Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
menyesal


__ADS_3

Bruce duduk di sofa kebesarannya. Dia melirik ponselnya namun tidak ada panggilan dari Lestari. Dia mendengus kesal matanya melirik jam yang melingkar ditangannya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, harusnya kontrolnya sudah selesai dan Lestari dan Filipo sudah kembali ke rumah.


'Jangan-jangan dia nggak mendengar obrolan teleponku siang tadi?'' Bruce tersenyum sinis.


Dia berdiri mengambil wine, lalu menuangnya dicangkir, sekali tegukan wine itu tandas tak tersisa.


''Argh...'' Bruce mengenyit karena gas alkohol yang begitu panas. Lalu ia meletakkan lagi cangkir itu diatas meja.


Ponselnya berdering, dengan cepat Bruce melirik. Bruce meraih ponsel itu lalu menggeser layarnya ia melihat nama yang tertera ternyata Felix. Bruce meletakkan lagi ponselnya dengan kesal, dia mengabaikan panggilan dari Felix. Bruce menyugar rambutnya dia benar-benar frustasi, ia tidak mau gagal untuk kedua kalinya.Bruce, sudah tidak bermain di club karena dia sudah memantapkan hatinya kepada Lestari. Namun, mengapa Lestari bisa melupakan janji mereka?


🌹🌹🌹🌹


''Papi, kita makan bentar ya di resto depan, ''ajak Lestari. saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.


Filipo menoleh ke belakang karena dia duduk didepan samping pengemudi, Kris.


''Bukannya,tadi sebelum berangkat ke rumah sakit, kamu mengatakan ada janji dengan tuan Bruce?'' tanya Filipo.


''Ya ampun, Pi. Tari benar-benar lupa.'' Lestari menepuk keningnya. Sumpah dia tidak sengaja dia benar-benar lupa ajakan Bruce tadi, padahal sore tadi waktu Rico menjemput Putri dia masih ingat, dia juga mengatakan kepada Filipo ayahnya, jangan banyak ngobrol dengan dokter Johan karena dia ada janji dengan Bruce. Tapi, mengapa dia ceroboh melupakan semua itu?


''Ya udah, hubungi tuan Bruce lagi. Jangan membiarkan orang menunggu kita, Nak." Filipo menasihati Lestari.


''Baik, Pi.'' sahut Lestari. Dia pun segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya lalu menggeser layar benda pipih itu, Lestari meletakkan benda pipih itu di telinga bagian kirinya, Lestari menunggu jawaban dari Bruce.


Setelah beberapa menit, Lestari menghela napas, ini tidak seperti biasanya Bruce mengabaikan panggilan telepon darinya apalagi hingga lima kali panggilan seperti barusan.


''Hmmm...'' Lestari menghela napas membuat Filipo yang hendak memejamkan matanya melirik ke belakang.


''Kenapa, Nak?'' tanya Filipo.


''Dia mengabaikan panggilan ku, pi.'' Lestari memasang wajah sedih.


''Mungkin, tuan Bruce uda tidur, Nak.'' Filipo selalu mengajarkan Lestari berpikir positif.

__ADS_1


''Entahlah." Lestari mencelos, bahunya merosot ke bawah disertai helaan napas berat. Lestari mencoba mengirim pesan, siapa baru dibalas Bruce. Lestari pikir mungkin melalu telepon Bruce tidak terima karena tidak ingin mendengar suara Lestari. Namun, chat dari Lestari diabaikan memang benar cekliz dua tapi tidak dibaca sama sekali.


🌹🌹🌹🌹


Bruce terus menatap layar ponsel yang terus berdering karena banyak sekali notif masuk dari Lestari dan Felix. Bruce tersenyum dia ingin geser layar itu tapi jujur dia masih kecewa, dia pikir Lestari benar-benar menolak dia. Dia, pikir selama ini Lestari mengatakan cinta kepada dia itu karena kesalahann satu malam di hotel itu. Bruce memilih memejamkan matanya dengan tangan menopang pelipisnya.


''Jangan menelpon lagi. Ku mohon jangan membuat kegilaan ku menguasai diriku lagi, aku mohon." gumamnya akhirnya Bruce terlelap, di sofa.


Dia melupakan persiapan di hotel itu, dia melupakan balon-balon yang melambai diudara dia lupa seorang pria yang sudah dengan rapinya menunggu di depan piano dengan teks lagu didepannya. Bruce melupakan anak buahnya, Felix. Yang setia menunggu dia dengan cemas didepan lobby


Bruce melupakan itu semua, dia memilih tidur untuk menenangkan pikirannya.


🌹🌹🌹🌹


Di apartemen Rico.


Rico sudah selesai masak sesuai request Putri, Pasta dengan keju mozarella dan sosis.


''Tadaa...'' Rico meletakan dua piring pasta lengkap dengan sosis. Lalu, dia menarik kursi dan duduk disamping Putri.


''Yuk, dimakan nanti kalau uda dingin nggak enak.'' ujar Rico. Dia meletakkan garpu dan sendok diatas piring Putri dan piringnya.


Putri mulai menyuapkan pasta ke dalam mulutnya, dia memejamkan matanya menikmati tesktur dan rasa pasta yang meleleh didalam mulutnya.


''Hmmm...perfecto.'' puji Putri. Lelehan keju mozarella benar-benar menggugah selera Putri.


''Kalau Putri suka masakan Papi tiap weekend Putri nginap aja di tempat papi, okey?'' bujuk Rico tersenyum.


''Hmmm...Putri harus izin mami, Pi.'' Putri menganguk-anggukkan kepalanya.


''Baiklah. Apapun yang mau Putri lakukan harus izin Mami, nggak boleh Putri melakukan sesuatu diam-diam, okey anak pintar.'' Rico menatap wajah Putri.


''Siap, Putri berjanji.''

__ADS_1


Mereka pun selesai makan, Rico meletakkan piring di wastafel lalu kembali duduk di ruang makan. Rico, mendengar ocehan Putri yang ke mana-mana.


''Papi, di sekolah Putri, teman-teman ke sekolah dan pulang sekolah mereka dijemput papi mereka. Putri, kadang suka sedih, kenapa Putri hanya diantar paman Kris dan Nani saja ya setiap ke sekolah dan pulang sekolah?'' Dia menunduk dan memainkan buah apel yang ditangannya.


''Kenapa, selama ini Putri nggak menceritak semua itu di Papi? Jika, Putri cerita Papi pasti yang mengantar dan jemput Putri di sekolah.'' Rico mengusap rambut Putri.


''Benarka, nanti besok Putri ke sekolah diantar Papi?'' Matanya berbinar-binar mimpi apa dia semalam kenapa ayahnya akhirnya ada waktu untuk dia.


''Iya. Papi, janji.'' Rico mengusap lembut rambut Putri. Dia, pikir perkataan Putri ada benarnya. Apalagi dia dan Lestari sama-sama sibuk di kantor. Putri, lebih banyak bersama suster dan asisten rumah tangga Lestari.


''Maafin, Papi ya sayang. Papi selama ini sibuk mengabaikan kamu."Rico mengecup ujung kepala Putri.


''Nggak apa- apa papi, kata mami, papi tinggal sendiri karena pekerjaan papi jauh dari rumah.'' sambung Putri.


''Terima kasih. Ya, benar pekerjaan papi sangat jauh." Rico pun ikut berbohong, " Sekarang putri gosok gigi terus tidur, besok kita ke Zoo tidak kesiangan." sambung Rico lagi.


''Okey, papi.'' Putri bersemangat. Dia turun dari kursi lalu bergegas ke wastafel untuk menggosok gigi.



Rico mengawasi Putri menggosok gigi, Dia terus tersenyum ternyata begitu nikmat mengurus anak, dia benar-benar bahagia.


🌹🌹🌹🌹


Bruce mengerjap karena badanya yang pegal efek tidur di sofa. Dia melirik jam ditangannya pukul dua malam. Bruce mengucek matanya. Dia meluruskan tangannya untuk meluruskan ototnya yang pegal. Setelah kelopak matanya terbuka penuh, Bruce berdiri dari sofa dia meraih ponselnya menggeser layar ponselnya membaca semua chat dari Lestari.


[Maafin aku, ]


Dengan emoticon menyesal.


[Aku benar-benar lupa sumpah. Tadi pikirku aku temani papi kontrol setelah itu kita dinner berdua tapi mengapa aku hubungi kamu, panggilanku diabaikan]


Kali ini disertai emotico menangis.

__ADS_1


Bruce berdecih, dia tersenyum. Ternyata Lestari, tidak sengaja. Bruce menyugar rambutnya. Lalu ia kembali ke mobilnya. Bruce melajukan mobilnya menuju rumah Lestari.


__ADS_2