
Di Apartemen.
Tifani mengerjap, tangannya meraba-raba mencari selimut karena tubuhnya mulai merasakan dingin. Betul, saat ini di Spanyol sedang turun salju. Ia akhirnya terpaksa bangun dengan kelopak matanya belum terbuka penuh, tangan nya menopang bagian lengan sofa sebagai tumpuannya. Ia mengedarkan pandangannya di sekitar ruang tamu, "Ck... menyedihkan!" Ia berdecih.
Tangannya memeluk tubuh kecilnya menahan dingin yang menusuk tulangnya seraya berjalan masuk Kamarnya, Ia berjalan menjinjit berhati-hati kwatir terinjak pecahan botol yang berserakan dilantai ruang tamu. Baru saja membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Tiba-tiba perut sialan itu tidak ingin bekerja sama dengan Tifani. Perutnya terasa aneh, kepalanya yang tadi sakitnya tidak seberapa semakin sakit, bahkan mulai merasakan pusing, memaksa Tifani harus bangun lagi.
Tifani merem*as perutnya sekuat mungkin agar bisa bertahan sampai di dalam kamar mandi. Ia menempelkan tubuhnya di pintu lalu mendorong, Pintu kamar mandi terbuka, Tifani bergegas masuk ke kamar mandi, tujuan Tifani WASTAFEL.
Tifani menundukkan kepalanya masuk ke kotak segiempat itu, lalu benar saja.
"Huekk...Hueekkk..." Ia mengeluarkan seluruh isi perutnya, cairan berwarna kuning itu keluar dari perut Tifani, dipadu bau menyengat hidung di dalam kamar mandi. Menjijikkan.
Tifani terus mengeluarkan hingga perutnya benar-benar kosong. Merasa perutnya mulai enakan, Tifani mendongak, Ia menyalakan kran air agar aliran air menyapu bekas muntah itu, Ia juga mengambil air dengan tangan nya lalu membilas mulutnya tidak lupa sedikit air diminum lalu dikumur- kumur, setelah itu bekas air kumuran dari dalam mulutnya dibuang lagi ke wastafel. Tifani mengulurkan tangannya mengambil tissue dikotak yang ditempel di dinding kamar mandi dekat wastafel, untuk mengelap mulutnya.
"Duh.. Kenapa perut ku nggak enak banget gini ya? Apa karena tadi aku belum makan apa-apa langsung ku minum alkohol? Duh..." Tifani menekan perutnya menahan sakit tak tertahankan.
__ADS_1
Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Tifani bergegas ke dapur dia mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya yang lapar.
"Ada pasta. Terpaksa aku harus masak pasta tengah malam, daripada mati kelaparan," gumam Tifani.
Dia mulai merebus air lalu memasukkan pasta kedalam panci air panas itu. Sembari menunggu airnya mendidih Tifani memotong pelengkapnya, Bombay, paprika, sosis, daging asap juga keju mozzarella. Tifani pun mulai berkutat dengan alat dapur walau perutnya terasa semakin menggigit bagian-bagian dalam perutnya.
Benar saja hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Tifani memasak. Ia mulai menyajikan pasta itu dipiring. Tifani menarik kursi kemudian ia duduk. Tangannya mulai menyuapkan pasta ke mulutnya.
"Hmm...enak," Tifani brbicara sendiri seraya mengangguk-angguk menikmati pasta buatan nya. Suap demi suap hingga piring itu kosong sesaat Tifani melupakan siapa itu Rico.
🍒🍒🍒🍒🍒🍒
Bruce meletakkan Paperbag diatas nakas. Dia pikir untuk apa ganti jika yang dipakai tidak bau dan kotor. Tadinya Bruce berpikir dress Lestari akan basah begitupun dengan punya dia tapi nyatanya semua masih layak di pakai. Ya sudahlah di simpan dinakas aja untuk berjaga- jaga jika nanti butuh.
Bruce tersenyum seraya menggaruk kepalanya ketika matanya menatap ke arah ranjang wanita itu sedang tidur tengkurap, memamerkan kaki jenjang indahnya seakan minta untuk dijamah lagi.
__ADS_1
"Tar...Tari?" Ia memanggil lembut.
"Bangun bentar, minum dulu tadi habis nangis',kan nggak boleh langsung tidur lagi," panggil Bruce lagi.
Bruce duduk di sofa kamar hotel tangannya memijit tombol remote mencari acara yang bagus. Bruce suka film action apalagi gendre Mafia, itu film favorit dirinya.
"Siapa yang tidur? Aku nggak tidur," sahut Lestari.
Bruce tersenyum sembari kedua alisnya terangkat, " Lalu?" sahut Bruce.
"Aku malu melihat kamu," balas Lestari. Ia masih betah dengan wajahnya ditutup diatas bantal.
"Aneh! Mirip anak kecil. Bangun, atau aku yang bangunin," celetuk Bruce.
"Awas aja jika berani mendekat," Ia pun bangun, lalu duduk ditepi ranjang. Wajahnya terus di tekuk malu.
__ADS_1
"Hotel ini di jalan apa?" tanya Lestari.
"Kenapa tidak cek lokasi saat ini kamu berada di internet? Yuk. sembari menunggu app pintar itu menunjukkan lokasi kamu saat ini, kemarilah minum bersama aku disini," ajak Bruce. Tangannya menepuk-nepuk sofa meminta Lestari datang duduk bersama dirinya.