
“ Sejak kapan kamu keluar dari kripala dan pindah ke Maladewa ? “ Ana terlihat kaget , saat Alvin mengatakan sudah mengundurkan diri dari perusahaan kripala . Padahal Alvin sendiri kan masih baru , kenapa buru - buru keluar dan lebih memilih bekerja di Maladewa .
“ Bukan nya kamu baru 3 bulan bergabung di perusahaan kripala , kenapa secepat itu mengundurkan diri ? “ tanya ana dengan heran .
Ana tidak tahu saja , Alvin bergabung di perusahaan kripala karena ingin dekat dengan diri nya dan setelah tahu status ana , Alvin malah tak punya semangat mengambil alih perusahaan yang papanya bangun untuk Alvin . Alvin malah memilih perusahaan keluarga Mama nya , karena Alvin ingin melupakan perasaan nya pada Ana .
“ Selamat pagi pak Alvin . “ sapa seorang petugas keamanan dengan menunduk hormat , saat Alvin dan Ana memasuki kantor Maladewa .
Ana tercengang saat melihat seorang petugas keamanan begitu menghormati Alvin seperti Alvin seorang bos di Maladewa saja . Karena ingin membuktikan siapa Alvin sebenarnya , Ana memperhatikan beberapa karyawan yang menghentikan langkah nya dan berdiri menunduk hormat saat Alvin melewati nya . Ternyata tidak hanya petugas keamanan saja yang memperlakukan Alvin layak nya seorang bos , karyawan yang lain pun melakukan hal yang sama dengan menunduk hormat pada Alvin . Ana jadi teringat saat pak anggoro pemilik perusahaan lewat , semua menunduk hormat termasuk dirinya .
Kemudian Ana beralih memperhatikan Alvin yang berjalan di sampingnya , Ana baru menyadari jika penampilan Alvin pun jauh lebih rapi dan berbeda dari biasa dia lihat saat bekerja di kripala , jika di kripala Alvin hanya mengenakan kemeja berwarna putih itu pun Alvin tak memasukkan kemejanya kedalam celana bahannya tidak seperti suaminya yang selalu rapi . “ Vin jabatan kamu di sini apa ? tidak mungkin seorang karyawan biasa , tapi begitu di segani kan . “ tanya ana
__ADS_1
“ Aku harus menjawab pertanyaan mba Ana yang mana dulu nih kira - kira ? “ Alvin malah balik bertanya dan itu membuat rasa penasaran Ana menjadi sirna sudah . Ana sangat tidak menyukai hal seperti itu , meski Ana tahu Alvin hanya membangun komunikasi yang baik dengan candaan nya .
Ana menghela napas panjang karena sedikit tidak senang dengan jawaban dari Alvin . Ana pun meninggal kan Alvin dan jalan mendahuluinya , Ana sudah tidak perduli lagi Alvin itu siapa , Lagian Alvin bukan siapa-siapa nya jadi buat apa dia bersikap ramah dengan Alvin yang notabene nya hanya mantan bawahan nya . “ Ya sudah jangan ada yang di jawab pertanyaan ku , lagian tidak ada yang penting dari pertanyaan ku , bukan urusan ku juga . “ balas Ana kemudian jalan lebih cepat mendekati bagian resepsionis .
“ Maaf mba, ruangan HRD sebelah mana ? “ tanya Ana pada resepsionis yang bertugas .
“ Maaf ibu ada keperluan apa yah ? “ tanya resepsionis nya .
Ana mencebikkan bibir nya dengan kesal , karena Alvin yang berada di belakang nya menyuruh resepsionis nya agar diam tidak memberitahu ruangan HRD pada ana . Resepsionis yang mengerti maksud atasan nya pun tidak menjawab apa yang di tanyakan Ana resepsionis itu malah menundukkan kepala nya , saat Alvin mendekati nurhasanah yang sedang bertanya padanya .
“ Selamat pagi pak . “ resepsionis itu malah menyapa Alvin , bukan nya menjawab apa yang di tanya kan Ana .
__ADS_1
Alvin menarik tangan ana yang berdiri di depan resepsionis , agar segera mengikuti nya . “ Ikut ! aku akan mengantarkan mba ana keruangan HRD “ Ana yang tidak suka Alvin menarik tangan nya pun langsung menghempaskan tangan Alvin dengan kasar .
“ Kamu tahu aku sudah bersuami ? jadi sangat tidak pantas jika kamu memegang tangan perempuan yang sudah bersuami seperti tadi . Apalagi suamiku itu teman kamu bukan ? “ ujar Ana dengan raut wajah menahan kesal . Ana tidak perduli ada banyak orang yang memperlihatkan nya , yang pasti ana sangat tidak suka dengan sikap yang di tunjukkan Alvin .
Alvin yang kesal dengan jawaban yang dilontarkan ana pun menarik napas dalam - dalam dan pergi meninggal kan ana begitu saja , tanpa memperdulikan ana yang belum mengetahui ruangan HRD nya di mana . “ ingin sekali mengatakan , jika suami yang di cintai nya ternyata berkhianat . “ gumam Alvin , setelah Alvin berada di dalam lift untuk ke ruangan nya . Alvin cukup menyesal juga meninggal kan ana , dalam ke adaan emosi kepadanya .
“ Kenapa jadi dia yang terlihat marah padaku ? Dasar pria aneh . “ gerutu ana saat Alvin pergi . dia pun kembali menerus kan langkah nya untuk mencari ruangan HRD tanpa memperdulikan sikap Alvin padanya .
Melihat Alvin menaiki lift yang ada di sebelah kanan , Ana memilih naik lift yang berbeda dengan Alvin lift di sebelah kiri .
Ana membulatkan matanya saat pintu lift yang ada di sebelah kiri terbuka . “ Cepat naik . “
__ADS_1
Bersambung