Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Semangat!


__ADS_3

Tifani melirik ke arah batas kaca, dia tersenyum kepada dua orang yang sedang menatap ia dari batas kaca itu. Air matanya kembali jatuh melihat mata bulat bak kelinci kecil yang terus menatap dia penuh cinta siapa lagi jika bukan Putri.


Tifani memajukan bibirnya ke depan memberi cium jauh untuk Putri. Balita itu mengangkat kedua tangannya keatas Kepala lalu membentuk lingkaran hati diatas kepalanya bibirnya mengukir senyum manis, "Tante janji nggak boleh nangis. Harus kuat demi Papi Rico. I love you, Tante." teriaknya. Hingga membuat Tifani tertawa gemas. Anak kecil memang tidak bisa berbohong ia akan mengatakan suka jika ia suka, dia akan benci jika dia tidak menyukai seseorang.


Akhirnya, perawat masuk dan mulai melakukan persiapan operasi. Tifani hanya melakukan operasi Lumpektomi dimana operasi kanker payudara yang diangkat sebagaian jaringan payudara saja. Karena Tifani pasien dengan kanker stadium awal. Namun, ia tetap harus mengikuti semua prosedur sebelum dioperasi.


Bruce datang berdiri disamping Rico dan Putri, " Pakah perawat sudah masuk?" tanya Bruce.


Rico balik menatap Bruce, " Iya, sementara diambil darah," jawab Rico. Ia melangkah mundur memberi ruang untuk Bruce melihat Tifani.


"Jangan cemas. Tadi aku dan Lestari sudah menanyakan secara rinci di dokter kata dokter, Tifani hanya biopsi saja. Operasinya maksimal lima jam." jelas Bruce.


"Iya. Semoga semuanya berjalan lancar. Aku mohon maafkan kesalahan Tifani, agar operasinya berjalan dengan lancar." Rico menatap Lestari dan Bruce bergantian dari sorot matanya ia benar-benar tulus meminta maaf yang dari hatinya yang paling dalam kepada Bruce dan Lestari.


"Hey, aku sudah memaafkan dia jauh sebelum aku bertemu kembali dengan dia." sahut Bruce sembari menepuk punggung Rico.


"Begitupun dengan aku. Aku pikir kau juga tahu bagaimana aku. Aku bukan tipe orang yang pendendam." Sahut Lestari. Dia mendaratkan satu kecupan dipipi Putri, " Sekarang bukan waktunya kita mengingat masalalu tapi kita bergandengan tangan mendukung dia dalam proses penyembuhan hingga Tifani benar-benar pulih," imbuh Lestari lagi.


"Terima kasih." Rico hanya bisa berkata terima kasih. Karena, bagi Rico mendapatkan maaf serta menjalin hubungan baik dengan kedua orang yang pernah disakitinya, dia sudah sangat bersyukur.


"Sayang kamu bisa main sendiri dulu? Mami, paman Bruce dan Papi mau bicara hal penting sebentar, boleh?" Lestari menatap Putri.

__ADS_1


"Okey, Mami." Lalu ia turun dari gendongan Rico. Putri memilih bermain ponselnya di kursi yang disediakan di koridor rumah sakit.


Lestari menatap Rico, " Co, aku mohon jika ada Putri berhentilah membahas masa lalu kita. Kamu tahu dia sempat marah waktu kita bercerai. Sekarang kita jangan merusak mental dia lagi dengan membahas masa lalu itu," Lestari merasa ucapan Rico tadi bisa saja membuat Putri bertanya-tanya ada apa sehingga ayahnya sampai memohon maaf kepada dia dan Bruce seperti itu.


"Maafkan aku, jujur aku takut." Rico menatap Bruce lalu kembali menatap Lestari.


"Kau harus kuat. Jangan takut, hanya biopsi saja artinya hanya ambil jaringan payud*ara yang bengkak tidak semua payuda*ra diambil. Nanti akan diperiksa untuk dipastikan kanker jinak atau kanker ganas kemudian Tifani akan melakukan kemoterapi sebentar," Lestari paham perasaan Rico.Tapi, sebagai calon suami dia harus kuat dan tegar agar Tifani tidak stress, biar bisa fokus pemulihan setelah operasi ini.


"Terima kasih, Tari." jawab Rico.


"Sama-sama. Jangan takut atau sedih ada kami yang berdiri bersama kau menemani Tifani hingga sembuh." Lestari tersenyum dia menepuk bahu Rico, memberi semangat kepada mantan suaminya itu.


♥️♥️♥️♥️


Setelah menunggu dua jam, akhirnya Tifani dibawa ke ruang tindakan. Ia didorong oleh perawat melewati koridor dimana Bruce, Rico dan Putri menunggu dengan cemas.


"Mami, lihat Tante Tifani didorong perawat." Putri berteriak sembari menunjuk brankar yang didorong oleh perawat semakin mendekati mereka.


Lestari berdiri matanya mengikuti jari Putri, anak perempuannya itu benar Tifani sudah didorong keluar dari ruang persiapan menuju ruang tindakan. Rico berdiri dari duduknya begitu juga dengan Bruce. Mereka menunggu Tifani untuk memberi support.


Saat didepan mereka. Perawat menghentikan brankar mereka memberi waktu untuk keluarga memberi semangat kepada Tifani. Rico, langsung mendaratkan satu kecupan di kening Tifani, " Kamu pasti bisa." ucap Rico.

__ADS_1


"Fani, semangat demi Ayah." Bruce menyeka air mata Tifani yang jatuh dari sudut matanya.


Tifani tidak bisa menjawab karena bius sudah bekerja tapi dia bisa mendengar. karena, itu Tifani menangis mendengar dukungan dari keluarga barunya. Putri digendong Bruce, anak berusia lima tahun itu mendaratkan satu kecupan di kening Tifani, dia tidak mau kalah dari papi Rico atau paman Bruce.


"Tante semangat," ucapnya tulus.


Setelah mendapat suport dari keluarga. Perawat kembali mendorong brankar menuju ruang tindakan. Sesampainya di ruang tindakan Tifani dipindahkan di meja operasi. Ada empat dokter yang terlibat untuk pengangkatan kanker Tifani.


Lampu dinyalakan dokter mulai melakukan tindakan suasana ruang operasi terlihat tegang.


♥️♥️♥️♥️


Sementara di luar ruangan operasi, Bruce menggenggam tangan Lestari erat, " Semoga Fani bisa melewati tahap operasi dengan baik. Soal pemulihan aku akan carikan perawatan dan obat yang terbaik di dunia ini untuk anakku,"


Lestari menapa Bruce, dia tidak percaya dengan keikhlasan hati Bruce. Pria ini berani menepis ego nya demi kesembuhan wanita yang dulu menyakiti hatinya, wanita yang dulu malu mengakui Bruce sebagai kekasihnya hanya karena usia mereka terpaut dua puluh satu tahun. Wanita itu tidak suka digandeng Bruce didepan umum.


Tapi, kini pria itu yang menjadi garda depan untuk kesembuhan dia. Lestari mengecup bibir Bruce sekilas.


"Dia bisa melewati masa-masa kritis. Kamu harusnya berdoa bukan mengeluh," ucap Lestari.


Berbeda dengan Rico, pria ganteng itu berjalan kesana-kemari untuk menghilangkan rasa cemasnya. Dia sudah berulang kali mengajak Putri keluar mencari camilan. Tapi, begitu ia masuk lagi rasa kwatir kembali meliputi dirinya. Dalam hati dia berdoa, semoga Tuhan mau. mendengarkan doanya karena Rico telah menyusun rencana untuk dia dan Tifani tentang masa depan mereka nanti.

__ADS_1


__ADS_2