
''Baik. Aku pulang dulu,'' Tifani berdiri dari kursi, tidak lupa dia meraih hasil USG itu, diremasnya map berwarna coklat itu sekuat mungkin. Sebelum meninggalkan klinik dokter Clara, Ia pun mengulurkan tangannya.
''Terima kasih. Anggap saja kamu tidak pernah bertemu aku, mengenai hasil laboratorium, aku akan datang mengambilnya sendiri. Atau jika tidak merepotkan mu tolong kirim hasilnya lewat chatting saja.'' Tifani menatap lekat wajah Clara.
''Kamu, tenang saja aku bisa jaga mulutku. Obatnya jangan lupa diminum. Cepat sembuh.'' Clara bisa melihat mata Tifani, dibalik manik coklat itu tersimpan banyak luka. Clara pun tahu dari gestur tubuh Tifani, dia seperti mengharapkan Clara menjaga semua hasil pemeriksaan dia.
Keduanya berjalan keluar dari ruang pemeriksaan Clara. Sesampainya di halaman depan klinik Clara mengusap punggungTifani, ''Sebaiknya, izinkan aku mengantarmu pulang. Lihat tubuhmu mulai panas lagi, atau kamu, aku infus dulu?'' Clara menatap Tifani dia merasa iba terhadap sahabatnya itu, Dokter itu tubuhnya mulai demam lagi, bahkan matanya pun mulai berair karena panas tubuhnya sampai matanya pun memerah dan berair.
''Thanks. Kamu sudah banyak membantu aku, itu taxinya sudah datang. Aku pulang dulu, semoga kita bertemu lagi.'' Clara dan Tifani berpelukan.
''Hati-hati. Ingat aku selalu ada waktu, jika kamu membutuhkan teman cerita jangan sungkan untuk menelpon aku.'' Clara menutup pintu taxi setelah Tifani masuk dan duduk dengan benar.
Tifani menurunkan kaca mobil, dia melambaikan tangan kepada Clara lalundibalals tangan dari Clara, ketika taxi itu mulai berjalan meninggalkan halaman klinik Clara.
♥️♥️♥️♥️
Di ruang kerja, Rico sedang menopang kepalanya, pandangannya kosong kedepan.
Tok...tok...tok...
Lestari mengetuk pintu ruang kerja Rico. Wanita cantik itu, penampilanya yang elegan selalu menjadi pusat perhatian semua mata yang memandangnya. Sebagai wakil CEO, dia terpaksa harus bertemu dengan Rico karena ada proposal yang harus keduanya bahas bersama. Mengingat, Rico CEO diperusahaan Filipo sedangkan Lestari wakil CEOnya.
''Masuk.'' Rico menurunkan tangannya.
''Selamat siang." Lestari masuk dia berdiri didepan sofa. Lestari, merasa kedatangannya ke ruangan Rico buakn waktu yang tepa. Pria itu sedang banyak pikiran.
"Duduk."
"Terima kasih. Maaf jika saya mengganggu anda.''Ia mendudukkan pa*ntat nya diatas sofa. Lestari sangat profesional. Dia juga sudah melupakan konflik rumah tangga mereka yang pernah terjadi. Toh, dia pun kini sudah bahagia bersama Bruce. Mafia itu sekarang mengisi kekosongan hari-hari Lestari.
__ADS_1
''NGGAK. Saya, tidak repot sama sekali. Saya justru sedang menunggu kamu.'' Rico berdiri dari kursinya, tangannya menarik ujung jasnya, memastikn penampilannya rapi.
Rico berjalan menuju sofa, ia duduk disofa berhadapan dengan Lestari. Berkas yang dibawa Lestari diletakkan diatas meja.
''Silakan dilihat, tadi aku sudah melihatnya diruanganku.'' Lestari berkata.
''Hmmm, berarti sudah ada putusan?'' Rico mulai membuka dan membaca berkas itu, sesekali ia mengenyit.
''Aku baru berpikir namun belum memutuskan. Karena, bagaimanapun aku harus membicarakan dengan kamu karena kamu atasanku.'' Lestari tersenyum, dia mengamati pria yang sedang serius membaca berkas itu.
Kantong matanya menghitam, bahkan sekarang terlihat kurus, bulu-bulu halusnya menghiasai wajah ganteng itu. Wajah yang dulu sempat dipuja Lestari. Rico, tidak suka bulu-bulu halus diwajahnya, itu dulu.Namun, sekarang dia membiarkan bulu-bulu itu menghiasi wajahnya.
''Kamu bisa aja. Gimana kabar Putri, baik-baik aja? Maaf satu bulan ini saya berada di proyek, karena itu tidak bisa mengunjungi Putri.'' Rico meletakkan lagi berkas itu diatas meja, dia pun menyempatkan diri menanyakan kabar putri semata wayangnya.
Karena, benar apa yang dikata Rico, ia satu bulan ini sedang memantau pembangunan di Sevilla jauh dari kota Madrid. Maka itu dia tidak bisa mengunjungi Putri. Tapi, Rico selalu melakukan panggilan video call untuk mengobati rasa rindunya. Namun, Rico ingin bertemu langsung dengan Putri untuk melepaskan rasa rindunya kepada sang anak.
''Dia kemarin bercerita jika kamu pulang nanti, akan mengajak dia liburan? Aku harap kamu tidak melupakan janjimu.'' Lestari mengingatkan Rico.
''Jemput saja. Aku tidak berhak melarang kamu untuk tidak bertemu Putri. Biar bagaimana pun kamu ayah biologis Putri. Dia juga sangat mencintai kamu.''
''Terima kasih.'' Rico tersenyum.
Keduanya pun kembali membahas berkas yang dibawa Lestari tadi, melupakan Putri sebentar. Karena ini jam kerja tidak baik membahas sesuatu diluar pekerjaan. Walaupun perusaahan ini milik Lestari namun dia harus menjadi contoh yang baik bagi karyawannya.
🌹🌹🌹
Bruce mengawasi dari markas. Mafia itu, sekarang memiliki pekerjaan baru mengawasi Lestari dari markas.
Matanya tidak pernah lepas dari layar segiempat didepannya itu. Sesekali ia berdecih kesal. ketika melihat Rico dan Lestari tertawa bersama diruang kerja Rico.
__ADS_1
''Bicara apa mereka? Sudah satu jam, Lestari belum juga keluar dari ruangan Rico?'' Bruce menatap jam mahal yang melingkar ditangannya.
Felix hanya tersenyum, beginikan rasanya menjadi bucin? Sementara dia, kekasihnya itu selalu menertawakan Felix. jika Felix terlalu memberikan perhatian kepada kekasihnya itu.
"Jangan mengejekku." Bruce menatap tajam Felix.
"Kenapa kau tidak pergi kerja? Sekarang tugasmu menunggu aku diruangann ini?" Bruce menaikkan sudut bibir atasnya. Dia kesal kenapa Felix tidak pergi dari ruangan itu?
"Kerjaan saya sudah selesai. Anggap saja saya sedang menjadi obat nyamuk untuk tuan. Tapi, kenapa tidak tuan lamar saja? Bagaimana jika keduanya jatuh cinta lagi. Karena, cinta tumbuh karena sering bersama." Felix benar. Bisa saja kan? Apalagi Rico, sudah banyak berubah dia tidak mengunjungi Tifani lagi. Dokter itu hilang kabar, dia terakhir menghubungi Rico satu bulan lalu.
"Nanti malam, aku akan melamar dia." Bruce meraih ponselnya. Dia melakukan panggilan, Felix keluar meninggalkan Bruce. Membiarkan Bruce berbicara di sambung telpon seorang diri. Tidak etis, seorang bos melakukan panggilan dan anak buahnya menguping.
"Baik. Aku harap sore pukul lima nanti sudah selesai." Setelah mengatakan demikian, Bruce pun mengakhiri panggilannya.
Bruce, keluar dari ruang pribadinya.Dia berjalan keluar menemui Felix.
"Felix, kemari lah." Bruce duduk di sofa. Dia memanggil Feix yangs ednag berdiri, menyenderkan tubuhnya di pintu seraya mengamati hewan-hewan buas itu makan.
"Ada apa, tuan?"
"Kamu segera ke hotel dan blokir semuanya untuk siang ini sampai besok. Jangan lupa dari lobby sampai rooftop hiasi dengan balon dan bunga mawar merah." perintah Bruce.
Felix ingin bertanya kenapa semua mendadak.Tapi, dia ingat lagi perkataannya tadi. Felix tersenyum kenapa Tuannya begitu sensitif ketika membicarakan Lestari?
"Tuan, apa tidak terlalu mendesak? Ini waktunya sangat singkat, sekarang sudah pukul dua siang. Aku yakin tim dekorasi tidak bisa menyelesaikan sampai sore." Felix benar, Kenapa harus buru-buru?
Bruce mengangkat tangannya keatas dia meminta Felix berhenti bicara.
"Lakukan saja. Aku tidak meminta pendapat darimu.Tapi, aku memberi perintah!"
__ADS_1
"Baik.Maafkan saya, tuan." Felix pun segera pergi meninggalkan Bruce seorang diri.