
"Rico. Kamu sudah datang?" tanya Lestari, dia berusaha tenang didepan Rico dan Rose.
"Lumayan. Mungkin dua jam-an." Rico tersenyum. Dia menatap Bruce sesaat lalu beralih pada Lestari, " Ayah sudah sadar. Tapi, belum sadar penuh. Kata dokter tunggu satu atau dua jam lagi," sambung Rico.
"Syukurlah. Kalau gitu nanti saja aku jenguk ayah. Bunda, sudah masuk lihat ayah?" tanya Lestari.
"Sudah. Bunda baru saja keluar dari ruang ayah, lima menitan mungkin," sahut Rose.
" Ahhh..." Lestari menghela napas.
Dia merasa lega. Ayahnya sudah sadar walaupun harus menunggu sejam lagi setidaknya dia sudah tenang. Tadi, dia sempat takut, akan kehilang sosok Filipo.
"Maaf tadi masih mampir sebentar di rumah, antarin kado buat Putri dari Bruce." timpal Lestari. Mendengar Lestari menyebut nama Putri, Rico teringat janji dia tadi siang di ruang kerja, dimana dia mengatakan akan tidur di rumah Lestari untuk bermain dengan Putri.
"Iya...Nggak apa-apa. Nanti malam aku boleh nginap di rumah? Aku uda kangen dengan Putri," izin Rico sembari menatap lekat Lestari.
'Mulai cari perhatian.Pake kasih kado segala untuk anakku.Emang dia hebat apa sih? sampai-sampai Lestari seperti menurut saja dengan si kunyuk ini,' batin Rico. Dia benar-benar kesal setiap kali melihat Bruce.
"Iya nggak apa-apa. Biar aku temani bunda disini. Kasihan bunda sendirian." Lestari menatap Bruce lalu tersenyum. Mafia itu tidak menyia-nyiakan kesempatan dia juga membalas senyum pada Lestari.
"Sampai lupa. Bunda kenalin, ini Bruce, orang yang selama ini nolong Tari." Lestari menatap Rose lalu kembali menatap Bruce.
"Bruce ini, bundaku." Dia mengangguk pada Bruce .
Bruce tersenyum, dengan cepat dia berdiri lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Rose.
"Bruce. teman Lestari."
"Rose, Ibunda Lestari."
__ADS_1
Setelah bersalaman Rose bergeser, dia memberi tempat untuk Bruce dan Lestari duduk. Sedangkan Rico hanya tersenyum sinis. Dia mulai merasa tidak nyaman berada diantara mereka.
"Kenal Lestari dimana?" tanya Rose seraya menatap lekat Bruce.
"Saya kenal Lestari sejak ka__" Namun belum juga selesai bicara, dengan cepat Lestari menyikut lembut pinggang Bruce seraya mendelik, "Bunda. Dia ini pemilik rumah sakit ini. Tari... kenal Bruce waktu melahirkan Putri. Iya'kan Bruce?" Lalu ia menatap Bruce dan tersenyum.
"Iya, betul." jawab Bruce pelan seraya mengangguk. Bruce sudah tau maksud Lestari, mungkin Tari tidak ingin kasus perselingkuhan Rico diketahui Rose.
Deg...
"Apa?" Rico terperanjat. Bola matanya hampir keluar. Dia menoleh ke arah Lestari. Sedangkan, Bruce tersenyum sinis tapi dia tetap berusaha tenang gaya khas dia.
Rico baru tau jika Bruce pemilik rumah sakit ini lalu siapa Ramos? Pria yang waktu itu pergi ke rumah mengintrogasi dirinya dan mengaku pemilik rumah sakit. Lalu, besoknya ke kantor mengaku sebagai orang kepercayaan dari Black Scorpion? Berarti pertanyaan Rico selama ini terjawab sudah. Bruce lah orang yang memecat Tifani dari rumah sakit ini. Terus Scorpion?
"Emang benar? Dia pemilik rumah sakit ini?" Rico berusaha meyakinkan dirinya.
"Pantas saja..." sahutnya.
"Kenapa?" Lestari melirik Rico. Dia sudah tau maksud dari Rico. Begitu juga Bruce. Mafia ini tau Rico sudah menyadari hubungan dia dan Tifani.
"CK..." Bruce berdecih pelan. Dia menaikkan sudut bibir atasnya.
'Pria ini harus diawasi. Dia kekasih Tifani, kenapa dia harus dekat dengan Lestari?' batin Rico. Okey... Rico pikir ini PR untuk dia tanyakan Tifani besok untuk memastikan benar tidaknya Bruce kekasih Tifani?
Rose menatap Tari lalu mengernyit dia merasa ada yang ditutup-tutupi Lestari. Tapi, Rose menahan diri untuk menanyakan hal ini pada Lestari sekarang. Mungkin, nanti setelah kedua pria ini pergi, barulah Rose akan mengintimidasi Lestari.
Rico, mulai merasa tidak nyaman dia berdiri lalu berpamitan pada Lestari, Bruce dan Rose. Karena hari juga sudah malam.
"Kalau gitu aku izin pulng lebih dulu. Tari...Aku ke rumah ya," ujar Rico.
__ADS_1
"Iya, tolong bilang ke Putri, aku temani Oma dirumah sakit. Tadi aku Uda izin di dia sih tapi bilang lagi aja." pesan Lestari.
"Okey," sahut Rico.
"Hati-hati ya Rico," pesan Rose saat Rico bersalaman untuk pulang.
"Iya bunda," jawab Rico. Lalu ia menatap Bruce dan melambaikan tangan, "Aku pulang dulu," ucapnya.
"Ya hati-hati," sahut Bruce.
Setelah berpamitan Rico, bergegas meninggalkan rumah sakit. Tujuan dia malam ini akan menginap di rumah Lestari. Untuk melepas kangen dengan Putri kecilnya yang kini sudah berusia hampir tiga tahun itu.
Sudah lama sekali dia tidak pernah bermain dengan Putrinya dari sejak kasus perselingkuhan itu, Rico benar-benar menjaga jarak dengan Putri tidak salah dari usia Putri sebulan.
Sementara Rose masih penasaran dengan sosok yang sedang duduk sopan disamping dia ini. Bruce.
"Anaknya uda berapa?" Rose dengan polosnya bertanya. Karena, dilihat dari wajahnya Bruce emang pantasnya sudah memiliki anak tiga. Karena usianya yang sudah mau menginjak empat puluh dua tahun.
"Bunda...Dia masih perjaka belum ada anak," sahut Lestari sembari menahan tawanya. Sedangkan Bruce bingung mau menjawab apa.
"Olaah...Maaf bunda pikir sudah ada anak. kamu juga Tari, kenapa tidak bilang dari tadi?" ucap Rose.
"Iya tidak apa-apa, banyak juga yang bilang saya susah menikah. Bahkan, wanita yang saya ketemu sering memanggil saya 'OM' mungkin karena wajah saya yang tua dan memang usai sudah empat puluh dua tahun," jelas Bruce sudah tertawa merasa lucu.
"Pria matang dong," celetuk Lestari.
"Bisa dibilang begitu." Bruce menatap Lestari dengan tersenyum.
Rose, berdiri meninggalkan kedua manusia berbeda gendre itu. Dia rasa dia akan menjadi sekat untuk kedua orang ini. Wanita paruh baya itu memilih ke ruang Filipo yang sudah mulai sadar itu.
__ADS_1