
Di pengadilan Rico berjalan keluar dari ruang putusan. Kakinya seakan tak bertulang ia berjalan menuju parkiran dimana mobilnya diparkirkan. Sesekali Ia menghela napas kesal, sesak di dadanya tak tertahan. Rico membuka pintu mobil,dia masuk dan duduk dikursi kemudi.
Rico memukul kepalanya berulang kali diatas stir mobil. Air matanya tak henti mengalir, tangannya pun ikut memukul stir mobil.
"Bodoh, kau Rico!!! Bodoh!!! Aku akan jawab apa? Jika nanti Putri tanya kenapa aku jarang pulang? Anakku, Putri...maafkan Papi. Papi sudah gagal menjadi ayah yang baik untuk kamu sayangku, Tari izinkan aku untuk selalu bertemu dengan Putri. Dia anakku, dia darah dagingku, aku yang dulu menginginkan dia." Rico menangis diatas stir mobil menyesali semua perbuatannya. Namun, kini semua sudah terjadi tidak bisa mengubah keputusan hakim.
Bukankah, dulu Rico tidak takut berpisah dari Lestari? Kenapa sekarang setelah bercerai baru dia menyesal? Benar kata pepatah, penyesalan itu selalu datang terakhir.
Menjaga komitmen dalam pernikahan, tergantung kepada pasangan suami-istri dimana mereka mampu melewati masa terberat dalam fase pernikahan. Pada dasarnya, kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Sama halnya dengan pernikahan jika salah satu pasangan egois hanya mementingkan diri, dia hanya mencari kebahagiaan sendiri tanpa memikirkan pasangannya, seperti Rico waktu itu, dia hanya ingin dia bahagia sendiri, dia lupa di rumah ada Lestari yang setia menunggu dia pulang, berulang kali Lestari bersabar memberi kesempatan untuk dia namun kesempatan itu diabaikan Rico. Kini putusan hakim sudah sah barulah dia menyesal.
Rico membayangkan tadi malam sebelum tidur, Dia mendongeng untuk Putri. Balita itu memeluknya seakan tak ingin berpisah, " Papi...Kata mami Papi sibuk kerja jadi jarang pulang? Papi... Putri sedih lihat teman-teman putri bermain di lapangan bersama papinya. Papi mau nggak? Nanti ajak Putri bermain di lapangan, kita main kejar kupu-kupu?" Putri menatap dengan memohon.
"Argh..." Rico mengutuk dirinya.
"Bodoh!!! Tidak, aku harus membuat perhitungan dengan Tifani!"
Rico memacu mobilnya begitu kencang tidak peduli dijalanan macet, dia membunyikan klakson meminta mobil didepannya meberis jalan untuk dia, Rico menambah kecepatan mobil. Tidak peduli ada Pengemudi lain memaki dirinya, bahkan tidak sedikit yang menunjukkan jari tengah kepada Rico, melihat itu Rico hanya tersenyum sinis.
*****
Di kantor wanita cantik itu sedang berbicara dengan sekretaris pribadi Rico.
__ADS_1
"Maaf ibu, pak Rico dari pagi belum datang. Tadi pertemuan dengan klien, saya yang wakilkan," ucap sekretaris Rico.
"Masa? Kamu jangan bohong! Saya bisa laporkan kamu kepada pak Rico terus kamu dipecat, mau?" bentak Tifani.
"Duh..Bu! Buat apa saya bohong?" Sekretaris itu sudah pusing dengan Tifani.
"Kamu__"
"Apa-apaan ini? Jangan aneh-aneh deh bikin ulah dikantor! Kamu nggak buka praktek? Sekarang kerjaanmu ngintili aku di kantor?" Rico menarik kasar tangan Tifani yang hendak memukul sekretarisnya.
"Lepasin, dia harus diberi pelajaran supaya tidak kurang ajar terhadap calon atasannya." Tifani menghempas tangan Rico.
"Kamu ini dokter, tapi kelakuan mu nggak menunjukkan kamu itu seorang dokter. Dewasa sedikitlah, Fan?" Rico menghela napas.
"Gimana aku bisa sabar? Kamu dari semalam nggak pulang? Aku takut," Tifani berdiri menatap Rico.
"Aku udah bilang untuk saat ini aku fokus Putri. Jadi, aku mohon jangan ganggu waktu aku dengan anakku," timpal Rico.
"Apa? Jadi kamu nanti juga nggak pulang ke apartemen?" sahut Tifani.
"Sstt...jangan kemana-mana." Rico menempelkan jari di bibirnya lalu berjalan keluar ruang kerjanya.
__ADS_1
"Cihh..." Tifani berdecih.
"Maafkan sikap dia, aku tidak mengerti dengan wanita itu," Rico mengacak pinggang dia begitu malu dengan sekretarisnya.
"Nggak apa-apa pak." Sekretaris itu tersenyum. Dia tau Rico orang baik. hanya saja mungkin salah bergaul pikirnya.
"Makasih ya, aku masuk dulu." sahut Rico.Lalu dia bergegas ke ruangannya lagi.
"Kamu kenapa masih bicara dengan sekretaris sialan itu?" bentak Tifani.
"Terserah kamu, Fan! Aku capek hadapi sikap kamu seperti ini. jujur rasanya aku ingin sudahi hubungan kita ini saja!" Rico berjalan ke arah meja kerjanya. Dia menundukkan kepalanya diatas meja, tangannya memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit mendadak.
"Apa? Sudahi? Kamu gila, Co! Aku udah belain kamu, aku rela tinggalkan kehidupan ku sebelumnya. Hari ini, kamu minta berpisah? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!!!" Tifani melangkah mendekati Rico.
"Bukannya hari ini putusan perceraian kamu? Lalu...kenapa kamu ingin kita juga berpisah? Apa hebatnya wanita itu?" Tifani menunjuk tepat di mata Rico sedangkan tangannya satu berada dipinggangya.
Rico tersenyum sinis, " Aku mohon kasih aku waktu untuk sendiri dulu.Jika kamu sayang aku biarkan aku sendiri disini, aku mohon..." Rico memohon air matanya sudah penuh dipelupuk matanya. Jujur dia benar-benar menderita dengan perceraian sialan ini.
"Okey...Aku akan diam. Aku duduk di sofa itu menunggu kamu," Tifani akhirnya kembali ke sofa dia duduk di sofa matanya terus menatap Rico.
Rico mengibaskan tangannya. Lebih baik Tifani menajuh dari hadapan dia. Karena, saat ini di pikiran Rico hanya Lestari dan Putri. Dia juga belum tau apakah Filipo sudah tau mengenai perceraian ini apa belum. Jika sudah tau Rico sudah memikirkan tindakan dia kedepannya.
__ADS_1