Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Luapan emosi Bruce.


__ADS_3

"Alamatnya, nanti aku kabarin.Karena, aku belum tahu pasti. Aku janji, Bruce pulang aku akan menelpon dia dan meminta alamat Tifani untuk Kamu." janji Lestari.


Rico mengangguk kepalanya, '' Aku tunggu kalau bisa hari ini kamu usahakan minta alamatnya di Bruce aku mohon.'' Rico memelas.


''Baiklah. Gimana jalan-jalan hari ini? Putri nakal?'' tanya Lestari. Dia mengalihkan pembicaraan.


''Putri, anak yang manis. Dia selalu ingat semua pesan kamu. Lucu anak itu,'' Rico tersenyum, dia mengingat lagi Putri menolak untuk dimandikan.


''Ya, dia memang anak yang selalu pegang teguh ucapan dan janjinya, Aku bangat Putri itu.'' Lestari terkekeh.


''Ya, aku lihat pendirian dia, itu persis kamu bangat.'' Rico meneguk minuman yang tadi diantarkan Tati. Lalu, meletakkan lagi diatas meja.


''Aku berharap semoga dia menjadi anak yang tegas.'' sahut Lestari. Diangguki Rico.


🌹🌹🌹🌹🌹


Rico sudah di apartemennya. Ia, baru saja selesai mandi. Rico lagi duduk diruang tamu.


Ding...dong...


Bel pintu berbunyi.


Rico, berdiri dia mengintip dari camera pintu.


''Bruce?'' Rico, mengernyit.


Dengan ragu Rico membuka pintunya.


''Ma....''

__ADS_1


Bugh...


Belum juga Rico selesai bicara, Bruce langsung melayangkan satu pukulan diwajah Rico. Rico, yang tidak tau langsung jatuh dilantai. Dia memegang pipinya yang terkena pukulan mentah dari Bruce. Rico berusaha bangun dari lantai.


''Apa-apaan, datang bertamu tidak sopan? Langsung main tangan!'' Rico marah, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar. Rico mengelap dengan tangannya.


''Ya, kau benar aku tidak sopan, dan kau tidak pantas dihargai! Aku sopan kepada orang yang tepat.'' Bruce masuk, dia melewati Rico tanpa permisi.


Rico melangkah mundur ke belakang. Dia was-was, kwatir Bruce memukulnya lagi.


''Dasar pria arogan. Aku akan menelpon polisi!'' Rico mengancam.


''CK, Kau mengancam saya dengan orang-orang penjilat itu. Sekarang juga kau telpon, suruh mereka datang ke sini untuk menangkap aku. Aku jamin, justru mereka akan menangkap balik kau nanti.'' sahut Bruce santai.


Rico diam. Dia tidak berani berbicara lagi atau sekedar mengancam. Bruce terus masuk ke ruang tamu, Rico. Rico menempelkan badannya di dinding dekat pintu masuk. Dia berjaga dekat pintu masuk, Bruce dengan santai duduk di sofa, seperti biasa dia menaikkan kaki kiri diatas kaki kanannya.


''Kau, laki-laki tidak tahu diri! Kau tahu, awal kau selingkuh dengan dia aku tidak mau menyentuh kau. Karena, aku tidak mau menjatuhkan harga diriku didepan orang seperti kau. Tapi, hari ini batas sabarku habis. Aku melakukan ini bukan karena dia pernah menjadi kekasihku. Akan tetapi, sebagai seorang ayah karena kau menghancurkan dia. Lalu, dengan santainya kau melupakan dia begitu saja, ha?!'' bentak Bruce. Dia mengepalkan tangannya, rahangnya sudah mengeras.


''Ck, minta maaf? Kau, pikir dengan minta maaf kau bisa mengembalikan dia? Kau tahu awal dia sakit dia menelpon kau, dia menunggu kau hingga sore dan kau tidak kunjung ke sana. Kau, juga mulai menghindari dia, apa begitu cara kau memperlakukan wanita yang sudah kau hancurkn harga dirinya? Ha?!'' Bruce menurunkan kaki kirinya, dia membantingkan kedua kakinya dilantai dengan kasar. Tangannya sudah mengempal, sumpah demi Tuhan, jika Rico melawan Bruce sekali saja nyawa Rico bisa melayang. Bruce menggertakkan giginya, ketika bayangan tubuh kurus Tifani kembali ia ingat.


''Kau, menghancurkan dia lalu kau campakan dia begitu saja? Kau, pikir kau bisa bebas dari kejaran ku? Pasti, kau bingung dari mana aku tahu alamat apartemenmu? Aku ingatkan Spanyol ini aku sudah hapal bahkan sampai di sudut-sudut dasar laut sekalipun. Di dunia ini hanya dua orang yang bisa menaklukan dunia saya dan bos mafia Red devil tuan Alfonso.'' sombong Bruce.


Rico habis kata-kata, Dia yang tadi mau menanyakan alamat Tifani berubah jadi amnesia. Dia lupa harus menjawab apa, Rico juga bingung dia harus menjelaskan dari mana dulu?


''Karena, kau sudah membuang dia. Maka, mulai detik ini kau jangan pernah mencoba untuk cari dia atau kau muncul didepan dia, itu kau berurusan dengan aku. Aku jamin akan aku patahkan lehermu.'' Bruce menatap tajam Rico.


Kemudia, dia pun bergegas pergi meninggalkan apartemen Rico begitu saja.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Rico, kembali menutup pintu.Dia berjalan ke wastafel membersihkan mulutnya yang tadi berdarah. Lalu, ia kembali ke sofa, Rico tersenyum. Dia baru paham tujuan Bruce ke sini. Dia juga tidak marah mendapat pukulan dari Bruce karena dia layak mendapatkan itu. Mengingat Bruce yang merawat Tifani dari kecil jadi wajar jika Bruce marah, melihat anak satu-satunya dicampakkan Pria apalagi kondisi Tifani sedang sakit.


Rico meraih secarik kertas diatas meja sofa. Dia yakin itu dari Bruce karena tadi sebelum Bruce datang surat itu belum ada. Rico membuka lipatan kertas itu dia membaca surat itu, lalu surat itu dia masukkan ke dalam kantong celananya. Rico sudah tau alamat Tifani tinggal sekarang.


"Dia disini, ternyata Lestari benar.Tifani mengidap kanker. Aku harus menemui dia sekarang." Rico kembali ke kamar dia mengenakan bajunya, alamat itu dia masukkan ke dalam kantong mantelnya.


Rico bergegas keluar dari apartemen dia msuk ke lift. Setelah keluar dari Lift Rico bergegas ke basement. Rico membuka pintu mobil. Dia segera masuk ke mobil. Kakinya menginjak pedal gas, matanya melirik sebentar ke arah jarum jam yang melingkar di tangan kanannya.


"Pukul tujuh malam. Masih bisa terima tamu." gumamnya.


Hatinya berkecamuk, Ia menyesal telah mengabaikan permintaan Tifani seandainya waktu itu dia datang mungkin Tifani tidak sampai tinggal di yayasan. Seandainya dia tau Tifani sakit, mungkin dia sudah membujuk Tifani berobat dari dulu.


"Argh...aku lelaki yang tidak berguna. Selalu tidak bisa diandalkan!" Ia mengutuk dirinya.


Rico membelokkan mobilnya masuk ke halaman yayasan. Dia bergegas turun dari mobilnya. Di sana ada seorang satpam yang sedang duduk. Rico menghampiri, dengan sopan dia menyapa security itu.


"Selamat malam, disini ada yang nama Nona Theresia?" Rico tahu dari secarik kertas yang tadi ditinggal Bruce di bagian bawah tertulis, "Jika kamu berniat mencari dia cari dia di yayasan kanker Tifani telah mengganti namanya. Namanya Nona Theresia."


"Ada. Maaf, anda siapa?" tanya security itu memastikan.


"Aku Rico, teman dari Nona Theresia. Aku dapat alamat ini dari Tuan Bruce." Rico tersenyum. Dia pikir menggunakan nama Bruce lebih gampang menemukan Theresia.


"Tuan Bruce? Mari, silakan ikut saya." Security itu tidak bertanya lagi dia langsung mengantar Rico ke ruang tamu. Karena, sebelum bertemu pasien. Tamu wajib mengisi buku tamu terlebih dahulu, lalu menunggu izin dari pasien apakah diizinkan atau tidak bertemu dengan pasien tersebut.


"Terima kasih." ucap Rico.


"Sama-sama. Tuan, Bruce juga dari pagi dia sini." cerita security itu.


"Iya. Tuan Bruce juga sudah memberitahu saya." sahut Rico.

__ADS_1


"Silakan, Tuan duduk disini dulu. Ini ada daftar buku tamu tuan isi dan tanda tangan dulu. Saya masih ke ruang nona Theresia." Security itu pun bergegas ke kamar Tifani untuk memberitahu ada tamu yang datang.


__ADS_2