri. Semoga Putri suka." Dia mengecup kening Putri lalu memeluknya lagi.


"Tadi Mami izin mau kemana?" bisik Rico penasaran.


"Kata mami mau keluar bentar." Putri asal jawab. karena, dia sibuk melepas perekat dipaperbag itu. Baginya yang terpenting sekarang bukan pertanyaan Rico tapi kado yang dibawa Rico itu. Ia sangat antusias membuka bungkusan kado besar itu, "Duh...nggak tuat! Papi...tolongin," cebik Putri.Dia memasang wajah cemberut.

__ADS_1


"Sini..papi tolongin.Lihat cara papi lepasin kado, buka dulu dari sini' kan ada perekatnya disini sayang, lalu tarik. Nah, tadaaa...." Rico menyerahkan boneka Teddy bear dan dua kotak coklat mahal. Namun, ia terus melirik ke arah kamar mereka dulu, dimana Lestari masuk dan belum juga keluar lagi. Lalu dia kembali menatap Putri.


"Hore...ada teddy bear dan coklat. Thank you papi." Putri melompat girang ketika boneka Teddy bear berukuran besar serta coklat dua bungkus yang dibawakan Rico sesua keinginan dia. Namun, Rico tidak melihat kegirangan Putri dia malah melongo melihat Lestari yang melangkah keluar dari kamar dengan aroma parfum mahal kesukaan Rico.


Lestari mengenakan dres bermotif bunga, rambutnya sengaja diurai begitu saja. Tampak Lestari begitu cantik dan Elegan dia melangkah keluar dengan menenteng tas brand ditangan kanan, hentakan sepatu higls berwarna senada bibirnya terus tersenyum. Wajahnya tampak tidak terbeban namun sungguhnya__.


"Mau kemana?" Rico akhirnya dengan masa bodo melayangkan pertanyaan itu. Hatinya berdebar-debar, cemburu sungguh ia cemburu. Melihat tampilaan Lestari seperti sekarang. Kenapa, malam ini aura Lestari seperti wanita yang belum menikah? Memiliki tubuh langsing, kaki jenjang sangat menunjang penampilan Lestari.


Berulang kali Rico menelan salivanya dengan kasar. Rasany dia butuh air untuk melegakan tenggorokannya.


Lestari hanya tersenyum dia menatap sinis Rico.


"Kamu nginap? Jika nginap titip Putri. Aku ada urusan di luar." Ia mengecup pipi kiri dan kanan Putri, " Tidur dengan papi ya. Mami mungkin nginap di rumah sakit lagi jaga Opa, kasian Oma sendiri disana," Lestari tersenyum dengan tangan menyentuh lembut pipi Putri.


Tapi, berbeda dengan Rico.Mantan suami Lestari itu terus saja menatap Lestari dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tangannya ingin menarik wanita bertubuh langsing itu jatuh kedalam pelukannya, tapi dia tidak bisa. Dia ingin melarang 'JANGAN PERGI' tapi bibirnya keluh untuk berucap.


"Iya aku nginap? Bagaimana dengan operasi ayah?" Akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya walaupun tidak ada hubungannya dengan pertanyaan Lestari barusan.


"Berjalan dengan lancar.Hanya saja ayah masih koma.Kata dokter itu efek dari obat bius, " jawab Lestari dia membantu Putri membukakan bungkusan coklat." Aaaa...nanti habis makan coklat, jangan lupa minta tolong Nany temani gosok gigi ya." Dia menyuapkan coklat itu kedalam mulut Putri.


"Maaf aku belum sempat jenguk Ayah. Besok pagi sebelum ke kantor aku akan mampir di rumah sakit sebentar. Aku juga ingin kita berdua perlu bicara serius, itupun jika kamu ada waktu." Rico menatap memohon pada Lestari.


"Baiklah. Aku juga ingin bicara dengan kamu. Tapi, aku harus berangkat sekarang tidak baik membuat orang menunggu, apalagi orang yang berjasa untuk kita, benar bukan?" sergah Lestari.


"Baiklah, have fun." Rico menunduk malu. Dia merasa seperti disindir Lestari dengan jawaban Lestari barusan.

__ADS_1


Lestari melangkah keluar. Malam ini dia tidak diantar oleh Kris, sopirnya. Lestari menyetir sendiri. Sesuai permintaan Bruce sebelum Lestari melajukan mobilnya dia sharelok lebih dulu lokasi yang ia datangi ke Bruce.


♥️♥️♥️♥️


Ting...


Ponsel Bruce berdering.


Bruce bergegas meraih ponselnya.Dia melirik Felix yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Sudah!" Bruce menunjukan alamat yang dikirim Lestari kepada Felix.


Felix segera melakukan pengecekan lewat Laptopnya.


"Siip.Beres." Felix tersenyum.


"Mereka di restoran yang biasa kita datangi'kan?" ucap Bruce.


"Iya benar, apa aku hubungi Satpam untuk awasi ibu Lestari?" tanya Felix.


"Tidak perlu. Lebih baik bertindak sendiri!" Bruce meraih jasnya lalu disusul Felix mereka pun segera menyusul Lestari ke resto pertemuan Julio dan Lestari.


♥️♥️


Like dan komentar mana?😢🥺....

__ADS_1


__ADS_2