Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Diperkosa?


__ADS_3

Lestari mengerjap Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Namun kepalanya yang masih pening memaksa Lestari menyenderkan kepalanya dihead board ranjang. Lestari memegang lehernya, di menggerakkan ke kiri dan kanan, "Badanku remuk semua,"gumamnya.


"Duh... kenapa kepala ku pusing banget. Mana perutku mules." keluh Lestari ia


pun memijit kepalanya.


Perlahan Lestari berusaha turun dari ranjang. Namun, kakinya kembali di naikkan lagi diatas ranjang. Matanya membulat ketika ia menatap tubuhnya polos tanpa busana seluruh tubuhnya lengket. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, Lestari semakin kaget. Ia melirik ke samping ada seorang pria bertubuh kekar sedang mendengkur halus.


"Siapa dia? Kenapa aku tidur dengan seorang pria?" Lestari menyentuh bagian intinya terasa perih dan sedikit lecet.


"Jangan-jangan aku di perko__" Ia semakin bingung. Lestari meraih ponsel miliknya diatas nakas. Jari lentik itu menggeser layar ponsel.


"Pukul 02:00. Ini kamar siapa? Putri?" desis Lestari.


Lestari menekan tombol lampu, ruangan kamar hotel yang tadi remang-remang, lebih terang karena Tari menyalakan lampu kamar. " Semalam, jangan-jangan . pria ini?" Ia mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang, Lestari memandangi sekitar kamar lalu melihat dibawah lantai, dres dan pakaian dalamnya berserakan dibawah lantai. Potongan-potongan kejadian semalam mulai bermunculan dikepalanya.


"Dia? Jul__ Oh Tuhan! Dia benar-benar keterlaluan!" Geram Lestari.


"Bangun!" Lestari menarik kasar tubuh Bruce. Merasa tubuhnya ditarik. Bruce perlahan membuka matanya.


"Ada apa?" Bruce bangun dia menoleh menatap Lestari, Ia masih masa bodoh dengan reaksi Lestari.


"What? Bruce?" Lestari membulatkan matanya. Dia tidak percaya.


"Ada apa, katamu? Kenapa aku bisa di sini? Dan Kamu_" Lestari menarik kasar rambutnya. Butiran bening itu sudah jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


Bruce masih santai menanggapi reaksi Lestari yang berlebihan.


"Baiklah. Aku mau pulang!" Lestari bangkit berdiri dari ranjang Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah didalam kamar mandi Lestari berdiri dibawah shower, tangannya memutar kran rintikan air shower mulai membasahi tubuhnya, ia menangis pun sesunggukan dibawah shower.


"Kenapa aku ceroboh!" Lestari mengutuk dirinya, "Sesak rasanya menjadi wanita tak bersuami. Kenapa semua pria sama saja mengganggap wanita itu lemah." Tangannya memukul pelan dadanya.


Bruce masih duduk di tepi ranjang dia diam tanpa ekspresi. Namun, Ia mulai gelisah ketika menyadari Lestari sudah lama dikamar mandi, dia takut Lestari pingsan atau__.


Bruce pun segera berdiri dari ranjang, Ia menyusul Lestari di kamar mandi dengan tubuhnya yang polos tanpa busana. Karena, bajunya semalam ia gantung di kamar mandi. Namun, sebelum pergi ke kamar mandi, Bruce meraih ponselnya dia menghubungi Felix untuk mengantarkan dua pasanga baju di hotel yang saat ini dia tempati. Setelah menghubungi Felix, Bruce meletak'kan lagi ponselnya diatas nakas. Mafia itu berjalan ke kamar mandi, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berharap kejadian ini tidak membuat Lestari menjauh dari dirinya. Tapi, Bruce tidak bodoh dia ada bukti, untuk ditunjukkan kepada Lestari.


Tok...tok...tok...


"Tari...sudah selesai? Aku mau ambil pakaian ku," panggil Bruce dari balik pintu.


Lestari kini sudah ingat semuanya. Dia ingat tiba-tiba Bruce datang menyelamatkan dia dari gair*ah Julio. Dia ingat Bruce menghajar Julio. Setelah itu, kejadian selanjutnya kembali buram di ingatan Lestari.


"Tega dia! Selama ini aku anggap dia pria baik-baik. Tapi, kenapa dia tega lakukan ini? Jika aku tidak sadarkan diri sebagai pria baik-baik dia mengantarku kembali ke rumahku bukan dibawa ke tempat terkutuk ini. Benci aku benci dia!" Lestari menutup wajahnya. Bahunya semakin bergetar kuat.


Bruce mengacak pinggang, dengan tenang ia masih menunggu di pintu kamar mandi. Namun, sudah sepuluh menit di di depan pintu, Lestari tak kunjung membukakan pintu kamar mandi, hanya gemercik air yang terdengar di dalam sana.


Tok...tok..tok...


"Tari...kamu baik-baik saja'kan? Ayo lah...Jangan seperti anak kecil. Aku akan menjelaskan semuanya." Panggil Bruce. Kini pria itu mulai frustasi, ia menyugar rambut coklatnya sembari menghela napas.


Akhirnya karena kwatir hal buruk terjadi kepada Lestari.

__ADS_1


"Tari...jika kamu tidak membuka pintu kamar mandi. Aku akan mendobrak pintu ini," Bruce sudah bersiap-siap untuk mendobrak pintu kamar mandi.


Brugh...


"Duh...sakit!" rintih Lestari.


Bruce jatuh diatas Lestari. Handuk putih untuk menutupi tubuh Lestari sedikit terbuka dibagian atas. Kedua bola mata bertemu mereka saling mengunci sesaat. Menyadari buah cherynya sakit karena tertindih dada Bruce. Lestari berusaha bangun.


" Bangun! Ada yang sakit?" Bruce bangun dari atas tubuh Lestari, kemudian ia mengulurkan tangan menolong Lestari yang sulit bangun.


"Kamu yang salah kenapa menempel di balik pintu. Mau ngintip ya?" tuduh Lestari.


"Ngintip gimana? Aku itu uda panggil kamu berulang kali tapi kamunya aja yang nggak jawab. Karena, kwatir aku mendobrak pintu kamar mandi. Tapi, pas kamu juga buka pintu, jadinya jatuh berdua," jelas Bruce. Dia melirik dibagian kaki dan siku Lestari kwatir terluka atau berdarah.


"Jangan lihat!" tegas Lestari.


Lestari menepis tangan Bruce, Ia bergegas membetulkan handuk untuk membalut tubuh polosnya, wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


"Mana yang sakit?" tanya Bruce kwatir. Ia menunduk melihat bagian tubuh Lestari mana yang terluka. Namun, dengan cepat Lestari menutup handuknya. Ia berjalan seraya merintih kesakitan.


Bruce menatapi punggung Lestari yang berlalu dari hadapannya. Ia hanya bisa menghela napas. Bruce pun masuk ke kamar mandi. Mengambil bajunya yang ada di dalam sana. Merasakan seluruh tubuhnya lengket ia pun memutuskan mandi.


Selesai mandi Bruce segera keluar. Dia mempercepat langkahnya ketika melihat Lestari sudah siap-siap untuk pergi di tengah malam seperti ini.


"Tari...tunggu aku bisa jelaskan semuanya!" Bruce mempercepat langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2