
Rico berjalan menuju ruang ICU, ada rasa takut, ragu, bersalah dan sedih bercampur aduk jadi satu. Rose terus menatap punggung Rico hingga menghilang dari pandangannya. Wanita itu tau Rico ragu menemui Filipo.
Setelah mengenakan baju pengunjung pasien dan mencuci tangan. Rico perlahan mendorong pintu, dia masuk dengan langkah yang sangat perlahan. Baru saja sampai depan ranjang Filipo berbaring. Seketika air matanya jatuh.
''Ayah,'' lirih Rico.
Dia tidak tega melihat banyak selang terpasang ditubuh Filipo. Ia menarik kursi lalu duduk tepat disamping bed pasien Filipo berbaring. Rico menggenggam tangan Filipo yang terpasang selang infus.
"Ayah... Apakabar? Maaf Rico baru datang jenguk. Rico, janji walaupun Rico dan Lestari harus berpisah. Tapi, Rico akan terus menjadi anak lelaki dari Ayah. Seperti dulu Ayahku dan Ayah Filipo berjanji. Rico juga akan selalu melindung Lestari, Rico akan menjadi ayah yang baik untuk Putri. Malam ini Rico akan tidur di rumah untuk menemani Putri." Tanpa ia sadari air matanya jatuh lagi dari pelupuk matanya. Rico membiarkan tanpa ia seka sama sekali.
Dipandanginya garis monitor itu berjalan sedikit lebih cepat dari awal dia masuk. Monitor jantung itu pun berbunyi dengan cepat Rico memencet tombol disamping ranjang Filipo.
Perawat dan dokter datang.
"Ada apa pak?" tanya seorang perawat dia langsung mengamati cairan infus.
Rico berdiri memberi ruang untuk tim medis memeriksa Filipo.
"Monitornya berbunyi dan garisnya berjalan lebih cepat." jelas Rico dia menunjuk ke arah monitor jantung.
''Baik. Kami akan segera memeriksanya," sahut dokter berkaca mata itu. Matanya melirik ke arah monitor.
Dengan cegatan dokter itu menempelkan tetoskop didada Filipo, lalu beralih di pergelangan tangan Filipo, dokter itu meraba-raba nadi Filipo. Lalu mengambil senter kecil memeriksa mata Filipo. setelah proses pemeriksaan selesai dokter itu menarik napas lega dengan bibir tersenyum.
"Pak Filipo sudah sadar. Tapi, masih belum sadar penuh mungkin setengah jam lagi akan sadar penuh. Setelah sadar penuh, tim dokter akan segera tentukan jadwal operasi jantung pak Filipo," jelas dokter itu.
__ADS_1
Rico mengangguk, dia juga ikut merasa lega akhirnya penantian satu malam satu hari berakhir juga. Filipo sadar berarti jantungnya akan segera dioperasi. Setidaknya tidak menambah beban di Lestari.
Setelah periksa tim dokter keluar meninggalkan Rico diruang ICU itu. Rico tersenyum menatap wajah Filipo, bola mata Filipo bergerak tapi matanya masih belum terbuka.
"Ayah kenapa? Kenapa Rico disini baru Ayah sadar?" Rico meremas tangan Filipo.
'Aku ingin menghajar kau,' batin Filipo.
Karena dia bisa mendengar tapi sama belum bisa membuka mata atau berbicara.
*****
Lestari dan Bruce dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dalam mobil Lestari hanya diam saja dia terus memikirkan ucapan Bruce di Resto mereka makan tadi.
"Oya...malam nanti kamu nginap di rumah sakit atau pulang?" Tanya Bruce dia melirik sebentar lalu kembali fokus menyetir.
"Iya juga apalagi kan Rico tidak ada. Tapi, tadi kata Rico dia mau pulang ke rumah
mu loh." Bruce tersenyum sinis.
"Kalau dia nginap dirumah mungkin aku akan menemani bunda dirumah sakit aja," sahut Lestari menghela napas.
"Makanya aku tanya. Kalau, kamu nginap dirumah sakit aku tinggalkan kunci ruanganku biar nanti kamu dan bunda tidur di ruang kerja ku saja, disana ada ranjang cukup buat dua orang." Bruce memutar stir, mobil putih itu berbelok masuk ke basement rumah sakit.
"Emang nggak apa-apa? Kamu yakin bisa percaya aku dan Bunda?" Lestari terkekeh.
__ADS_1
"Kenapa? kan hanya ruangan kerjaku. Aku malah berharap lebih kamu mau aku tinggalkan hatiku bersama kamu disini," lirih Bruce hampir saja tidak kedengaran.
Lestari merona dia malu dengan ungkapan Bruce barusan. Bruce membuka pintu mobil dia mempersilakan Lestari turun. Setelah Lestari turun dia dengan cepat meraih tangan Lestari lalu menggandeng.
Lestari merasa risih namun tidak bagi Bruce. Pria itu seakan ingin menunjukkan kepada seluruh karyawan dirumah sakit itu jika dia telah menemukan tambatan hatinya. Didalam lift Bruce menatap wajah Lestari.
"Tari...jika urusan perceraianmu sudah selesai izinkan aku mengisi hari-hari mu." Tatapan nya begitu serius, dia menggenggam jemari kurus itu semakin erat.
"Aku belum bisa jawab.Aku takut memberi harapan palsu." Lestari menunduk.
"Baik aku akan tunggu disini. Aku juga akan selalu bersedia ada disaat kamu membutuhkan bantuan. Aku mohon jangan ragu ya untuk meminta bantuan apapun kepada aku. Anggap saja aku securitymu." Dia melingkarkan tangan dipinggang Lestari. Namun, dengan cepat Lestari melepas tangan Bruce.
"Aku akan menjadi security hatimu," bisiknya perlahan ditelinga Lestari. Deruan napas Bruce membuat hati Lestari berdebar-debar. Wajar dia wanita normal. Apalagi sudah lama tidak disentuh.Namun, dengan cepat Lestari menyadarkan diri agar tidak jatuh kedalam dosa.
"Aku bilang kamu harus sabar menunggu. Tunggu sampai proses perceraianku selesai," ujar Lestari. Dia berusaha menetralkan napasnya.
Bruce tersenyum sinis. Dia juga berusaha menahan diri ada sesuatu yang menuntut didalam sana. Dia merasa dia telah dikuasai oleh nap*su. Tangannya menahan tengkuk Lestari dia mendekatkan bibirnya dengan bibir Lestari namun baru saja dia ingin menyentuh bibir itu, lift terbuka. Bruce mendengung kesal. Lestari tersenyum lega.
"Sialan!"
"Ayo...bundamu pasti sudah menunggu," ucap Bruce mereka keluar dari lift. Lalu segera berjalan menuju ruangan Filipo. Dikoridor Rose sudah menungg disana bersama Rico.
Lestari menghentikan langkah nya. Dia berusaha melepas genggaman Bruce.
"Kenapa? Kamu takut karena ada Rico? Apa kamu masih cinta Rico?" Wajah Bruce seketika berubah menjadi dingin.
__ADS_1
"Bukan hanya saja aku merasa kurang enak. dilihat bunda dan Rico. Apalagi aku belum menjawab 'setuju' soal ungkapan hatimu. Aku juga belum resmi bercerai aku tidak ingin bunda juga salah menilai aku dengan melihat kita seperti ini," jelas Lestari.
"Baiklah.Tapi, jika kamu sudah memberi jawaban aku tidak akan pernah melepas kamu lagi. Ingat perkataanku ini." Bruce berusaha menahan emosinya.