
Rico sementara bergumam sendiri, dia tidak menyadari Putri sudah bangun dan duduk disampingnya. Tangan kecil Putri mengusap pelan punggung Rico.
''Papi, kenapa nangis?'' Putri menelengkan kepalanya menatap wajah Rico yang sembab.
''Papi, nggak nangis.'' Rico mengerjap. Dia kaget mendengar suara lembut anaknya.
''Mana? Papi nggak nangis. Papi hanya menguap masih ngantuk, aaa'a...''Rico berpura-pura menguap sembari menyeka air matanya.
''Tadi Putri lihat disini, ada air matanya Papi." Ia menyentuh sudut mata kiri Rico.
"Itu bukan karena nangis tapi karena menguap bisa mengeluarkan air mata, sayang." Rico mengecup pipi Putri.
"Ya, udah sana mandi. Katanya mau ke ZOO?" Rico mengalihkan pembicaraan Putri.
"Baiklah. Putri mandi dulu ya. Papi, bisa tolong siapkan pakaian Putri?" anak itu sangat pintar.
"Baiklah. Putri bisa mandi sendiri?" Rico pikir anaknya baru berusia lima tahun belum tentu bisa mandi sendiri. Apalagi Rico, tau Putri di rumah Lestari masih banyak tergantung kepada susternya.
"Bisa. Putri bisa. Kata mami, anak perempuan itu nggak boleh di sentuh pria." Dia berbicara sembari menganggukkan kepalanya.
"Tapi kalau papi nggak apa-apa sayang. Putri anak papi,"
"Nggak boleh. Putri udah besar!" Dia meyakinkan Rico.
Putri yang mengingat pesan Mami Lestari terus ngotot. Akhirnya, Rico pun menyerah dan membiarkan Putri mandi sendiri. Rico menyiapkan pakaian Putri, ia meletakkan diatas sofa.
Melihat anaknya sudah masuk ke kamar mandi, Rico berniat menelpon Lestari. Namun, saat dia menggeser layar ponselnya ada banyak notifikasi panggilan masuk yang tidak terjawab. Rico menscroll semua nomor tidak ada yang dia kenal dan setiap panggilan yang masuk, menggunakan nomor yang berbeda.
"Siapa? Kenapa menelpon saya dengan tengah malam seperti ini?"
Rico mengabaikan penelpon itu. Dia memilih menelpon Lestari.
"Tari, aku ganggu kamu nggak?" tanya Rico.
"Nggak, aku tadi mau nelpon kamu.Tapi, uda keduluan kamu yang nelpon." jawab Lestari.
"Oh gitu. Maaf kalau begitu. Aku hanya mau tanya apa benar Putri bisa mandi sendiri?" tanya Rico.
Dia ingin tau jika itu benar, berarti betapa bodohnya Dia. Rico banyak sekali melewatkan moment tumbuh kembang Putri dari usia nol bulan hingga lima tahun.
"Ya dia bisa mandi sendiri. Tapi, begitu, ngga sebersih kita yang mandiin." jelas Lestari.
"Emangnya ada apa?" Lestari mengernyit.
__ADS_1
"Nggak, tadi aku tawarin mau mandiin dia .Tapi, Putri ngotot nggak mau katanya pesan Mami seorang pria nggak boleh menyentuh seorang wanita.Hahah," Rico tertawa. Dia baru menyadari anaknya itu udah besar dalam artian bisa memprotes.
"Ya, aku selalu pesan seperti itu, apalagi Putri sudah sekolah, kwatirnya di sekolah ada cleaning servis pria. Jika kita tidak pesan bagaimana jika saat dia mau ke toilet dan di sana ada cleaning servis pria yang membantu mereka ke toilet. Kita orang tua tidak tahu, apa yang mereka lakukan terhadap anak di dalam toilet. Sekarang banyak sekali godaan setan yang tidak kita sangka. Dan kejadian seperti itu sering terjadi karena kepercayaan guru terhadap sang pekerja." Lestari tersenyum.
"Kamu, ibu yang luar biasa memikirkan hal sedetail itu. Terima kasih, sudah mendidik anak kita menjadi anak yang hebat, berani menolak dan menentang hal yang menurut dia tidak boleh." Rico menghela napas.
"Sama-sama. Kamu, lupa aku pernah bilang aku akan menyerahkan hidupku hanya untuk Putri," balas Lestari.
Mendengar jawaban terakhir dari Lestari, Rico mencebik, ' Tapi kamu sekarang ingin mengganti posisi ku dengan sosok yang menurutmu jauh lebih baik dari aku,' batin Rico.
Saat keduanya masih bercerita, Putri yang sudah selesai mandi dia berjalan keluar dari kamar mandi menuju kamar dimana Rico sedang duduk di sofa kamar.
"Papi, menelpon siapa?" tanya Putri dia bergegas menghampiri Rico.
"Mami, sayang." Rico menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Apa ini Mami, Papi?" Putri menatap Rico.
"Ya, sayang itu Mami.Putri mau bicara dengan Mami?" tawar Rico.
"Boleh. Putri mau cerita ke Mami kalau sebentar lagi Putri mau berangkat ke Zoo," jawab Putri.
"Baiklah. Kamu berbicara dengan Mami. Papi ganti pakaian dulu ya dikamar mandi." Rico pun menyerahkan ponsel ke Putri, dia bergegas ke kamar mandi untuk berganti pakaian
"Wah...anak pintar. Putri nanti ke Zoo, sore harinya kalau pulang minta Papi langsung antar Putri ke rumah Mami ya biar besok berangkat sekolah nya nggak telat." ucap Lestari.
"Baiklah.Udah duyu ya mam. Putri mau siap-siap. Nanti Putri kirim foto ke Mami ya. I Love You, Mami."
"Love you too, sayangku." balas Lestari.
Panggilan pun diakhiri.
♥️♥️♥️♥️
Selesai menerima panggilan dari Putri dan Rico. Lestari pun sudah bersiap-siap menunggu Bruce menjemput dia untuk menonton bioskop berdua sesuai janji Bruce tadi malam. Dia tidak ingin terlambat karena Bruce mengancam jika terlambat dia akan memberi hukuman berat.
Benar saja, baru saja Lestari keluar dari kamarnya. Bruce sudah menghentikan mobilnya didepan rumahnya. Dia bergegas keluar menemui Bruce yang baru saja menghentikan mobilnya didepan rumahnya.
''Hai, aku belum terlambatkan?'' Lestari tersenyum, dia membuka pintu mobil lalu masuk dan duduk disamping Bruce.
"Belum. Apa kamu takut dihukum?" Bruce mengedipkan mata.
"Sedikit." Lestari memasangkan sabuk pengaman dengan baik.
__ADS_1
"Sudah. kita berangkat." Bruce memastikan klikan sabuk pengaman lalu tangannya menyentuh pipi Lestari kemudian dengan santainya melayangkan satu kecupan di bibir Lestari, " Manis!"
"Dasar!" Sungut Lestari.
Bagaimana dia tidak kesal, Bruce mengambil kesempatan. Dia sengaja mengecek sabuk pengaman lalu dengan santai mencium bibir Lestari sebentar.
"Itu hukuman." balas Bruce.
Bruce mulai melajukan mobilnya menuju sebuah bioskop terkenal di kota Madrid.
🌹🌹🌹🌹🌹
Putri sudah selesai megenak pakaian. Dia dan Rico mulai sarapan bersama diruang makan, tadi pagi Rico bangun lebih dulu dia membuat sandwich dan jus jeruk.
Rico, menanyakan kebiasaan Putri biasanya pagi minum jus apa saja. Dan Lestari memberitahu jika Putri suka jus jeruk dan jus tomat dipagi hari. Jika sore hari Putri suka jus Alpukat dan jus wortel.
"Hmmm...enak banget sandwichnya ,Pi." puji Putri seraya menyuapkan sandwich ke mulutnya.
"Putri suka sandwichnya? Nanti, Papi akan buatkan untuk Putri lagi. Jus nya gimana, enak nggak?" tanya Rico penasaran dia ingin tau pujian Putri untuk jus buatannya.
Putri meraih cangkir jusnya lalu meneguk, "Hmmm..enak banget jus buatan papi ." puji Putri lagi.
Rico tersenyum bahagia.Dia berjanji dalam hatinya akan membayar waktu yang telah dia lewatkan selama lima tahun itu.
🌹🌹🌹🌹🌹
Felix sudah tiba di yayasan di peduli kanker. Felix turun dari mobil sport kuningnya.
"Selamat pagi, pak." ucap Felix sopan.
Felix, jika bertemu dengan klien atau ada urusan yang bukan musuh dan di markas, dia akan melepaskan topeng dan tampil layaknya manusia normal pada umumnya.
"Pagi, Tuan. Mari silakan masuk," sahut salah satu security yang berjaga didepan pintu masuk yayasan.
"Terima kasih." sahut Felix.
"Sama-sama," balas security itu.
Felix didampingi Security itu. Keduanya berjalan masuk ke dalam yayasan untuk menemui kepala yayasan.
"Apakah kepala yayasan ada?" Felix bertanya.
"Beliau hari ini sedikit sibuk. Karena, ada doa penyembuhan untuk pasien. Di lanjut ada pengobatan kemo bagi yang sudah stadium tiga dan empat." jelas Security itu.
__ADS_1