
Bruce meninggalkan markas dengan kecepatan mobil tercepat, ia menambah kecepatan laju mobil. Benar, saja tidak menunggu lama mobilnya berhenti didepan rumah Lestari. Security yang sementara duduk didalam ruang pos khusus security yang menjaga rumah Lestari bangkit berdiri dari kursi. Pria berkulit hitam asal Afrika itu mengernyit, dia menyebulkan kepalanya keluar.
"Itu mobil tuan Bruce? Masa iya tuan datang subuh-subuh seperti ini?" gumam security berkulit hitam itu.
Bruce membuka pintu mobil, mafia itu keluar dari mobil dengan dua tangan dimasukkan ke dalam kantong mantelnya ya udara di Spanyol cukup dingin. Bruce memandangi rumah berlantai empat itu, rumah itu milik Lestari. Dia tersenyum.
Yakin itu Bruce, Security bergegas keluar dari ruangan security, dia datang menemui Bruce, sedikit tidak percaya dengan hal gila yang dilakukan Bruce menemui sang kekasih pada waktu pukul dua pagi.
"Selamat pagi, eh selamat malam tuan." sapa security itu bingung.
"Malam, Nyonya sudah pulang, 'kan dari rumah pak Filipo?" tanya Bruce, dia menatap tajam security itu.
Jangan bilang Lestari belum pulang, jangan bilang Lestari menginap di rumah Filipo maka Bruce pasti akan gila ya dia harus gila karena Bruce sementara mabok kepayang.Kata orang cinta bisa membuat orang gila, dan faktanya itu Bruce.
''Su su dah, tuan. Nyonya pulang tadi pukul delapan malam." Security itu menunduk.
"Baik.makasih." Bruce menepuk pelan bahu security itu. Lalu. dengan santainya di masuk kehalaman rumah Lestari, sesampainya didepan rumah Lestari, Bruce berdiri didepan teras dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lestari.
Drtthh...
Lestari yang masih terjaga, dia asyik menonton film kesukaannya, melirik ponselnya. Bibirnya melengkung bahagia.
Jari lentik Lestari mulai menggeser benda pipih itu lalu ia meletakkan ditelinganya.
''Halo,'' sapa Lestari
[Aku didepan pintu rumahmu.'']
Bruce bukan pria romantis, dia selalu berbicara apa adanya.
''Hei...ini jam berapa?'' Wajar Lestari tidak percaya. Ini tidak seperti biasanya jika Bruce ingin menemui dia tidak seperti hari ini, subuh.
Lestari beranjak dari sofa, dia meletakan camilan yang tadi menjadi temannya nonton, diatas sofa. Lestari berjalan ke arah jendela tangan menarik tirai berwarna tosca itu. Ia menggeserkan kesamping, Lestari menunduk melihat ke bawah.
Benar, mafia itu melambaikan tangan kepada Lestari dengan ponsel masih menyala. Lestari kaget, dia tidak percaya Bruce benaran di depan pintu rumahnya, pria itu tidak berbohong.
Lestari menutup mulut dengan kedua tangannya.
__ADS_1
''Hei...''Senyum bahagia terukir dibibir tipisnya. Pipinya merah merona dia berkaca-kaca, ya Lestari tidak percaya Bruce secinta itu kepadanya.
''Ya, turunlah.'' Bruce mengayunkan tangan meminta Lestari menyambut kedatangannya.
Lestari, segera berlari menuruni anak tangga, jantung bergemuruh seperti anak remaja yang sedang kasmaran, tangan nya meraih gagang pintu.
Ceklek..
Lestari tersenyum menunjukkan deretan gigi putih rapinya. Bruce melangkah mendekati Lestari. Mafia itu melebarkan kedua tangannya, yang dia inginkan wanita itu memeluk dia dan merasakan detak jantungnya yang tadi hampir berhenti berdetak karena kesalah pahaman mereka. Lestari menyambut tangan Bruce dia pun melingkar tangan di pinggang Bruce, wanita itu menyenderkan kepalanya didada bidang Bruce merasakan kehangatan didalam sana, merasakan dekat jantung Bruce yang kini berpacu semakin cepat.
''Kau, harus dihukum.'' Dia meraih tengkuk Lestari lalu mendaratkan satu kecupan di kening Lestari.
''Ini subuh, kau tidak sedang mimpi berjalankan?'' Pertanyaan bodoh dari Lestari membuat Bruce meraih kedua bahu Lestari dia memajukan tubuh wanita itu memandangnya begitu lama.
''Kau. karena kau, aku bisa mimpi berjalan.'' Gelak tawa keduanya mengisi heningnya malam itu.
''Sorry, sudah membuatmu kecewa.'' Lestari menunduk dia benar-benar minta maaf dia menyesal telah mengecewakan pria baik ini, pria yang dulu dingin. Namun, kini telah mencair dan menghangat setelah ia mengisi kekosongan hati pria itu.
''Dear...diluar sangat dingin bolehkan kita ngobrol didalam.'' pinta Bruce.
''Sayang, ku mohon mengertilah kita belum menikah tidak baik kamu bertamu subuh seperti ini nanti apa penilaian Tati dan Nani terhadap aku?'' Lestari berusaha memberikan pengertian kepada Bruce agar pria itu tidak salah paham dengan dia lagi.
''Baiklah. Aku akan pulang tapi kecup dulu.'' Bruce bertingkah manja, dia memasang wajah melas.
Lestari memejamkan matanya, dia melayangkan satu kecupan dipipi Bruce, lalu beralih ke bibir, ciuman hangat disubuh membuat Bruce merasa gejolak aneh didalam sana.
Pria itu tidak menyia-yiakan lagi dia menahan tengkuk Lestari, Bruce memperdalam ciuman itu hingga menjadi panas, hampir saja keduanya larut didalam sana tapi Lestari cepat menyadarkan diri.
''Sayang, kumohon kamu kembalilah ke mansionmu. Besok pagi kita akan bertemu di kantor.'' ujar Lestari.
Ya, karena besok senin ada rapat penting dikantor dan para penanam saham akan hadir semua termasuk Bruce.
''Di kantor?'' Bruce balik bertanya.
''Ya.'' Lestari mengangguk.
''Masih senin dong,'' Bruce menekukkan wajahnya.
__ADS_1
''Besok minggu aku akan menjemput kamu dan Putri kita akan menonton film anak-anak yang sementara tayang dibioskop.'' tawar Bruce.
''Sayangnya, Putri lagi di apartemen Rico, hari ini dia dan Rico akan ke ZOO.'' sambung Lestari.
''Ya udah ganti agenda. Kita berdua yang menonton dibioskop sendiri aja, nanti lain kali baru ajak Putri ikut dengan kita. Aku mohon kali ini jangan menolak lagi.'' Bruce menautkan kedua alisnya.
''Boleh. Sekarang, kamu harus pulang.'' sahut Lestari.
''Baiklah.'' Bruce mendaratkan satu kecupan dipipi dan bibir Lestari.
''Masuklah, aku melihatmu dari sini.'' Bruce melambaikan tangan kepada Lestari, Lestari membalas lambaian tangan Bruce. Ia bergegas masuk ke dalam namun kakinya baru melangkah masuk Bruce mendekati dia, pria itu memeluk Lestari dari belakang.
Bruce mencium di cuping telinga Lestari lalu berbisik, '' Good night my sweety heart.'' bisiknya lalu berkedip nakal kepada Lestari.
Wajah Lestari merah padam, dia bergegas masuk ke dalam, mengintip Bruce dari balik jendela. Sementara Bruce masih menyenderkan tubuhnya di dinding pembatas teras dengan kedua tangan di masukkan ke dalam mantel hitam miliknya.
Lestari membisikan sesuatu dari dalam ruang tamu, dengan gerakan tangan membentuk hati. Lalu, ia kembali ke kamar membaringkan tubuhnya diatas ranjang, dengan hati yang bahagia, Lestari menyentuh pipinya. Dia kembali berdiri mengintip dari jendela lagi. Ternyata Bruce belum pergi dia masih bersender di dinding teras depan.
Bruce melambaikan tangan, sengaja menggoda Lestari dari depan teras. Lestari menggeleng dia meminta Bruce untuk segera pulang.
"Pulang lah ini sudah pagi." bisik Lestari dari kamarnya.
"Baiklah aku pulang." Bruce melambaikan tangannya.
Setelah puas menggoda Lestari. Bruce pun segera kembali ke mobilnya. Dia membuka pintu mobil. Dia masuk dan duduk di kursi kemudi. Bruce menghela napas lega, sumpah hatinya kini kembali baik, emosinya sudah normal tidak peduli dengan persiapan di hotel sana yang gagal.
"Aku hubungi Felix dulu." Bruce mengeluarkan ponsel nya dia mulai menghubungi Felix.
"Tuan, anda baik-baik saja, 'kan?" Terdengar dari suaranya, Felix sangat mencemaskan keadaan Bruce.
"Ya, aku baik-baik saja. Maaf, kamu sia-sia mempersiapkan semuanya. Kamu bayar saja pria pengiring musik itu lalu segera lah kembali ke markas karena besok kau akan melakukan tugasmu di yayasan kanker. Oya, aku hampir lupa hotel kembali dibuka saja. Mengenai lamaran aku belum menentukan lagi." Bruce tersenyum bahagia.
Mungkinkah ini yang dinamakan kebahagiaan yang tertunda? Bruce akan mencoba mengikuti permainan sang penentu takdir.
Terdengar helaan napas berat dari Felix, orang kepercayaan Bruce itu merasa lega, bahkan hampir saja dia menitikkan air matanya. Karena, mendengar Bruce dalam keadaan baik-baik saja.
"Baik, Tuan." sahut Felix.
__ADS_1