Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Situasi yang memaksa.


__ADS_3

Bruce mempercepat langkahnya. Dia harus menahan Lestari untuk tidak pergi, Dia harus menjelaskan semuanya bila perlu menunjukkan buktinya.


Namun, Lestari tidak mendengarkan Bruce. Wanita itu sudah menenteng tas di bahu kanannya seraya jarinya memijit layar ponsel, Lalu ia masang benda pipih itu ditelinga kirinya.Lestari ingin menelepon seseorang?


"Jangan!" Bruce berlari mendekati Lestari. Tangannya merebut ponsel dari tangan Lestari.


Lestari kaget, sorot matanya menatap tajam Bruce, "Kembalikan ponselku!" Lestari mengulurkan tangannya meminta Bruce mengembalikan ponselnya.


"Aku janji akan kembalikan ponselmu. Tapi, setelah kamu dengar penjelasan dari aku, mengerti?" sahut Bruce. Dia berkedip.


Lestari hanya menghela napas, " Ambil saja ponsel itu aku tidak membutuhkan nya, Aku mau akan pergi." Baru saja Lestari mau menglangkah.


Bruce dengan cepat melempar ponsel Lestari ke ranjang. Tangannya menarik tangan Lestari.


"Jangan pergi! Tunggu aku jelaskan semuanya dulu. semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan." Bruce memasang wajah melas. Dia benar-benar memohon. Bruce tidak ingin kehilangan Lestari hanya karena salah paham. Ia meremas tangan Lestari. Wanita itu memalingkan wajahnya, dia membelakangi Bruce, Tari tidak ingin menatap wajah Mafia itu.


"Let me go!" perintah Lestari.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan kamu. Kamu harus dengar penjelasan aku dulu, setelah itu terserah kamu mau memaafkan aku atau tidak. Aku tidak mengharapkan kamu memaafkan aku. Tapi, aku ingin sekali saja kamu dengarin penjelasan aku." Ini pertama kali Bruce memohon kepada seorang wanita. Dia tidak ingin kehilangan untuk kedua kali lagi. Dia pernah merasakan sakit hati dikhianati orang yang sangat dia sayang. Bahkan, dia sempat membenci wanita karena dia menganggap semua wanita itu sama. Waktu itu Dia sangat terluka karena wanita tapi itu karena kemauan si wanita yang menduakan dirinya. Namun, berbeda dengan Lestari. Malam ini Bruce benar-benar takut Lestari menjauhi dia atau membenci dia. Karena, kecerobohan dia tidak bisa menahan diri.


"Apa yang mau dijelaskan lagi? Sementara kenyataannya sudah menjelaskan semuanya! Please...jangan tahan aku disini. Aku bukan pela**cur aku bukan bu*dak se**ks kamu! Aku Lestari, ibu dari seorang putri. Ouh...mungkin kamu berpikiran aku sekarang singel parents? Jadi, seenaknya kamu melakukan itu kepada ku?" ungkap Lestari. Sepasang mata beningnya berjuang keras menahan embun yang mendesak keluar. Bibirnya tersenyum kecut.


Bruce mendongak ia menatap langit-langit kamar hotel, " Itu tidak benar Lestari. Kamu wanita yang ku jaga, wanita yang ku sayang mana mungkin aku tega menganggap kamu seperti itu? Bagi aku, apapun status kamu nggak ada masalah, selagi kamu bisa menjaga hatimu, hanya untuk satu orang." Kini Bruce memejamkan matanya, bola mata coklatnya perih. Demi Tuhan...dia seorang mafia, Jika dia ingin kehangatan seorang wanita, cukup menjentikkan jarinya, para wanita akan berlomba-lomba datang untuk melayani dirinya. Namun, Kenapa wanita ini membuat dia ketakutan?


"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kamu sudah menganggap aku seperti itu. Baiklah. Anggap saja tadi aku seorang pela*cur di mata kamu. Jadi, lepaskan aku. I want to go, aku tidak ingin Putri ku bertanya aku pergi ke mana saja." Lestari berusaha melepas diri dari cengkeraman Bruce.

__ADS_1


"Aku tidak seperti itu. Jika, aku ingin menyalurkan hasrat kenapa aku tidak bayar wanita malam diluar sana? Kenapa harus kamu?" Bruce menarik tubuh Lestari dengan kasar. Wanita itu langsung jatuh dan bersender di dada bidangnya. Lestari segera menjauhkan tubuhnya dari dada Bruce. Bruce menarik tangan Lestari, seraya menghela napas.


"Tari...Please. Duduklah sebentar disini," pinta Bruce.


Akhirnya Lestari duduk ditepi ranjang, dia tidak tega keadaan pria itu. Frustasi.


"Tunggu disini, Aku nggak ada tujuan apa-apa hanya menjelaskan saja. " Bruce melangkah mendekati televisi yang dipasang di dinding kamar hotel itu. Lalu, ia segera menyambungkan fitur ponselnya dengan televisi kamar hotel.


" Silakan dilihat semua sampai selesai. Setelah itu, apapun keputusan kamu aku siap terima." Bruce menatap wajah Lestari. Dia memilih duduk di sofa. Karena, dia tau saat ini Lestari tidak ingin ia berada di sampingnya.


Video mulai berjalan, Lestari membulatkan bola mata, ia sangat malu ketika melihat dirinya. Lestari menunduk. Apalagi adegan dia memohon dengan memainkan lidah nackalnya, sembari matanya berkedip menggoda kepada Bruce.


"Dam'n it!" Lestari mengumpat. Bruce hanya tersenyum getir.


Video itu pun berakhir. Bruce menghela napas lega.


"Aku tidak bersalah penuh. Begitupun dengan kamu. Kita smaa-sama terjebak dengan keadaan. Aku juga bersalah karena tidak bisa mengontrol diri. Tapi, asal kamu tau jika aku tidak melakukan itu bisa saja, saat ini salah satu saraf otakmu mati karena dosis obat yang kamu minum itu sangat tinggi. Aku terpaksa, Tari! TERPAKSA!" Bruce menekan. Dia ingin Lestari memahami situasi bukan menghakimi dia dan Tari sendiri.


Lestari menggeleng dia sudah sesunggukan. Lestari menghempaskan tubuhnya diatas ranjang, ia menutup wajahnya dibantal. Bruce berdiri dari sofa dia mendekati Lestari. Tangannya ragu untuk mengusap rambut Lestari.


"Kenapa harus menangis? Kamu tidak bersalah, semua karena pengaruh obat. Bagi aku, kamu tetap wanita baik-baik, hm?" Bruce mengangguk.


Lestari menggeleng, sumpah dia sangat malu bahkan menatap Bruce pun dia tidak sanggup. Lestari mengingat tuduhan dia barusan terhadap Bruce. Padahal Dia sendiri mirip artis film dewasa, menari mengundang nafs*u seorang pria.


"Aku minta maaf. Baiklah. Sekarang aku tau, kamu tidak bersalah." ucap Lestari.

__ADS_1


"Tidak perlu minta maaf. Kita sama-sama tidak bersalah. Keadaan lah yang memaksa. Aku mohon lupakan kejadian ini," balas Bruce.


"Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku ini. Aku sadar kamu sementara masa__," ucapnya.


Saat sedang menenangkan Lestari, ponselnya berdering ada panggilan masuk. Bruce tau siapa yang menelepon.


"Tunggu sebentar, aku ada tamu." ucapnya. Lalu Bruce berjalan ke arah pintu kamar.


'Tamu? Tengah malam ada tamu?' batin Lestari.


ceklek...


Bruce membuka pintu kamar.


"Terima kasih. Setelah ini langsung pulang. jangan lupa, kembalikan mobilnya. Jika ada yang tanya bilang saja kamu montir. Katakan tadi malam mobilnya mogok ditengah jalan. Jadi, kamu baru selesai memperbaiki," pesan Bruce.


Bruce menerima paperbag dari tangan Felix, " Benar dua pasang? Ada dres untuk dia?" tanya Bruce dia mengamati isi paperbag itu.


"Ada. Saya dan Sisilia yang pergi ke butik. Sisilia yang pilih ukuran dresnya." jelas Felix.


"Baiklah. Ya udah pulang sekarang." Bruce menatap Felix.Karena dia tau anak buahnya akan menggoda dirinya.


"Baik, Tuan. Saya mengerti." jawab Felix.


"Hmmm....pulang lah," titah Bruce.

__ADS_1


__ADS_2