
Lestari mengenakan gaun pengantin dengan balutan mutiara murni. Gaun itu sangat cocok dengan tubuh Lestari ia benar-benar bak princess Cinderella. Sisilia bersiaga di depan pintu hotel dengan pistol di tangannya. Ya Bruce dan Lestari serta keluarga memilih menginap di hotel agar tidak ribet untuk acara pernikahan di Kapel yang berada di dalam hotel itu juga.
MUA itu tersenyum, puas dengan hasil karyanya, " Nyonya, anda sangat cantik." pujinya.
Lestari tersenyum," Ahhh anda terlalu berlebihan. Itu karena tanganmu yang pintar merias aku." sahut Lestari.
"Benar, Nyonya anda sangat cantik. Tuan Bruce tidak salah memilih anda sebagai istrinya." sahut Sisilia.
Lestari tersenyum, dia sesekali melirik jam yang menempel di dinding kamar hotel. Tinggal satu jam lagi dia akan sah menjadi istri Bruce.
Sementara di kamar sebelah tampak Bruce bolak-balik melirik jam mahal yang melingkar ditangannya, sesekali ia menghela napas.
"Tuan, apakah anda grogi? Jika iya, saya ada cara untuk menghilangkan grogi anda." Felix yang duduk di sofa bersebelahan dengan Bruce bertanya sembari menahan tawa.
"Ish, Kau! Aku tidak grogi hanya penasaran dengan calon istriku." sahut Bruce tersenyum sendiri sesekali ia melirik ponselnya namun benda berbentuk pipih itu sama sekali tidak bergetar.
"Maafkan saya." sahut Felix menahan tawa. Anak buahnya itu tauBruce tidak grogi tapi dia sudah tidak bisa menahan diri untuk bertemu dengan Lestari.
"Dasar tuan ngg sabaran bangat. " batin Felix.
Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Bruce di dampingi Felix berjalan menuju kapel yang terdapat di hotel itu. Mafia itu berjalan tegap bak pangeran menuju depan Altar di mana sudah ada seorang pastor yang akan menikahkan mereka. Para undangan yang hadir di Kapel untuk meyaksikan janji pernikahan Lestari -Bruce menyambut dengan tepukan tangan meriah. Bruce berdiri menghadap ke depan ia menanti sang calon istri.
🥳🥳🥳🥳🥳🥳
__ADS_1
Tifani dan Putri pun sudah selesai dirias, keduanya berjalan menuju kamar hotel yang ditempati Lestari.
Sisilia membukakan pintu untuk Putri dan Tifani. Tifani terpanah melihat Lestari yang sangat cantik, "Sayang lihat Mami dia sangat cantik." ucap Tifani kepada Putri.
"Iya, Onty. Mami sangat cantik." Putri pun berlari kecil dia sudah tidak sabaran ingin memeluk sang ibu.
"Mami, kau sangat cantik. Nanti kalau Putri besar Putri mau menikah seperti Mami."Gadis kecil itu memandang Lestari tanpa berkedip.
"Sayang, kamu masih kecil belum boleh menikah."Tifani dan Lestari menjawab bersamaan.
"Tapi, Putri mau cantik seperti Mami. Putri mau terlihat seperti Cinderella." Putri memanyukan bibirnya ke depan.
Sementara Tifani menyentuh bahu Lestari, "Kakak, kau sangat cantik." puji Tifani.
"Terima kasih. Kau juga sangat cantik dokter Tifani." sahut Lestari.
"Kau juga nanti akan menjadi ibu sambung anakku. Di antara kita cukup menjadi kakak beradik aku lebih nyaman seperti itu."balas Lestari.
"Baiklah jika itu yang kau mau, Kakak." Tifani terus tersenyum. Hari ini dia sangat bahagia karena Bruce sudah mendapatkan wanita yang tepat dalam hidupnya. Dia juga bersyukur dendam itu kini berubah menjadi cinta tidak ada lagi saling benci.
****
Waktu pun sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
__ADS_1
"Ayo, kak sudah waktunya." ucap Tifani seraya membantu Lestari berdiri. Putri yang sudah di ajar bagaimana cara memegang gaun pengantin sang ibunda segera berdiri dari belakang Lestari lalu ia memegang gaun panjang bagian belakang sedikit terangkat agar bisa membantu Lestari berjalan.
Di depan pintu Filipo dan Rose sudah menunggu. Filipo segera menggandeng lengan Lestari. Tifani dan Rose mengikuti dari belakang. Lalu, Lestari dan Filipo berjalan menuju Altar. Ya hari ini Filipo menyerahkan putrinya kepada Bruce untuk selamamya.
Para undangan yang hadir memberi tepuk tangan Bahkan banyak yang saling berbisik.
"Dia sangat cantik."
"Dia wanita beruntung mendapatkan pria kaya raya."
"Ya. Andai aku punya anak perempuan pasti aku akan menjodohkan dengan tuan Bruce."
Lestari terus memasang senyum di bibirnya.Sesampainya di depan Altar, Filipo menyerahkan Lestari kepada Bruce. Mafia itu menyambut Lestari denger suka cita. Dia mengisi jemari- Lestari dengan jemarinya.
"Mulai hari ini dan selamanya saya serahkan Putriku Lestari kepadamu ananda Bruce. saya tidak meminta banyak hanya satu pintaku sayangilah Putriku dengan setulus hatimu. saya pun berdoa semoga hubungan ananda berdua langgeng selamanya hingga maut yang memisahkan." ucap Filipo dia menatap Bruce.
"Terima kasih Ayah sudah percayakan dan mengizinkan saya menikahi Putri ayah. Saya berjanji akan mencinta dan menjaga Lestari seperti saya menjaga ibuku sendiri."
Usai berbicara dengan Filipo, Bruce menggandeng Lestari naik ke atas Altar. Di sana sudah ada pastor yang siap menikahkan keduanya.
Setelah mengucapkan janji suci pernikahan. Cincin kawin disematkan di jari manis masing-masing tepuk tangan para hadirin menyambut dua insan yang kini sudah sah menjadi pasangan suami-isteri. Rona bahagia diwajah Bruce tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata sesekali mafia itu mengecup punggung tangan Lestari. Begituun Lestari, dia membalas kecupan Bruce dengan menyenderkan bahu di dada Bruce.
"Yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia," usai pastor mengucapkan doa dan janji sehidup semati.
__ADS_1
Bruce mengecup kening Lestari. Acara pernikahanpun selesai. Bruce dan Lestari bergandengan keluar dari kapel, keduanya berdiri didepan pintu Kapel lalu membelakangi para hadirin, Lestari melemparkan bunga ditangannya.
"Selamat ya dokter semoga anda segera menyusul."ucap salah satu ibu kepada Tifani yang berhasil menangkap bunga dari Lestari.