Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Jelmaan Malaikat .


__ADS_3

''Sama-sama. Tifani sudah siap?" tanya Bruce lagi.


''Dia sudah siap. Dia hanya menunggu untuk dijemput saja.'' Jawab Rico pelan.


''Baikah. Kamu, ke Tifani lebih dulu nanti aku nyusul. Aku masih bicara sebentar dengan Lestari.'' ujar Bruce.


''Ha?'' Rico kaget, apa dia tidak salah dengar? Bruce masih bicara dengan Lestari? Benarkah Lestari dan Putri benaran ikut?


''Baiklah. Permisi.'' Rico kembali ke yayasan untuk menemui Tifani dengan perasan gundah, ya dia bingung mengapa hatinya seperti tidak merelakan Lestari dengan Bruce? Padahal Bruce begitu baik dengan dia. Walaupun kemarin Bruce sempat menghajar dia tapi itu karena salah dia juga.


"Aneh, kenapa aku merasa sakit banget hatiku," gumamnya.


*****


Sementara Bruce masih kembali ke mobil. Lestari masih meyakinkn dirinya benar jika yang dia lihat tadi benaran Bruce atau jelmaan Malaikat? "Manis sekali sikapnya terhadap Rico." gumam Lestari.


Tok, tok, tok...


Lestari menurunkan kaca mobilnya.


''Sayang, aku jemput Tifani sebentar. Kamu tunggu disini aja temani Putri kasihan anak itu masih pulas.'' ujar Bruce, seraya melirik ke kursi belakang.


''Masih pulas bangat,'' sambung Bruce lagi.


''Ya, Aku disini saja.'' sahut Lestari. Bibirnya tersenyum sembari melambaikan tangannya kepada Bruce.


Bruce segera menyusul Rico.


🌹🌹🥀🌹🥀


''Kamu, kenapa kembali lagi? Bagaimana jika ayah datang melihat kamu disini? Sudah cukup kita melukai mereka, aku tidak ingin ayahku terluka lagi.'' Omel Tifani sembari memasukkan beberapa obat kedalam tasnya.


Rico hanya diam, dia tidak bisa menjawab.


''Aku yang minta Rico untuk ikut bersama kita ke Jerman.'' sahut Bruce yang sudah sampai didepan pintu. Dia melangkah masuk, tangannya menepuk bahu Rico yang bergeming didekat nakas. Rico tidak percaya bukannya tadi Bruce mengatakan ingin bicara dengan Lestari lalu mengapa belum juga lima menit Bruce sudah di kamar Tifani?


'Lestari dan Putri benaran ikut atau nggak?' batin Rico.


''Ayah?'' Tifani menoleh menatap Bruce, kemudian beralih menatap Rico. Hatinya gelisah dalam hati dia berharap semoga Bruce tidak marah Rico.

__ADS_1


"Ya." sahut Bruce tersenyum.


"Maafin aku, semlama Rico nginap disini." Tifani melingkarkan tangannya dipingag Bruce, kepalanya ia senderkan didada bidang Bruce.


"Lalu? Mengapa lapor ke aku?" Bruce tertawa dia melirik Rico.


Tifani langsung terisak didalam dada Bruce. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar?


"Ayah, mengajak di,"


"Ya. Aku tahu kamu juga mengharapkan kehadiran dia,'kan?" Bruce memotong pembicaraan Tifani seraya mengusap rambut dokter itu.


Tifani semakin terharu dia mengeratkan pelukannya di pinggang Bruce. Kepalanya masih nyaman di dada bidang Bruce, " Terima kasih dan Maaf telah melukai hatimu lagi." lirihnya berderai air mata.


" Sudah jangan minta maaf terus. Aku memang brengse*k tapi aku juga manusia biasa. Kamu dan Rico berhak mendapat kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Aku ngga berhak terus-menerus membenci kalian berdua, Aku benci kalian berdua kecuali aku tidak pernah melakukan kesalahan. Bukannya cinta tidak bisa dipaksakan?" Bruce mendaratkan satu kecupan di ujung Kepala Tifani.


"Terima kasih," lirih Tifani.


Sementara Rico hanya diam dia menunduk malu. Demi Tuhan, jika boleh, dia ingin berlutut di kaki Bruce, dia ingin meminta maaf dari lubuk hatinya yang terdalam namun Rico ragu permintaan maafnya dibisa di terima atau ditolak Bruce?


"Aku tidak suka mendengar permintaan maaf terus. Uda siap semua?" Bruce mengalihkan pembicaraan.


"Apa aku bercanda?" Bruce tersenyum.


"Bukan begitu. Aku heran saja." Tifani masih berharap ini mimpi, atau bukan Bruce masa iya Bruce berubah? Bukannya Bruce orangnya tegas dan sekali tidak tetap tidak? Atau apakah begitu hebatnya Lestari mengubah hidup Bruce? Dulu Bruce mengatakan dialah wanita satu-satunya yang Bruce cinta tapi waktu itu Bruce tidak pernah berubah, dia masih tetap ke club bermain dengan wanita malam, mabok masih sering pulang dengan luka. Apa perlu Tifani tanya? Bruce masih ke club?


"Ahh nanti saja aku tanyakan di Lestari." batinnya.


"Jangan melamun entar kesambet. Ayo, berangkat." Bruce menyadarkan lamunan Tifani. Wanita itu masih memeluk Bruce.


Rico berdiri, " Fan, mana yang mau dibawa ke mobil biar aku bantu bawa," tawarnya.


"Itu aja satu koper itu," tunjuk Tifani.


Namun, baru saja Rico mau membawa koper Tifani ke mobil. Tiba-tiba ada suara memanggil Rico dan Bruce.


''Paman, Papi,'' Putri berlari masuk ke kamar Tifani. Bruce dan Rico juga Tifani kaget, sementara gadis kecil itu langsung melebarkan kedua tangannya berlari ke arah Tifani. Putri melewati Rico yang sudah melebarkan tangannya menyambut pelukan dari sang putri tapi dia harus kecewa karena Putri memilih berlari memeluk Tifani, "Hei, cantik bukannya tadi kamu tidur?" Bruce melepas pelukan denganTifani dia mendekati Putri.


"Udah bangun. Putri mau bertemu Tante Tifani." ujarnya.

__ADS_1


"Hallo, Tante Tifani." Ia menatap Tifani.


"Hai, sayang." Tifani berjongkok menyamai tingginya dengan Putri. Tifani mendaratkan satu kecupan di pipi Putri. Tifani langsung memeluk Putri erat, Ia menempelkan dagunya di bahu kecil Putri, " Maafin tante sayang, maafin tante ya sayang." Tifani benar-benar menyesali perbuatannya. Dia juga tidak menduga gadis ini kenapa langsung dekat dengan dia?


"Tante kenapa minta maaf?" tanya Putri polos.


"Nggak apa-apa kan kita baru bertemu jadi Tante harus minta maaf," bohong Tifani.


"Nggak apa-apa sekarang kita sudah bertemu Tante jangan menangis lagi. Kata Mami kalau orang yang suka menangis nanti wajahnya jelek." Putri menirukan wajah mumi.


"Berarti Tante sekarang jelek dong," Tifani tersenyum dia mengeratkan pelukannya dengan Putri. Bruce dan Rico saling memandang keduanya akhirnya tersenyum dengan tingkah polos Putri.


"Nggak Tante paling cantik." Putri nurun sifat ngerayu siapa tapi gadis ini pintar sekali berbicara.


"Thanks," Tifani mencubit pipi Putri.


🌹🌹🌹🌹


Lestari yang baru sampai di depan pintu bergeming. Dia tidak percaya anaknya sedang berpelukan dengan Tifani. Bruce yang melihat Lestari berdiri didepan pintu sembari mengatur napasnya. Dia langsung menghampiri Lestari.


"Sayang, mau minum?" Bruce menawarkan air karena dia tahu kekasihnya butuh air.


"Boleh."


"Bentar aku ambilin."


Bruce berjalan ke arah lemari pendingin dia mengambil satu botol air mineral kemudian ia memberikan kepada Lestari.


"Minum dulu,"


"Makasih, sayang."


"Sama-sama,"


Bruce menatap Tifani, " Fani." panggil Bruce.


Tifani menatap Bruce, ia mengangguk mengerti. Dokter itu dengan ragu menghampiri Lestari. Ia terus menunduk tidak ingin menatap Lestari bukan karena takut tapi ia malu dengan dirinya yang telah melukai perasaan wanita itu.


Sementara Rico menunduk, ia meremas ujung bajunya. Keringat dingin membasahi keningnya. Matanya menatap Lestari yang terus tersenyum kepada Tifani.

__ADS_1


__ADS_2