
Sembari menunggu pesanan datang, Lestari mengeluarkan ponselnya dia menelpon Tati menanyakan keadaan Putri.
"Tat...Putri nggak rewel?" tanya Lestari.
[Nggak Bu,]
"Ya udah titip Putri ya. O..ya aku pulang malam," sambung Lestari lagi.
[Baik Bu.]
Setelah memastikan keadaan Putri baik-baik saja. Lestari mengakhiri panggilannya. Kemudia, dia masih mengecek sosial media miliknya.
''Ehemm...'' Bruce berdehem.
Mafia ini berulang kali menghela napas. Dia ingin bertanya sesuatu yang sejak tadi ia tahan di ruang kerja Rico.
"Tari... Maaf jika aku lancang. Tapi, aku penasaran dengan ucapan Tifani di ruang kerja Rico tadi," tanya Bruce berhati-hati. Dia tidak ingin Lestari menganggap dia ikut campur masalah pribadinya.Tapi, sungguh Bruce ingin tau dan memastikan jika dia tidak salah maka dia ingin___.
''Soal apa, ya?'' tanya Lestari, dia mendongak menatap Bruce seraya meletakkan ponselnya diatas meja depan ia duduk.
''Mengenai putusan,'' Bruce tersenyum.
''Oh... soal itu.'' Lestari tersenyum kecut. Dia melirik ponselnya sebentar membenarkan posisi letak ponselnya, '' Aku dan Rico memang sementara menjalankan proses perceraian. Aku pikir sia-sia bertahan jika Rico tidak bisa menentukan pilihannya.'' Lestari menghela napas berat sembari menaikkan sudut bibir atasnya.
''Maaf. Aku tidak bermaksud ikut campur urusanmu, hanya saja aku rasa seminggu aku pergi ternyata kamu sudah melewati banyak hal-hal luar biasa. Sayangnya... kamu menutupi itu semua dari aku," Bruce menghela napas panjang.Dia meletakkan kedua tangannya diatas meja, perlahan menggeserkan tangannya mendekati jemari kursus itu.
''Tidak apa-apa lagian itu kenyataannya. Aku hanya ingin fokus mengurus Putri membesarkan dia dengan sebaik mungkin.Jika, Aku sudah gagal menjadi seorang istri, setidaknya tidak gagal menjadi seorang ibu." Lestari tersenyum butiran Kristal itu pun jatuh membasahi pipinya.
Bruce meremas jari-jari Lestari. Dia menggenggamnya semakin erat, "Jangan bersedih lagi, sekarang kamu tidak akan pernah ku biarkan sendirian. Ada aku yang setia menemani kamu dua puluh delapan jam," Bruce berkedip, " Itupun jika kamu izinkan." lirihnya lagi.
__ADS_1
"Emang sejak kapan waktu berubah?" Lestari tertawa seraya menyeka air matanya.
"Sejak hari ini dan untuk selama nya. Tari...seandainya ada pria yang tiba-tiba mengungkapkan perasaannya ke kamu, apa yang akan kamu lakukan? Menolak atau memberi dia kesempatan?" Dia berusaha sebaik mungkin agar Lestari tidak kaget dan berpikir dia membantu Lestari karena memiliki alasan tertentu.
Lestari terperanjat, dia berusaha melepas genggaman mereka. Tapi, Bruce enggan melepaskan hingga akhirnya Lestari membiarkan jemari mereka bertaut seperti itu.
"Untuk saat ini aku masih fokus ayah dan proses perceraianku. Ini juga putusan perceraian belum keluar masih dua hari lagi. Akan terlihat aneh jika belum putusan aku sudah menjalin hubungan degan pria lain," jelas Lestari.
Bruce menelan salivanya dengan kasar. Berulang kali dia menetralkan perasaannya. Dia menghela napas dan berdehem.
"Tapi bukan berarti kamu trauma dengan laki-laki,'kan?" tanya Bruce.
"Tidak! Aku bukan type wanita yang selalu menilai semua pria itu sama. Jenisnya saja boleh sama tapi aku yakin hati, karakter, sifat dan perilaku setiap orang pasti berbeda-beda." Lestari menggeleng seraya tersenyum.
Bruce sumringah. Dia semakin percaya diri. Tapi, dia menyesali sikap dia yang tidak sabaran menunggu. Saat sedang bercerita, pelayan datang membawa pesanan mereka.
'Apa aku terlalu cepat? Kenapa aku tidak tanya dulu sudah cerai apa belum? Huftt,' dia merutuki dirinya dalam hati.
"Ahh...iya ayo makan." Bruce dengan cepat meraih pisau kecil dan garpu dia juga segera potong steak dan menyuapkan ke mulutnya.
"Kamu diet? Apakamu bisa kenyang dengan pizza ukuran small seperti itu?" tanya Bruce mengamati ukuran pizza Lestari.
"Iya, aku lagi diet. Apalagi ini sudah telat jam makan harusnya aku makan lagi jam dua siang tadi," jelas Lestari.Mulutnya terus mengunyah pizza-nya.
"Kenapa tidak bilang tadi? Kalau kamu bilang pasti kita makan dulu baru selesia kan masalahnya," ujar Bruce.
"Tidak apa-apa kan baru hari ini jadwal makanku kacau," sahut Lestari.
"Lain kali kamu harus bilang, ya!" balas Bruce.
__ADS_1
Lestari mengangguk, mulutnya terus mengunyah pizza miliknya. Melihat Leastari yang begitu menikmati makanannya.
"Enak?" tanya Bruce.
"Hmmm...Enak." Lestari mengangguk-angguk.Wanita itu benar-benar menikmati Pizza miliknya, benar kata Bruce jika sudah makan di resto sini, maka susah untuk pergi ke resto lain lagi.
"Nanti kapan-kapan boleh,'kan aku, kamu juga kita ajak Putri makan bertiga disini. Itu dibelakang ada permainan untuk anak-anak, jadi sekalian Putri bermain di Playground itu.Bruce melirik ke belakang sembari menunjuk area Playground yang tersedia di resto itu. Ada permainan pasir, Lego, perosotan, dan banyak mainan lain lagi." Bruce menunjuk sebuah ruangan yang khusus dijadikan Playground untuk anak-anak.
"Boleh." Lestari pun mengiyakan. Bruce merasa dia sudah mendapat lampu kuning tinggal dikit lagi lampu hijau menunggu putusan perceraian Lestari. Mungkin?
****
Tifani masuk ke dalam mobilnya, tangannya menyalakan mesin mobil. Namun, sayang kunci mobil berulang kali di masukkan selalu salah. Karena, kesal Tifani berteriak dan memukul stir mobil.
"Argh... sialan semuanya!" Dia sesunggukan diatas stir mobil. Setelah hampir sepuluh menit dia menangis akhirnya Tifani menarik napas mencoba menetralkan emosinya. Dia mulai fokus memasukkan kunci mobil lalu menyalahkan mesin mobil. Dengan kecepatan tinggi Tifani melajukan mobilnya menuju apartemen.
Dalam perjalanan menuju apartemen, Tifani menelepon perawatnya.
"Tutup saja klinik. Besok masuk jam tujuh pagi ya, Aku lagi nggak enak badan kepalaku pusing sekali." Setelah menelpon dia tidak menunggu jawaban perawatan nya , Tifani langsung mengakhiri panggilan sepihak.
Lalu, Dokter itu menginjak pedal gas menambah kecepatan mobil lagi. Benar tidak sampai satu jam mobil berwarna merah hadiah ulang tahun dari Bruce untuk dia itu, tiba dengan selamat di apartemen. Kali ini Tifani tidak parkir dibasement. Dia hanya parkir didepan loby apartemen saja. Lalu, Ia keluar dari mobil dan berlari kecil menuju lift.
Setelah sampai di dalam apartemennya. Dia mencari keberadaan kamera itu tapi tidak menemukan.
"Dimana? Dimana dia meletakan kamera sialan itu? Dimana..." Tifani berteriak sekencang mungkin.Untung saja apartemen itu ada peredam suara. Jadi, suaranya tidak terdengar sampai diluar.
Rambutnya ditarik dan acak-acakan. Bekas air matanya masih menempel dipipinya. Keanggunan dan kekaleman dia hilang sekejap.
Dia menghancurkan semua guci mahal milik Bruce yang tersusun rapi didalam apartemen itu. Bahkan vase bunga mahal koleksi Bruce pun tidak lolos dari amukan Tifani semua hancur. Kini ruang tamu sudah mirip kapal pecah.
__ADS_1
Ia pun berlari masuk ke kamarnya, Dia juga menghancurkan semua yang ada didalam kamar, semua berserakan di lantai kamar.Tidak terkecuali bantal dan selimut. Setelah puas melampiaskan emosinya. Tifani menjatuhkan tubuhnya di lantai dia menangis sejadi-jadinya, melupakan semua kekesalan dia di ruang kerja Rico tadi.
"Lihat saja akan aku balas semua perbuatan kalian!!!" Sumpahnya Lalu ia menekukkan kedua lututnya menyembunyikan wajahnya kedalam lututnya dengan dua tangan melingkar dikedua kaki jenjang indah itu.