Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
saling memaafkan.


__ADS_3

Sementara Rico menuduk tampa ia sadari air matanya jatuh, saat melihat Lestari wanita yang dulu dia sakiti dengan senyum dan tanpa dendam datang menemui Tifani.


"Fani," panggil Bruce.


"Iya." Tifani mendongakkan kepala menatap Bruce. Dia yang dari kemarin ingin bertemu Lestari tapi pagi ini dia kehilangan kepercayaan diri. Bibirnya kelu tenggorokannya tiba-tiba kering untuk menyampaikan kata-kata yang kemarin sudah dia rangkai.


''Tifani, kemari.'' Panggil Bruce.


Dengan kepala tertunduk Tifani menghampiri Lestari wanita berhati mulia yang dulu dia sakiti, sementara Lestari tersenyum bahagia akhirnya dia bisa melihat Tifani.


''Ib...u Lestari, Maafkan aku. Aku sadar aku tidak layak mendapatkan maafmu. Tapi, aku akan terus meminta maaf kepadamu.'' Tifani ingin berjongkok untuk berlutut.Namun, dengan cepat Lestari menyentuh kedua bahu Tifani dia berjongkok sembari tersenyum tulus. Lestari meminta Tifani untuk berdiri, dia pun langsung memeluk Tifani, ''Aku sudah memaafkan kamu. Sudah lupakan masalalu itu, mari kita melangkah kedepan menyembuhkan sakitmu bersama.'' Lestari menyentuh kedua bahu Tifani dia memajukan tubuh Tifani kedepan keduanya saling menatap.


Tifani tidak bisa berkata-kata, dia hanya ingin menangis didalam pelukan wanita itu. Lalu ia menatap sendu Lestari, "Terima kasih, Bu." ucap Tifani.


"Jangan berterima kasih. Aku tidak melakukan apa-apa untuk kamu." Lestari tersenyum. Dia mengamati wajah Tifani, " Apakabar, dokter Tifani?" Lestari memeluk lagi Tifani.


''Sebelumnya aku sangat sakit bahkan merasakan ajalku sudah sangat dekat. Tapi, hari ini aku sudah sehat jauh lebih sehat dan aku sudah sembuh.'' Tifani mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Lestari mengusap punggung Tifani sembari tertawa, '' Berarti aku dokter yang sesungguhnya,'' ujar Lestari. Ia melirik Bruce yang bergeming tidak percaya melihat sikap Lestari yang begitu bijaksana.


''Kamu dokter yang sesungguhnya. Ternyata tekanan batin jauh lebih tersiksa dengan sakit dari penyakit.'' sahut Tifani.


''Tante,'' Putri berlari turun dari gendongan Rico. Dia menarik ujung mantel Tifani.


Tifani melepas pelukannya dengan Lestari, dokter tersenyum, dia berjongkok memeluk Putri,'' Sayang, maafin tante ya. Tante sudah jahatin kamu.'' ucap Tifani.


''Tante nggak jahat. Kan, Putri baru bertemu Tante hari ini.'' anak polos itu berkata seadanya. Memang benar Putri baru pertama kali bertemu Tifani.


''Aku sudah sehat. Sungguh, aku tidak sakit lagi.''


''Dokter,'' ujar Lestari


''Tifani,'' ucap Bruce dan Rico bersamaan.


🥀🥀🥀🥀

__ADS_1


Penerbangan pesawat dari Spanyol ke Jerman tidak lama hanya dua jam lamanya. Membuat Lestari dan Tifani memilih tidak tidur keduanya bertukar cerita seperti dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu.


Sementara Putri memilih bermain membentuk origami dengan paman Bruce, Rico yang masih canggung sesekali hanya tersenyum saat matanya bertemu mata Bruce.


''Apa kau tidak ada rencana melanjutkan praktekmu?'' tanya Lestari.


''Hmmm, mau. Tapi, tergantung fisikku. Bu,''


''Lestari, saja.'' Lestari memotong pembicaraan Tifani dia tidak ingin Tifani memanggil dia ibu.


''Maaf, aku hanya ingin menghormati.'' lirih Tifani.


''Apa aku terlihat seperti ibu-ibu?'' canda Lestari.


Keduanya tertawa bersama.


Akhirnya setelah dua jam berada diatas udara, burung besi itu perlahan turun. Tifani, Lestari, Bruce, Rico menggendong Putri. Mereka turun dari pesawat berjalan menuju bandara menunggu jemputan dari anak buah Bruce yang tinggal di Jerman.

__ADS_1


__ADS_2