
"Aku tidak tahu. Siapa mereka?" Rico mengernyit keningnya. Matanya mengamati Foto itu yang jauh lebih bagus, lebih terang mungkin dulu foto ini foto lama.
"Itu aku. Jika, kamu mengatakan kamu miskin aku jauh lebih dari kamu. Mungkin, kamu pikir aku orang kaya karena kamu bertemu aku sudah secantik sekarang. Dulu, aku hanya gadis jalanan, pengemis didepan toko-toko untuk mendapat makanan. syukur-syukur jika ada yang mau memberi ku uang. Tapi, nasib ku berubah setelah aku bertemu dengan Ayah Bruce. Aku diasuh dia dari aku usia lima tahun, bayangkan saja waktu dia ambil aku di jalanan, aku kotor, bau, rambutku penuh kutu. Tapi, dia tidak jijik aku di bawa pulang ke mansionnya, aku dirawat layaknya anak sendiri. Padahal dia bukan tipe orang yang berinteraksi dengan orang lain." Tifani menyeka air matanya.
"Ayah itu orang yang tertutup tapi dia berusaha memberi aku kehidupan yang layak. Soal uang aku yakin dia tidak kekurangan aku pikir kamu juga tahu itu. Dunia Eropa semua mengenal dia, dengan nama yang berbeda-beda tapi itu ciri khasnya. Selain dia memiliki sisi gelap. Ada satu yang membuat aku kagum dengan pribadinya, hatinya sangat mulia, aku menjuluki dia 'My Hero'. Dia, orang yang sangat tulus, selama aku hidup di dunia ini baru kali ini aku bertemu orang yang setulus dia, memberi tanpa pamrih. Wajahnya saja yang galak, tapi percayalah dia lelaki yang berhati lembut. Sempurna." Tifani menggelengkan kepalanya. Dia membayangkan masa kecilnya dulu bersama Bruce, hatinya sakit seperti dihujam beribu-ribu paku.
Rico menatap wajah Tifani, "Kenapa, dulu kau tidak cerita jika pria yang menjadi kekasihmu itu, yang membesarkan kamu?"
Tifani menggeleng, " Tidak. Aku tidak mau semua tahu tempat tinggal aku atau tahu siapa pria yang sudah menolong aku. Kamu orang pertama yang tahu kisah aku. Ayah bukan tipe orang ingin semua tahu jika dia melakukan kebaikan. Dia selalu melakukan kebaikan dengan diam-diam. Mungkin kamu tidak tahu yayasan ini, dia donatur utamanya." Tifani mengambil lagi pigura satu lagi dia menunjukkan kepada Rico.
''Ini foto wisuda waktu aku selesai mengambil specialis anak. Ayah pria yang hebat yang berhasil mengangkat derajat aku dari seorang pengemis menjadi seorang dokter. Aku akui tanpa dia, aku tidak mungkin bisa seperti sekarang, mengenakan baju dokter, dikagumi banyak orang bahkan untuk tinggal diyayasan ini saja aku tidak yakin, apalagi mendapatkan apartemen dan mansion sungguh itu seperti mimpi bagiku.'' Tifani mengusap foto dia dan Bruce. Mafia itu terus tersenyum waktu Tifani wisuda meraih gelar Dokter spesialis anak.
Bruce bangga, dia yang bergelut di dunia hitam tertutup dengan semua orang kecuali mereka yang sama-sama dari dunia hitam. Dia akhirnya berhasil menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain.
Tifani menarik napas, Dia menangis mengenang masa sulit dia dulu. ia kembali Mengenang kebaikan Bruce terhadap dirinya, masa dia tumbuh besar ditangan Bruce. Tidak ada pria yang hidup didunia gelap rela membesarkan dia seorang diri hingga sesukses sekarang. Tifani menyesal telah menyakiti pria sebaik Bruce, dia menyesal telah menjatuhkan harga diri pria itu namun pria itu selalu menerima dia kembali dengan tulus tanpa ada dendam di hatinya, bibirnya selalu tersenyum merangkul Tifani, menerima Tifani dalam keadaan apapun. Mungkin, dulu dia sempat marah bahkan sampai menampar Tifani itu karena Bruce sangat emosi, kecewa karena dikhianati Tifani. Terlepas dari itu semua dari lubuk hati yang terdalam Bruce sangat menyayangi Tifani.
"Huft..." Tifani menghela napas berkali-kali, menghirup oksigen untuk mengumpulkan tenaganya. Kenapa malam ini bertemu Rico, bukannya untuk melepas rindu tapi keduanya justru saling terbuka satu sama lain? Membawa mereka mengenang masa lalu yang penuh banyak kenangan indah?
"Benar. Aku tahu alasan kamu menjelaskan kehidupanmu kepada aku. Jangan, takut aku tidak setamak dulu lagi aku tidak sematre dulu lagi. Aku lebih baik hidup apa adanya, sederhana asal tubuhku sehat. Ya, dulu aku pikir perusahaan itu milik kamu. Karena, itu aku tidak ingin kamu terus bertemu Lestari." air mata Tifani jatuh dari sudut matanya. Dia berhenti sejenak.
Rico, mengusap lembut punggung Tifani. Dia tidak menjawab apapun, dia hanya mendengar dan menyesali perbuatannya. Tapi, semua sudah terlanjur mau bagaimana lagi? Mengembalikan semua seperti semula itu tidak mungkin, memutar waktu itu pun tidak akan bisa. Sekarang apapun yang terjadi mereka harus menghadapi dengan lapang dada. Menerima dengan iklas karena tidak ada yang terjadi tanpa ada penaburnya.
"Aku, pikir Lestari akan mempengaruhi kamu, lalu mengambil semua hartamu. Karena itu, aku selalu bertindak di luar nalar melarang kamu bertemu dengan dia bahkan memikirkan Lestari dan Putri saja aku tidak sudi. Mungkin karena aku pernah merasakan bagaimana kejamnya dunia sempat membuat aku tamak akan harta, bahkan bukan bersama kamu aja. Dulu, bersama Bruce pun aku berusaha untuk merebut rumah sakit miliknya dengan tidak tahu malunya aku." Tifani menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Malu, dengan sikap egoisnya dulu.
Rico mengusap punggung Tifani, dia mendekap Tifani. Pertemuan perdana mereka setelah empat tahun membuat keduanya menjadi bijak.
Kini Rico sadar dia tanpa Lestari bukan siapa-siapa. Begitupun dengan Tifani, dia tanpa Bruce mungkin dia sampai saat ini masih menjadi pengemis di jalanan bahkan Tifani tidak yakin dia masih bisa hidup sampai usia dia dua puluh delapan tahun seperti sekarang, mengingat dulu untuk mendapatkan sepotong roti saja dia harus berjuang, dipukul, dimarahin dulu barulah dia mendapatkan sepotong roti kemarin. Bukan baru.
"Ternyata aku dan kamu sama saja. Kita menjadi sukses seperti sekarang atas kebaikan kedua orang yang telah kita khianati hati mereka." Rico menghela napas. Dia membayangkan wajah Lestari dan Putri membuat dia menitikkan air mata. Tapi, percuma penyesalan selalu datang terakhir, bukan?
"Tapi, kamu masih lebih baik. Setidaknya kamu memiliki orang tua yang lengkap kamu tidak pernah merasakan bagaimana kejamnya hidup di jalanan." Tifani tersenyum getir.
Keduany saling berbagi cerita hingga tak terasa waktu pun menunjukkan pukul sepuluh malam. Tifani menatap Rico, dia berdiri.
"Sebentar, aku izin dulu di kepala yayasan apa boleh kamu menginap? Jika, tidak bisa kamu pulang ya, besok pagi datang bawa Putri." Tifani menyeka air matanya. Matanya sembab, wajahnya memerah karena kebanyakan menangis.
__ADS_1
"Baiklah. Apa perlu aku antar?" tawar Rico.
"Tidak perlu, kamu tunggu disini saja." ujar Tifani.
"Baiklah." sahut Rico.
Tifani keluar dari kamar dia berjalan menuju ruang kepala yayasan. Sepuluh menit berbicara dengan kepala yayasan Tifani tersenyum.
"Baik Bu.Terima kasih." Tifani menggenggam tangan ibu kepala yayasan.
"Sama-sama." Kepala yayasan tersenyum.
Tifani kembali ke kamar. sesampainya didepan Pintu Tifani menghentikan langkahnya, dia mendengar Rico sedang melakukan video call.
"Ini aku lagi ditempat dia." Rico zoom kamar Tifani. Dia menunjukkan suasana kamar Tifani.
" Tempat siapa itu, Pi?" Putri begitu penasaran.Tangannya merebut ponsel dari Lestari.
"Tante Tifani. Besok papi jemput Putri ke sini." ujar Rico.
"Loh, kenapa baru kasih tau papi?" Rico mengernyit.
"Paman Bruce baru saja telepon." lapor Putri.
Tifani menghela napas, ternyata Rico melakukan video call dengan Putri dan Lestari.
"Siapa?" Tifani masuk dia pura-pura bertanya.
"Sini, aku sedang menelpon Putri." Rico menepuk tepi ranjang.
Tifani datang duduk bersebelahan dengan Rico. sesekali Tifani melirik ke arah camera menguping pembicaraan anak dan ayah itu.
"Papi, cameranya arahkan ke Tante Tifani. Please..." Putri menunjukkan puppy eyesnya, membuat Rico melirik Tifani.
Dia memberi kode apakah boleh atau tidak. Tifani mengangguk setuju. Dia menerima ponsel Rico lalu melambaikan tangan kepada Putri. Tifani tidak sanggup menatap wajah polos Putri. Di menitikkan air matanya, bayi itu dulu dia yang membantu melahirkan, kini sudah berusia lima tahun, dan bayi itu dari hari hari pertama lahir harus merasakan perang batin kedua orang tuanya karena perbuatan dia.
__ADS_1
"Hy, Tante. Kenalin aku Putri, anak Papi Rico." dengan banggaPutri memperkenalkan diri.
"Hai, sayang. Tante Tifani." Tifani tampak canggung.
"Tante, Papi nginap di tempat Tante?" Anak itu seperti polisi.
"Iya, sayang." Tifani menyeka air matanya.
Lestari datang dia ikut bergabung.
"Mami boleh dong bergabung." Lestari tersenyum kepada Tifani.
"Hai, Fani." Lestari tersenyum. Dia melambaikan tangan kepada Tifani.
"Selamat malam Ibu Lestari." Tifani masih berbicara formal.dia juga membalas lambaian tangan Lestari.
"Jangan ibu, aku belum menikah dengan ayahmu." Lestari terkekeh.
"Hehehe...Maaf. Kakak, makasih ya bunga dan kuenya. Aku suka bangat." lagi-lagi Tifani masih berbicara formal.
"Sama-sama. senang dengarnya, kamu menyukai kiriman ku." Lestari tersenyum.
' Bukan hanya bahagia tapi kamu membuat aku menyesal telah menyakit wanita sebaik kamu.' batin Tifani.
"Fan, kenapa diam? ya udah mungkin kamu mau istirahat besok aja kita ketemuannya." Lestari tau Tifani masih canggung. Akhirnya Lestari dan Putri melakukan kiss bye jauh. Tifani membalas dengan ragu.
*****
"Terima kasih " Tifani mengembalikan ponsel Rico.
"Sudah?" Karena menunggu video call Tifani, Putri dan Lestari tertalu lama membuat Rico ketiduran.
"Sudah." Tifani tersenyum.
"Ya udah tidur yuk, aku cape bangat tadi seharian aku dan Putri keliling kebun binatang." sahut Rico.
__ADS_1
Tifani dan Rico pun tidur. Begitu juga dengan Lestari, Putri. Mereka tidak sabar menunggu hari esok.