Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
serasa nonton tinju gratis


__ADS_3

Rico masih duduk di sofa sembari menyentuh pipinya bekas tamparan Lestari. Saat ini Lestari sudah mencengkeram tangan Tifani.


Plakk...


Lestari melayangkan lagi satu tamparan dipipi kiri Tifani. Sementara Bruce hanya jadi penonton. Dia masih berdiri di balik pintu masuk dengan santai.



''Ini untuk perbuatanmu yang menjijikan. Hebat sekali kalian berdua melakukan mesum dikantor ini!" ucap Lestari.


Lalu, dengan kasar dia mendorong Tifani hingga tersungkur dilantai ruang kerja Rico.


''Sayang...tolongin aku,'' rengek Tifani. Namun, Rico masa bodoh. Dia dan Tifani sama-sama belum menyadari kehadiran Bruce. Bukannya menolong Tifani, Rico malah menikmati aksi Lestari menampar Tifani.


''Tolong? Katamu?'' Lestari menghampiri Tifani lalu menjambak rambut dokter itu. Tidak peduli ini dikantor. Dia menarik rambut Tifani kebelakang hingga kepala Tifani mendengak keatas. Lestari mendengus kesal karena tas dibahunya mengganggu dirinya, akhirnya Ia menjatuhkan tasnya dilantai agar dia bebas memukul Tifani. Hari ini Lestari ingin memberi pelajaran untuk Tifani dan Rico, mengajarkan etika dan sopan santun pada kedua manusia setan itu.


''Beraninya kau meneror ayahku, ha?''


Plakk...


Satu tamparan lagi melayang dipipi mulus Tifani.


''Aww, sakit. Kamu nggak waras menuduh aku teror ayahmu?" bohong Tifani.


"Apa katamu saya tidak waras? Dokter apaan lu ini?" sambar Lestari.


''Kau ini bicara apa? Masuk ruangan atasan tidak permisi malah menuduh sembarangan," kilah Tifani lagi.


"Apa? Minta permisi disiapa? Kau atau di lelaki brengsek itu?'' Lestari menunjuk Tifani lalu menunjuk Rico, Kemudian dia menatap Bruce.


Bruce tersenyum dengan melipat kedua tangan didadanya. Pria itu masih diposisi yang sama menikmati tontonan tinju gratis.


"Iya, siapa lagi kalau bukan Rico," bentak Tifani.


Plak...


"Jaga mulutmu! Sekali lagi bentak aku, maka kau akan menyesal seumur hidupmu.'' Ia menatap tajam Tifani. " Dan kamu perlu ingat baik-baik, aku tidak akan pernah minta permisi untuk dia." Lestari melotot pada Rico Lalu, kembali menatap Tifani.


"Lepasin rambutku!" pekik Tifani. Dia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Lestari.


"Nggak!!!"


Lestari berjongkok menyamai tinggi dengan Tifani, tangannya masih menarik rambut Tifani.


"Jawab didepan kekasihmu itu," Lestari menoleh menatap Rico.

__ADS_1


Rico hanya tersenyum.


"Kenapa kau menelepon ayahku, ha? Kau tau karena perbuatanmu ayahku sekarang dirawat di rumah sakit. Berdoa aja semoga tidak ada hal buruk yang menimpa ayahku kalau nggak tau aja akibatnya! Dasar wanita murahan. Receh sekali terormu! Ciuh..." Lestari menunjuk tepat di mata Tifani lalu berdecih.


Sontak Rico berdiri dari sofa. Dia kaget Tifani bisa menelepon Filipo. Rico pikir Tifani menelepon Lestari karena malam tadi Rico sudah mengecek panggilan keluar diponsel Tifani. Namun, tidak menemukan siapa yang dihubungi Tifani. Ketika mendengar ucapan Lestari, Rico kaget bukan main. Pria itu melangkah mendekati Tifani.


''Fani. Benar ucapan Lestari, barusan?'' tanya Rico, matanya sudah mulai memerah. Ada amarah yang tertahan disana.


''Ti__dak! Di__a bo__hong, sayang.'' Fani sudah mulai menangis. Dia mulai berakting seolah Lestari sedang berdusta.


''Jangan bohong!" balas Rico.


"Aku tidak bohong, sayang," Tifani memasang wajah melas. Rico menarik kasar rambutnya.


"Sialan!!!" Rico mengutuk dirinya.


"Jawab dengan jujur. Kau mau jujur atau saya tunjukkan buktinya sekarang, ha!!'' sergah Lestari. Dia menarik rambut Tifani semakin kebawah. Tidak peduli wanita itu merintih kesakitan, semakin Tifani menjerit kesakitan semakin Lestari menarik ke bawah.


Bruce tersenyum sembari mengangkat kedua jempolnya keatas untuk Lestari. Ibu satu anak itu masih dingin dengan tingkah Bruce. Namun, dia merasa aman jika Rico berani berbuat macam-macam untuk dia, setidaknya ada Bruce yang melindungi dia.


"Tapi, aku yakin Lestari tidak mungkin berbohong." timpal Rico lagi.


"Sayang, kamu ini percaya aku atau percaya mantan istrimu?" sahut Tifani.


Mendengar pembelaan Tifani, Rico menghela napas. Dia tidak bisa membela Tifani karena semalam dia sendiri yang memergoki Tifani habis menelpon namun sialnya dia tidak bisa tau siapa yang ditelepon Tifani. Rico sadar dia sering meletakkan ponsel di sembarangan tempat, bisa saja,'kan Tifani mengambil nomor Filipo dari ponselnya?


"Fani.Kenapa kamu begitu ceroboh.Bukannya aku sering ingatin kamu untuk tidak ikut campur urusan rumah tanggaku?" Terlihat rasa kecewa di mata Rico.


"Aku hanya ingin hakku," celetuk Tifani.


"Huekk..hak apaan? Hak dikeloni?" sindir Lestari.


"Tapi, nggak gini caranya. Ayah itu menderita jantung, Fan." Rico mengusap aksar wajahnya.Jujur dia memang menginginkan harta Filipo tapi dia tidak tega melihat Filipo sakit.


''Ya udah tunjukin buktinya. Tadi ngotot katanya ada bukti, ada-ada saja. Bilang saja lu mulai stres karena suamimu tidak memilih lu tapi lebih memilih aku. Makanya jadi perempuan itu yang___'' belum juga Tifani selesai bicara Bruce melangkah mendekati Lestari, Rico dan Tifani.


" Yang apa?" tanya Lestari.


Rico menatap Lestari, dia kaget dengan sosok baru lagi yang dibawa Lestari ke kantor. Masih dalam ingatannya beberapa minggu lalu dia melihat Lestari dengan lelaki botak tengah. Lalu hari ini dengan Pria brewok, berwajah dingin bak es batu.


''Siapa lagi pria ini?'' batin Rico. Dia mundur satu langkah kebelakang. Rasanya dia ingin bertanya tapi dia sama sekali tidak ada nyali.


Tifani tertawa sembari bertepuk tangan.


Prokk...prok..

__ADS_1


''Sepertinya mulai seru,'' sindir Tifani.


Bruce tersenyum dia tidak peduli dengan respon Tifani. Dia merangkul pinggang Lestari lalu mendekatkan bibirnya ditelinga Lestari, ''Lepaskan rambutnya biar kita tunjukkan buktinya dulu,'' bisiknya begitu lembut.


''Nggak!!!'' tegas Lestari.


Namun, Bruce belum menyerah dia mengangguk, bola mata keduanya saling mengunci sesaat membuat Lestari melemah dengan tatapan Bruce. Kemudian, dengan kasar Lestari mendorong Tifani, membuat dokter itu tersungkur lagi.


''Duh, dasar wanita stres,'' rintih Tifani.


Rico masih bergeming mulutnya terbuka. Dia merasakan sesak didadanya. Pria itu menarik kasar rambutnya. Tifani menatap sembari tertawa meledek Rico.


''Lihat istri polosmu, dengan mudahnya dia menemukan pengganti dirimu.'' Tifani tertawa seraya merapikan rambutnya


Plakk...


Kali ini Bruce yang menampar Tifani.


''Jaga mulutmu, dia bukan wanita murahan seperti dirimu. Dia wanita yang tau membawa diri. Aku ke sini karena selama ini aku yang mengirimkan bukti perselingkuhan kalian untuk Lestari." Bruce tersenyum sinis pada Tifani. Lalu, meraih tangan Lestari. Dia menggenggamnya begitu erat seakan menjelaskan perasaan dia untuk Lestari kepada Rico dan Tifani.


Melihat tas Lestari berada dilantai Bruce menunduk lalu meraih tas itu. Dia menenteng di bahu kirinya.Tidak peduli di lihat Rico dan Tifani.Namun, ini perasan dia untuk Lestari.


"Iya, siapa sih yang tidak mengenalmu pak Bruce," sergah Tifani dia berjalan kearah toilet.


"Kamu pasti kenal aku.Karena tanpa aku, kau bukan siapa-siapa." sindri Bruce.


Tifani menghentikan langkahnya. Air matanya tertahan dipelupuk mata sesak rasanya mendengar orang yang masih dia hargai menyindir ia begitu. Rico, melirik Bruce lalu berganti menatap Tifani. Dia merasa Tifani menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Bruce membantu Lestari duduk di sofa, kemudian ia meletakan tas Lestari diatas meja sofa.Lalu dengan santai dia mengikuti Tifani yang sedang mencuci tangan di wastafel. Bruce meraih bahu Tifani lalu ditariknya dengan kasar.


"Ikut aku!" ucap Bruce.


Rico ingin menegur namun dia kembali diam.


"Apa-apaan, kau ini!" teriak Tifani.


"sssttt...nurut jangan banyak bicara. Kau masih Tifani yang dulu berarti masih mengenal aku kan? Bukannya aku benci orang yang melawan perintah ku? Masih ingat sifat aku?" Bruce tersenyum lalu terus menarik tangan Tifani.


Akhirnya Tifani menurut dia datang duduk di sofa, berhadapan dengan Lestari. Kemudian, Bruce tidak berhenti disitu saja, dia berjalan kearah meja kerja Rico dengan cuek dia meraih laptop Rico. Lalu. membawanya ke sofa, ia meletakkan di meja depan Lestari dan Tifani.


Rico hanya bisa menatap Bruce dia tidak berani menegur atau merebut laptop nya dari tangan Bruce, entah kenapa tapi suara hatinya berkata 'Jangan menyentuh pria itu.'


"Kau minta bukti? Tenang jangan takut aku pasti ada buktinya. Kau tau,'kan? Aku tidak suka berbicara tanpa bukti. Hahaha... ada-ada saja kau ini."sindir Bruce.


Tifani memutar mata malas. Namun, sebenarnya dia juga sangat takut karena dia tau benar siapa Bruce. Rico masih berdiri didepan Sofa.

__ADS_1


__ADS_2