Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
peringatan!


__ADS_3

"Lalu jika bukan murahan apalagi?" Rico mengepal.Ia menggertakkan gerahangnya.


Tifani hanya diam. Melihat tidak ada reaksi dari Tifani, Bruce berdiri dengan santainya dia menjawab.


"Aku! Aku yang memasang camera kecil didalam apartemen itu. Aku juga yang mengambil file itu dengan tanganku sendiri." Bruce tersenyum menyeringai.


"Cukup! Belum puaskah kau menghancurkan hidupku!" sergah Tifani. Dia histeris lalu mengambil tasnya dan berlari keluar. Meninggalkan ketiga orang itu di ruang kerja Rico. Tangannya memijit tombol lift dengan berderai air mata membasahi pipinya ia menyeka dengan kasar. Tidak peduli dilihat karyawan kantor itu, saat ini dokter itu hanya ingin menjauh dari Bruce. Dia juga tidak mau mendengar keputusan Rico. Ya Tifani lebih baik kembali ke klinik menenangkan diri disana.


Rico semakin bingung ada apa dengan Tifani dan Bruce? Kenapa mereka terlihat seperti saling mengenal sangat dekat? Ia berdiri menatap lurus kearah pintu ruangan. Dia sama sekali tidak mengejar Tifani.


Bruce meraih tangan Lestari.


"Aku pikir masalahnya sudah selesai. Suamimu sudah tau siapa penyebab ayahmu jatuh pingsan. Ayo kita pulang kembali ke rumah sakit. Ibumu pasti sudah cemas menunggu kamu disana." Tangannya lembut meraih tangan Lestari. Bruce menggenggam jemari kurus itu ia menautkan jarinya dengan jari kurus Lestari. Mereka melangkah keluar meninggalkan Rico yang masih berdiam menatap ke depan pintu.


Namun, baru saja Bruce memutar knop pintu.


"Tunggu!" panggil Rico, dia berjalan mendekati Bruce dan Lestari. Matanya melirik ke bawah menatap lekat kedua tangan beda gendre yang sementara saling bertaut. Cemburu? Tentu Rico sangat cemburu namun dia tidak ada hak untuk menegur karena semua berawal dari kesalahan dirinya.


Lestari dan Bruce menghentikan langkah, mereka menoleh menatap Rico.


"Ada apa?" tanya Lestari.


"Maaf. Jika aku boleh tau, Ayah masuk dirumah sakit mana? Aku ingin menjenguk ayah sekalian ingin minta maaf," lirih Rico.


Lestari menelisik bola mata Rico. Dia masih berusaha meyakinkan dirinya. Apa dia tidak salah dengar, dengan apa yang barusan Rico ucapkan? Setelah meyakinkan Rico benar-benar tidak ada niat jahat, lalu dia menatap Rico.


"Datanglah ke rumah sakit tempat Putri lahir. Ayah saat ini di ICU." Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipi tirusnya.


Bruce dengan sigap mengambil sapu tangan dari kantong celananya lalu dengan lembut menyeka butiran kristal itu.


"Terima kasih." Dia menerima sapu tangan dari Bruce.


"Sama-sama. Jangan menangis," Bruce tersenyum menatap lekat manik mata biru itu.


Lestari tersenyum. Rico bergeming dia belum percaya dengan apa yang barusan di lihat dirinya.

__ADS_1


'Apa semudah itu Lestari menggantikan posisiku?' batin Rico.


"Oya, satu lagi jika mau jenguk ayah tolong tidak perlu bahas masalah Tifani meneror ayah. Karena, aku tidak ingin Ayah semakin stres," pesan Lestari.


"Baik jika itu mau mu," lirih Rico.


Selesai berbicara dengan Rico. Bruce dan Lestari kembali melangkah keluar meninggalkan Rico seorang diri di ruang kerjanya.


Rico mengepal dia menitikan air matanya. Kenapa sekarang menjenguk Filipo saja dia tidak bersama Lestari. Suami macam apa dia? Karena kesal dia melepas satu tendangan, tanpa ia sadari kakinya terkena ujung sofa dia mengaduh kesakitan, ''Aduh." rintih Rico.


Kemudian, dengan melompat ia berjalan menuju meja kerja lalu duduk di kursi dia mengusap kasar wajahnya.


"Argh... sialan!" Dia merutuki dirinya. Bayang-bayang Bruce memperlakukan Lestari dengan mesra masih ia bayangkan. Ia menatap telpon yang diletakkan diatas meja kerja lalu menempelkan ditelinga.


"Ke ruang kerjaku sekarang." Rico meminta sekretaris segera masuk ke ruangan nya dia ingin tau jadwal dia selanjutnya. Jika tidak ada jadwal lagi. Rico ingin segera menjenguk Filipo.


****


Bruce dan Lestari dalam perjalanan menuju rumah sakit. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore.


''Kamu, lapar?" Lestari menoleh dia menatap wajah Bruce.


"Hmmm..." Bruce menganguk dengan senyum manisnya.


"Ya udah, kita makan dulu aku juga baru sadar kalau sudah sore," sahut Lestari dia melirik jam tangan yang melingkar ditangan kirinya.


"Maaf ya karena urusanku, kamu harus menyiksa perutmu," sambung Lestari lagi.


"Tidak apa-apa, santai aja." Bruce berkedip. Ya sebenarnya Bruce bisa menahan lapar namun ada hal penting yang harus ditanyakan pada Lestari karena itu dia beralasan untuk makan sebentar. (Modus ya😂)


Bruce memutar stir membelokkan mobilnya masuk kearea resto yang dimaksud. Security segera mengarahkan mobil Bruce untuk parkir didepan pintu masuk( parkir VVIP).


Mobil berhenti tepat di garis parkir. Bruce segera keluar dari mobil dia bergegas ke arah pintu Lestari lalu membuka kan pintu untuk Lestari.


"Makasih,"ucap Lestari. seraya melangkah keluar dari mobil.

__ADS_1


"Sama-sama." balas Bruce. Kemudian, Bruce kembali menutup pintu mobil.Lalu tangannya menekan remote untuk mengunci mobilnya. Kemudian dia menatap security itu.


"Tangkap!" ucap Bruce pada security itu untuk menangkap kunci mobil yang ia lemparkan, dengan sigap security itu menangkap tidak meleset. Kebiasaan Bruce dengan Security itu sudah biasa karena resto itu milik dirinya.Tapi, dia tidak ingin semua tau jika resto itu milik dia. Bruce selalu berpura-pura menjadi tamu resto.


"Keren!" Bruce mengangkat jempolnya keatas menunjuk pada security itu.


Lestari hanya tersenyum dia berjalan disamping Bruce.


"Aku yakin kamu akan ketagihan kalau sudah makan disini. Resto ini benar-benar bikin kita untuk tidak berpaling ke resto lain," Bruce menggandeng tangan Lestari lalu dengan lutut nya ia mendorong pintu masuk resto.


"Selamat datang!" ucap pelayan yang berjaga didepan pintu masuk.


Lalu satu pelayan datang dengan buku menu dan secarik kertas serta pena. Dia mengarahkan kedua menusia itu di meja yang kosong. Sore ini resto khas Itali itu cukup ramai pengunjung. Karena itu mereka harus duduk di meja kosong paling sudut sendri.


Bruce menarik kursi untuk Lestari duduk, setelah memastikan Lestari duduk dengan baik. Barulah dia pun menarik kursi untuk duduk.


Waitres itu meletak'kan buku menu diatas meja.


"Silakan dipilih, disini kami sajikan pasta dengan tambahan topping bisa dipilih sendiri. Jika bayaran menggunakan kartu kredit dapat diskon 50%," jelas pelayan itu panjang lebar.


Bruce dan Lestari mulai membuka lembari perlembar halaman menu mereka mulai mencari makanan yang sesuai selera keduanya. Bruce tersenyum ketika mendengar ada diskon.


Setelah mendapat pilihan yang mereka suka. Lestari dan Bruce kembali meletakkan buku menu dengan rapi diatas meja.


"Aku pizza aja dengan topping keju mozzarella ukuran small aja ya. Minum ku ada Coca cola?" Lestari menatap pelayan itu.


"Ada, mau ukuran kecil, sedang atau jumbo?" tawar pelayan itu seraya mencatat pesan Lestari dengan baik.


"Small aja," sahut Lestari.


"okey,"


"Kamu, mau pesan apa?" Lestari menatap Bruce.


"Aku, steak aja. Ingat nggak mau pabrika dan tomat. ada cocktail? jika ada, aku mau yang botol kecil aja ya," sahut Bruce.

__ADS_1


"Okey ditunggu sepuluh menit ya," ucap pelayan itu. Namun, sebelum meninggalkan meja Bruce dia membaca ulang lagi pesanan Lestari dan Bruce. Setelah semua benar dan tidak salah. Pelayan kembali untuk mengambil pesanan Bruce dan Lestari.


__ADS_2