Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Lepas kangen


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, Rico bergegas keluar dari ruang kerjanya, ia berjalan ke arah lift, Pintu lift terbuka, ia masuk tanpa menyadari siapa yang berada didalam lift.


"Kapan?"


Rico mengernyit, mendengar suara itu tidak asing bagi nya.


"Nggak bisa, aku capek bangat hari ini,"


Rico menoleh ternyata Lestari. Dia hanya tersenyum kecil, karena tidak mungkin mengganggu Lestari yang sedang menelpon. Rico memilih mengabaikan Lestari yang sedang berdebat kecil disambungan telepon.


Lift terbuka, Rico bergegas keluar meninggalkan Lestari. Ayah satu anak itu hanya menunduk dan tersenyum lalu meninggalkan Lestari di lobby. Rico harus segera tiba di rumah Lestari, dia tidak bisa menahan rindu untuk Putri semata wayangnya.


Sejak perceraian dia dan Lestari. Dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Putri. kecuali, dia keluar kota untuk mengawasi pembangunan disana barulah dia absen bersama Putri. Rico masuk ke dalam mobilnya, dia melajukan mobil menuju rumah Lestari. Sementara Lestari masih asyik menerima panggilan di lobby utama. Sesekali Lestari tersenyum, namun sesekali dia mengumpat kesal.


"Nggak bisa, Bruce. Hari ini aku harus harus temani ayah kontrol," tolak Lestari.


[Nggak, bisa gitu dong sayang, aku uda persiapkan semuanya. Kita dinner berdua, nggak ada acara yang penting.]


"Lihat aja nanti.Tapi, aku nggak janji."


Panggilan diakhiri Lestari. Dia pun segera ke depan karena sopirnya sudah menunggu di depan lobby.


"Langsung ke rumah." Dia Kembali menutup pintu mobil. Lestari menyenderkan kepalanya di senderan kursi mobil. Terlihat jelas wajah lelahnya, ya dia lelah kerja ditambah sikap Bruce yang posesit. Bruce, yang selalu ingin tahu Lestari ke mana dan bersama siapa saja.


Capek, malam nanti rencananya dia yang akan menemani Filipo kontrol. Namun, Bruce harus memaksa dinner bersama, ''Shi*ft.'' Rasanya dia ingin menyerah dan hidup seorang diri selamanya.


"Ibu, baik-baik saja." Kris melirik dari kaca spion, dia melihat Lestari memijit keningnya.


"Kemudi mobil dengan benar.Tidak perlu memperhatikan aku," sanggah Lestari kesal.


♥️♥️♥️♥️♥️


Bruce, mengepal.Tangan satunya menempelkan ponsel ditelinga kirinya.


"Bagaimana, semua sudah siap?" Dia tidak sabar, walaupun Lestari sudah menolak ajakan dinner malam ini namun Bruce belum menyerah. Dia tau wanita suka kebalik maunya. Jika mengatakan tidak berarti wanita itu mau.


"Baru lima puluh persen, tuan." Mendengar jawaban dari Felix. Bruce menghela napas.


"Segera selesaikan sebelum waktu yang aku tentukan. Kau, tau aku tidak suka mengulur waktu." Ia langsung mengakhir panggilan.

__ADS_1


Bruce berjalan keluar dari markas, Ia harus ke mansion untuk mempersiapkan diri untuk dinner nanti. Jika, malam ini dia tidak melamar setidaknya Lestari mau diajak dinner.


Hal ini yang ditakutkan Bruce'penolakan'. Dulu, Tifani suka menolak bahkan malu diajak jalan bersama dan pada akhirnya Bruce tau ternyata Tifani memiliki kekasih selain dia.


Ting...ting..


Bruce bergegas masuk mobilnya.


Brem...


Ia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi tidak peduli jalan padat merayap, Ia terus menyalip mobil-mobil di jalan kota Madrid hingga mobil putih mahal itu menghantarkan dia ke salah toko perhiasaan. Bruce memarkirkan mobilnya di area parkir.


Ia segera keluar dari mobil, lalu Bruce berjalan ke toko perhiasan itu. Disana ada seorang pria paruh baya yang sedang menunggu Bruce datang.


''Tuan.'' Begitu pintu di buka pria paruh baya itu langsung menyapa Bruce dengan ramah.


''Selamat sore, pak Alveras.''


''Selamat sore, Tuan. Silakan duduk.'' Dia berdiri lalu menarik stol untuk Bruce duduk.


''Terima kasih. Bruce menarik stol itu lalu mendudukan tubuhnya diatas stole tadi.


''Bagaimana sudah selesai?'' Bruce tidak sabar melihat hasil pesanannya.


Cincin itu hanya dikenakan oleh para ratu di negara kerajaan, Cincin yang persis dengan cincin yang dikenakan oleh seorang istri dari pangeran Inggris.


Bruce mengamati cincin itu dengan seksama, setiap bagian yang dari bentuk mahkota dan permatanya diperhatikan Bruce dengan teliti. Dia harus memberikan yang terbaik, karena Lestari wanita pilihan dan terakhir dalam hidupnya.


''Bagus.'' Bruce menyerahkan cincin itu lagi kepada Alveras.



''Terima kasih, Tuan.'' Alvares menerima cincin itu lalu meletakan di sebuah kotak kecil berbentuk mawar putih. Kemudian, dia memberikan lagi kepada Bruce.


''Semoga, tuan berhasil.'' Alvares tau, Bruce bukan pria royal kepada wanita. Alvares juga baru dua kali menerima pesanan dari Bruce.


''Terima kasih, pak.'' Bruce menerima cincin itu.


Lalu, Bruce mengelurkan dompetnya. Tidak membayar dengan dolar namun kali ini dia meletakan cek tertulis dua miliar.

__ADS_1


"Ini sangat mahal, Tuan." Walaupun Alvarez tau Bruce mafia kaya raya.Dia tidak pernah membicarakan harga dengan Bruce.


''Sesuai dengan barang yang kau desain untuk aku. Aku menyukai semua desainmu.'' Bruce kagum dengan desain perhiasan Alveras.


''Terima kasih, atas pujian tuan.'' Alveras menunduk sopan.


''Sama-sama. Baik, saya pulang dulu. Mungkin saya akan ke sini lagi.'' ujar Bruce. Sebelum meninggalkan tempat Alvares.


''Baik. Dengan senang hati, saya menunggu kedatangan tuan digubukku ini lagi." sahut Alvares.


Bruce segara masuk ke mobilnya, dia melajukan mobilnya menuju Mansion miliknya.


♥️♥️♥️♥️


Rico menghentikan mobilnya didepan rumah Lestari. Putri yang tengah bermain di ruang tamu bersama Nani, berlari menyambut kedatangan Rico.


"Papi, datang." girang Putri, dia segera memeluk kedua kaki Rico.


Rico, menunduk dia menggendong Putri.


"Sayang, Papi bersihkan badan dulu.Papi masih bau," Rico menggerakan hidungnya seprti orang mencium bau.


"Nggak. Papi wangi," Putri mencium pipi Rico.


Tidak peduli wajah Rico lengket karena keringat bagi Putri ayahnya tetap wangi.


"Tapi, papi dari luar sayangku. Putri main dulu dengan Nani okey, anak cantik?"


Nani datang menggendong Putri. Rico bergegas ke kamar atas. Setelah bercerai Rico, tidak lagi masuk ke kamar dia dan Lestari yang dulu. Rico memilih ruangan di lantai tiga.


Lestari sudah selesai makan, dia berjalan ke ruang tamu.


"Papi udah datang? Gimana jadi ngajak Putri berlibur?" tanya Lestari, seraya mendudukkan tubuhnya disofa.


"Aduh! Putri lupa." Putri memikul keningnya.


"Nani, temani Putri ke kamar Papi." Putri menarik tangan Nani.


Dia tidak sabar, ingin memastikan kepada Rico benar atau tidak mereka liburan. Lestari tersebyim, melihat anaknya yang tidak sabaran.

__ADS_1


"Put, Putri, nanti papi selesai mandi baru Putri tanya Papi." ujar Lestari.


"Okey." Putri menunduk sedih.


__ADS_2