
"Kenapa tidak cek lokasi saat ini kamu berada di internet? Yuk. sembari menunggu app pintar itu menunjukkan lokasi kamu saat ini, kemarilah minum bersama aku disini," ajak Bruce. Tangannya menepuk-nepuk sofa meminta Lestari datang duduk bersama dirinya.
Namun, Lestari menggeleng dia menolak ajakan Bruce. Bayangan Julio menjebak dirinya dengan obat perangsang itu masih menyisakan trauma.
"Aku tidak sehina pria botak itu. Aku memang brengs*ek namun aku tau wanita tidak patut dijebak seperti itu. Apalagi kamu wanita yang kucintai, aku tidak akan tega menjebak kamu," jelas Bruce. Tangannya menuangkan minuman di cangkir lalu dalam satu tegukan minuman kadar alkohol tinggi itu hbis diteguknya. Ia mengernyit karena paitnya minuman itu, "Argh," Lalu ia meletakkan cangkirnya diatas meja lagi.
"Nggak mau. Kamu minum saja. Aku mau pulang ternyata hotel ini dekat rumah sakit ayahku dirawat." sahut Lestari. Menunjukkan layar ponselnya ke arah Bruce.
"Ini masih malam, nanti apa kata resepsionis. Mereka akan berpikir kita bertengkar lalu kamu kabur," ucap Bruce.
Lestari berdiam sejenak, 'Benar juga ucapan dia,' batin Lestari.
"Baiklah. Aku akan tunggu sampai pagi. Kamu janji tidak akan apa-apakan aku lagi?" ujar Lestari.
"Iya. Aku janji." Bruce mengangkat kedua jarinya keatas membentuk huruf 'V'. peace artinya berjanji.
__ADS_1
"Serius?" Lestari tersenyum.
"Lebih dari itu, dua rius," balas Bruce.
"Nggak lucu," cebik Lestari.
Bruce tertawa hatinya lega. Akhirnya Lestari mau menerima permintaan maafnya. Walaupun saat ini dia belum tau apakah Lestari nantinya akan menjawab 'Ya' mengenai ungkapan hatinya atau tidak. Tapi, untuk saat ini dia lega beban dihatinya soal Lestari tidak maafkannya tidak terjadi.
Lestari memilih mijit layar ponselnya, mengecek akun sosmed miliknya. Sudah Lama sekali dia tidak pernah membuka tiga akun sosmed dengan app berbeda-beda. Matanya membulat ketika satu caption lewat beranda akun sosmednya. ' FB'
Lestari tersenyum getir, 'Mengapa dulu kamu selalu abaikan setiap kesempatan yang aku kasih?' batin Tari. Tangannya menyentuh lembut foto balita itu, Ia pun masih menyimak komen di kolom komentar ternyata banyak sekali komentar prihatin untuk Rico.
Akhirnya Lestari memilih meletak'kan ponselnya diatas nakas, dia tidak ingin terpancing dengan caption- caption berikut nya lagi. Lestari memilih tidur karena waktu masih pukul 04:00.
"Maaf aku mau tidur lagi dulu, mataku masih ngantuk." ucapnya. Lalu, Lestari membaringkan tubuhnya diatas ranjang lagi, ia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Bruce mengamati gerak Lestari. Dia tau Lestari sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi, dia tidak ingin bertanya dan mengetahui lebih jauh. Bagi Bruce, ini bukan urusan dia. Bisa saja ini karena masalah perceraian Lestari yang masih hangat.
☔☔☔☔☔
Dirumah Lestari.
Rico masih terjaga. Dia memilih mengambil gambar Putri dengan camera ponselnya untuk mengalihkan pikirannya kepada Lestari. Ia mengabaikan setiap moment Putri tidur, Putri mendengkur, tersenyum, ingin menangis, bahkan tertawa. Semua diabadikan dengan apik dan tersimpan rapi di galeri ponselnya.
"Lucu banget anak kecil kalau tidur, ada saja reaksi mereka. Mungkin itu karena dia sedang bermimpi," ujar Rico. Lalu, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Putri, "Rambut nakal beraninya menghalangi wajah cantik anakku," Rico tersenyum seraya mengecup kening anaknya.
"Besar nanti jika kamu sudah mengerti. Jangan dengar apa kata orang nantinya tentang hubungan papi dan mami. Tapi, kamu cukup tau Papi dan mami selalu ada waktu untuk kamu dan tidak akan pernah membiarkan kamu kehilangan kasih sayang dari kami. Maafin papi yang tidak berguna ini." Butiran kristal itu pun berlomba-lomba jatuh membasahi pipinya.
Cup
Ia berulang kali mengecup kening, pipi Putri. Kemudian, Rico duduk di tepi ranjang, Ia menghela napas setelah menemukan jalan keluarnya.
__ADS_1
"Baiklah. Mungkin dengan itu, jauh lebih baik," ujar Rico, seraya menyugar rambutnya.