
Rico merapikan meja kerjanya. Karena, tidak ada agenda lagi, dia memutuskan pulang lebih awal sebelum jam lima sore waktu orang pulang kantor. Dia menentang tas laptop dibahunya lalu meraih kunci mobil. Pria itu segera berjalan keluar meninggalkan ruang kerjanya.
Sekretaris yang duduk di depan pintu ruang kerja Rico, berdiri membungkuk kan badannya, " Tuan," ucapnya.
"Saya pulang dulu mau jenguk Ayah. Jika ada pekerjaan atau urusan yang penting, tolong hubungi saya ya," pesan Rico.
"Baik, tuan." Sekretaris itu mengangguk mengerti.
Setelah yakin sekretaris nya mengerti. Rico melanjutkan langkahnya menuju lift. Dia memencet tombol lift itu setelah pintu lift terbuka Rico melangkah masuk ke dalam lift.
Lift berhenti tepat di lantai lobby.Rico segera keluar berjalan menuju area parkir mobil. Dia masuk ke dalam mobil dan menginjak pedal gas mobil menuju rumah sakit tempat Filipo dirawat.
Dalam perjalan menuju rumah sakit dia berharap semoga pria yang tadi datang bersama Lestari, tidak ada di rumah sakit itu, karena jika pria itu ada akan merusak moodnya.
Akhirnya satu jam sudah perjalan Rico dari kantor tiba juga di rumah sakit Filipo dirawat. Rico segera memarkirkan mobil dan turun. Tidak lupa dia membawa parcel buah ditangan kanan yang tadi dia mampir beli di toko buah. Sedangkan, tangan kiri menenteng tas laptopnya. Tampak Rose sedang duduk bersender dikursi yang terbuat dari aluminium putih itu matanya menerawang diatas langit rumah sakit.
__ADS_1
Rico terenyuh dia tau Wanita itu tengah rapuh, sedikit banyak Rico tau perjalanan cinta Filipo dan Rose. Sepasang sejoli itu bisa dibilang cinta sejati, jarang sekali terdengar mereka berselisih paham apalgi sampai bertengkar hebat, tidak pernah terjadi didalam rumah tangga Filipo dan Rose. Jadi, wajar jika kini ia terpukul dengan keadaan Filipo seperti saat ini. Rico, mengutuk Tifani jika bukan perbuatan Tifani, Filipo pasti tidak mengalami koma seperti sekarang.
Rico melangkah perlahan datang menghampiri Rose, masih dengan sikap sopannya seperti dulu. Walaupun, dia sedang ada masalah dengan Lestari namun Rico masih menghormati kedua orang tua Lestari. Karena, dia sadar tanpa mereka, dia dan keluarganya bukan siapa-siapa.
"Bunda..." panggil Rico.
Mendengar ada yang memanggil dirinya, Rose sadar dari lamunannya. Dia mendongak menatap Rico.
"Rico...dimana Lestari?" Lirihnya.
"Terima kasih." ucap Rose ketika melihat ada berbagai macam buah yang dibawa Rico.
"Sama-sama. Maaf hanya bawa buah." balas Rico.
"Maaf. Rico baru datang itupun tau dari Lestari. Dia masih singgah rumah," lirihnya berbohong.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, bunda mengerti." sahut Bunda dengan mengelus lembut bahu Rico. " Kamu apakabar, Nak?" tanya Rose.
"Baik, Bunda." Rico menunduk sedih.
"Sesekali pulanglah ke rumah temui Putri kecilmu. Walaupun ada masalah setidaknya anakmu selalu merasakan kehadiran papanya," Rose menatap Rico.
"Maaf'kan Rico, Bunda." Tak terasa butiran kristal itu jatuh membasahi pipi Rico.
"Tidak apa-apa, Bunda mengerti. Semua atas izin yang kuasa. Mungkin jodoh kalian hanya sebentar. Semoga dengan kejadian ini baik kamu atau Lestari lebih dewasa lagi dan berkaca dari masalah ini untuk masa depan yang akan datang. Ayahmu belum tau masalah rumah tangga kalian, Bunda tidak tega menyakiti Ayah." Tangannya masih terus mengelus bahu lebar Rico.
Rico tidak bisa menatap Rose. Malu, kecewa dan sedih semua bercampur aduk.Rasanya dia ingin berteriak meminta ampun atas semua kesalahan bodohnya. Tapi, semua sudah terlambat kehancuran rumah tangganya sudah terjadi.Dia harus rela melepas orang-orang baik yang pernah ada dalam hidupnya.
"Ayah gimana kabarnya? Kata Lestari Ayah di ICU?" Rico mulai mengalihkan pembicaraan karena dia tau pasti Rose akan terus berbicara panjang lebar dan itu akan semakin membuat dia terpojok.
"Ayah di ICU itu," tunjuk Rose ke arah ruangan dimana Filipo dirawat.
__ADS_1