
Hari ini Bruce tidak bisa menemani Lestari fitting baju pengantin. Karena di perusahaan miliknya akan ada rapat Direksi. Sebagai gantinya Bruce meminta Sisilia menemani Lestari fitting baju. Mengingat Sisilia sangat pintar memilih gaun untuk wanita. Orang kepercayaan Bruce sangat bisa diandalkan.
Ting...
Tong...
Sisilia membunyikan bel pagar.
''Selamat pagi. Anda ingin perlu dengan siapa?'' tanya Security. Dari balik pintu pagar rumah Lestari.
Security itu belum mengenal Sisilia Karena ini kali pertama dia melihat Sisilia.
''Ibu Lestari, ada?'' tanya Sisilia.
''Ada.'' sahut Security.
''Baiklah. Tolong buka pintu pagarnya aku utusan dari tuan Bruce ingn bertemu dengan Ibu Lestari.'' Sisilia sudah gerah dengan sikap Security yang enggan membuka pintu pagar untuk dirinya.
''Maaf, aku tidak mengenal dirimu karena kau tidak pernah datang. Mari silakan masuk.'' Security itu meminta maaf. Ia pun bergegas membuka pintu pagar.
Sisilia menaikkan satu sudut bibirnya dia lalu masuk melewati Securirty itu begitu saja.
Sisilia masuk ke ruang tamu ia duduk di sofa. Tati segera berlari menaiki anak tangga karena Lestari masih bersiap-siap di kamarnya.
Tok...
Tok...
Tok...
''Non, di bawah ada tamu. Katanya utusan dari tuan Bruce.''
''Biklah. Suruh dia tunggu lima menit lagi aku segera turun.'' sahut Lestari yang baru saja selesai menggores lipstik di bibir ranumnya.
Benar saja setelah Tati menuruni anak tangga Lestari pun langsung mengikuti Tati.
Ibu satu anak itu terlihat sangat cantik. Dia mengenakan blouse tanpa lengan di padu dengan celana pendek diatas lutut. Tidak lupa dia padukan dengan tas branded keluaran baru dari Spanyol.
__ADS_1
''Selamat pagi, Nona.'' Sisilia berdiri menyambut Lestari yang menginjak anak tangga terakhir.
''Pagi. Apakah kau yang akan menemani aku fiting baju pengantin?'' tanya Lestari seraya mengulurkan tangan untuk bersalaman.
''Benar, Non.'' keduanya bersalaman.
''Baiklah. Kita berangkat sekarang.'' sahut Lestari.
"Baiklah."
Karena, tadi pagi Bruce sudah menelepon Lestari. Bruce meminta maaf tidak bisa menemani Lestari fitting baju karena ada rapat di perusahaan. Sebagai Presdir, dia harus hadir karena hari ini sidang untuk pergantian CEO di perusahaan miliknya. Dia harus melihat langsung proses pemilihan CEO baru. Dan siapa orang itu. Bruce tidak mau asal-asalan memilih CEO lagi. Bruce tidak ingin seperti CEO yang sekarang kerjaannya hanya wanita saja.
๐น๐น๐น๐น
Sisilia mengemudikan mobil menuju butik langgangan Bruce. Mobil diparkirkan di area Vip. Pemilik Butik sudah mengetahui Lestari akan fitting baju pengantin karena malam tadi Felix sudah menelpon. Dan hari ini khusus untuk Lestari, butik di blokir untuk umum.
''Selamat pagi.'' sapa SPG. Yang sudah menunggu di depan pintu masuk butik.
''Pagi juga,'' sahut Lestari. Sisilia pun akhirnya ikut menyapa padahal wanita bertumbuh tambun itu jarang sekali bersikap lembut kepada siapapun kecuali, Bruce.
''Mari ikut saya, Nyonya.'' SPG itu membawa Lestari ke ruangan vip khusus member. Sisilia terus mengekor dari belakang.
"Terima kasih,"
"Sama-sama,"
Lestari duduk di sofa di temani Sisilia. Sementara SPG butik itu mulai datang membawa gaun yang sudah di pesan Lestari. Dia mulai mengenakan satu gaun tanpa lengan dengan berbagai mutiara di bagian dada dan bagian bawah gaun. Warna gaun itu putih. Lestari menatap dirinya di cermin dengan di bantu Sisilia.
"Aku tampak sangat gendut mengenakan gaun ini," Protes Lestari.
"Kata siapa kau gendut? Tubuhmu bagus aku menyukai itu,"
Lestari mengernyit suara itu sangat khas. Sisilia menyebulkan kepalanya melihat keluar kamar ternyata Bruce sudah berdiri di depan pintu dia mendengar percakapan calon istri dan Sisilia karena itu dia menjawab dari luar.
Bruce memberi isyarat meminta Sisilia keluar dia yang akan menggantikan Sisilia menemani sang calon istri fitting baju karena dia juga akan fitting setelan jas nya.
"Cantik,"
__ADS_1
Bruce berdiri dari belakang mengamati gaun yang dikenakan Lestari. Lalu memutar dan berdiri di depan Lestari.Dia mengeluarkan mawar mewar dari punggung belakangnya.
"Sebagai permintaan maaf telat datang. Ini gaun keberapa?" tanya Bruce seraya memberikan mawar merah untuk Lestari.
"Gaun Kedua. Terima kasih bunganya sangat cantik." Dia mencium bunga itu menghirup begitu lama.
Lalu, ia meletakkan diatas meja di kamar itu, "Tapi,bukannya kau ada rapat? Lalu mengapa kau sudah di sini?" tanya Lestari heran. Dia melihat jam di tangannya.
"Sekarang sudah pukul dua belas siang.Pemilihan CEO sudah selesai dan aku disuruh tidur jaga perusahaan? Aku lebih baik menyusul ke sini melihat calon istriku." Bruce menarik tengkuk Lestari mendekati kening Lestari lalu ia menciu*m begitu lama.
Setelah mengecup kening Lestari. Bruce membantu Lestari mengganti gaun satu lagi ini sudah gaun kedua berharap gaun ketiga ini cocok untuk Lestari.
Bruce membantu Lestari menarik kancing resleting Gaun itu. Dan sesuai yang diinginkan Bruce pas dan sangat cantik di tubuh Lestari.
"Kamu seperti malaikat sayangku. Sayangnya, kamu nggak memiliki sayap. Tapi lebih baik nggak ada sayap aku susah menangkap kamu," ucap Bruce dia tak henti-hentinya mencium punggung Lestari yang terekspos tidak di tutupi gaun.
"Bisa aja kamu sayang. Apa kau lupa aku sudah memiliki satu anak." Lestari memang begitu jika Bruce terlalu berlebihan memuji dirinya dia pasti langsung menyadarkan Bruce bahwa dia seorang janda satu anak.
"Aku mencintai kau apa adanya. Aku mencintai kau karean ketegasan dirimu dan pendirimu yang tidak goyah dengan keputusan yang kau ambil. Bukannya sekarang aku juga seorang ayah? Putri sudah memanggil aku 'Papa' berarti dia juga anakku." Bruce mendekatkan bibirnya dengan bibir Lestari. Dia lalu menciu*m bibir Lestari. Lama dan dalam.
"Tolong jangan mengingat masa lalu lagi. Kita menatap masa depan merajut rumah tangga kita dengan penuh cinta. Dengan semua yang baru, kita buang semua kenangan buruk yang menggangu masa depan kita. Aku mencintai mu terus dan terus Lestari Filipo. Kau sekarang candu bagiku." Dia memberi gigitan kecil di bibir bawah Lestari lalu membantu Lestari melepaskan gaun itu lagi. Karena pilihan mereka jatuh di gaun keempat. Wajah Lestari sudah merah merona dia tidak bisa menutup slaaha tingkahnya. Jujur jika berada disamping Bruce, Lestari selalu dibuat salah tingkah dengan pujian dari Bruce.
Lestari bingung sejak mereka di Jerman waktu itu. Bruce pintar sekali memuji Lestari. Wanita itu penasaran dari mana kekasihnya itu belajar romantis?
Setelah bermesraan. Bruce meminta SPG mengantarkan baju Setelan jasnya untuk ia coba. Dan pilihan Bruce jatuh kepada jas hitam dan kemeja putih dipadu tuxedo kupu-kupu hitam.
Setelah selesai fitting baju keduanya berjalan keluar dari butik karena waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Lestari ada janji dengan salon dia akan melakukan perawatan tubuh.
"Sayang aku langsung pulang ya. Orang salon pasti sudah menunggu aku di rumah." ucap Lestari saat dia masuk ke dalam mobil.
"Baiklah. Tapi setidaknya kau makan sedikit dulu . Aku tidak ingin kau sakit karena terlalu banyak diet." Bruce memasang sabuk pengaman ditubuh Lestari.
"Kita cari Resto terdekat di sini aja. Aku tidak ingin membuat orang salon menunggu aku lama. Please mengertilah sayang," Lestari membalas ciuman Bruce.
"Baiklah." Bruce tidak ingin Sang kekasih marah dia pun bergegas menginjak pedal gas mobil memacukan mobil menuju restoran seafood di sekitar Butik.
๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1
Doain ya siang aku up lagi soalnya ini up 4 novel๐๐.