Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
persiapan operasi.


__ADS_3

Bruce, Lestari, Tifani, Putri dan Rico dijemput orang kepercayaan Bruce yang memang tinggal di mansion milik Bruce yang di Jerman. Mereka diantar ke mansion milik Bruce yang di Jerman. Setibanya di mansion Lestari terpanah dengan interior yang ada di mansion milik Bruce. Wanita itu semakin penasaran dengan kekasihnya itu, siapa Bruce? Saat sedang mengamati setiap sudut mansion dengan funiture yang memanjakan mata, tiba-tiba pelayan datang mengajak mereka untuk makan siang karena hari sudah pukul dua siang.


''Terima kasih, nanti setelah mandi baru kami makan,'' sahut Lestari.


''Baik, Non.'' Pelayan itu pun mundur satu langkah lalu kembali ke dapur. Membiarkan Lestari menikmati setiap desain mansion Bruce.


Setelah mengatakan Lestaripun bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Usai semua membersihkan diri mereka pun ke ruang makan untuk makan siang.


🌵🌵🌵🌵🌵🌵


Di ruang makan.


Sembari menunggu alat makan disiapkan dua pelayan yang kerja dimansionnya. Lestari menatap Bruce.


''Sayang, setelah makan siang kita harus segera ke rumah sakit. Aku nggak mau nunggu sampai besok. Nanti kalau check-up gimana sebaiknya langsung ambil tindakan saja,'' usul Lestari sembari menerima piring dari pelayan.


''Siap, Nyonya Bruce,'' sahut Bruce dengan kekehannya. Entah sejak kapan pria itu suka tertawa dan bercanda receh, Tifani yang mendengar saja kaget karena sejak dia berusia lima tahun tinggal dengan Bruce dia jarang sekali mendengar candaan Bruce bahkan tidak sama sekali. Namun, setelah Bruce mengenal Lestari ada banyak perubahan yang terjadi, Bruce terlihat lebih open, tertawa lepas bahkan bisa bercanda.


Lestari tersenyum malu, matanya melirik ke arah Tifani dan Rico dengan wajah bersemu merah padam.


''Tante, tutup telinga aja kalau paman Bruce dan Mami lagi bicara. Mereka sering bicara kata cinta.'' Putri berkedip kearah Tifani. Rico menggelengkan kepalanya dengan ucapan Putri yang melewati usianya.


Sementara Tifani hanya tersenyum saja karena dia sudah tahu siapa Bruce. Pria itu tidak pernah berpura-pura jika dia sudah mencintai wanita itu maka dia akan melindungi wanita itu sampai kapan pun bahkan dia juga akan memuji wanita itu kapan saja jika dia ingin.Namun, sedikit berubah pria itu dulu dingin tidak seceria dia bersama Lestari.


Tifani menganggukan kepalanya tanda dia setuju dengan usulan Putri. Mereka pun mulai menikmati makan siang tanpa bersuara kecuali bunyi perpaduan alat makan yang digunakan.

__ADS_1


Satu jam sudah makan siang selesai. Bruce mengajak semuanya menikmati udara kota Berlin ditaman belakang dengan memberi makan ikan piaraan Bruce dikolam yang terdapat di mansion itu.


Lestari baru menemukan satu kebiasaan Bruce lagi, pria itu selain hobi merebut dirinya dia juga pintar memelihara hewan. Semoga saja hanya hanya hewan bukan ayam berkaki dua yang bisa bergoyang dengan suara des*ahan. Itu pasti akan membuat Lestari memotong daging uratnya.


🌵🌵🌵🌵🌵


Malam harinya.


Sesuai rencan dan jadwal yang sudah diatur Lestari.Walaupun Bruce yang berkuasa dimansion itu tapi semua jadwal diatur Lestari. Mereka sudah bersiap-siap, akan berangkat ke rumah sakit untuk melakukan check- up.


Bruce, Tifani, Lestari, Rico dan Putri mereka diantar sopir Bruce. Biasanya Bruce yang tidak suka diantar sopir kali ini dia harus mau karena atas permintaan Lestari.


"Pokoknya selama di Jerman aku minta kamu nggak boleh nyetir sendiri." ucapnya pada Bruce. Mau tidak mau Bruce harus menurut.


Satu jam dalam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit. Bruce, Lestari, Tifani, Rico dan Putri turun dari mobil. Mereka bergegas masuk ke dalam rumah sakit. Karena, semua sudah diurus anak buah Bruce, mereka hanya tinggal masuk ke ruang dokter untuk melakukan pemeriksaan. Akan tetapi di ruang dokter hanya di bolehkan dua orang yakni satu pendamping dan pasien, maka Lestari yang menemani Tifani masuk ke ruang dokter. Sementara Rico, Bruce dan Putri menunggu di ruang tunggu.


"Bagaimana?" Bruce langsung bertanya dia daritadi tidak bisa sabar menunggu hasil pemeriksaan.


"Kata dokter panjangnya sudah dua centimeter sebaiknya segera diambil tindakan." ucap Lestari sembari duduk disamping Bruce.


"Ya udah kita segera ambil tindakan." sahut Bruce.


Sementara Rico menggenggam tangan Tifani mengusap punggung tangan wanita yang sudah mencuri hatinya itu, " Kamu harus kuat demi aku," ucapnya sembari mengecup punggung tangan Tifani.


"Aku juga, Pi." Putri tidak mau kalah. Balita itu bergegas mendekati Tifani sembari melayangkan satu kecupan dipipi Tifani.

__ADS_1


"Tante harus kuat, Tante pasti sembuh." ucap nya sembari memberi semangat.


"Iya sayang, makasih," Tifani memeluk Putri penuh cinta.


Sementara Bruce segera menghubungi dokter yang ada dirumah sakit itu.tampak dia begitu serius berbicara melalui telepon seluler. Akhirnya panggilan diakhiri.Bruce datang duduk disamping Lestari lagi.


"Kita tunggu sebentar lagi perawat akan datang, membawa Tifani ke ruang persiapan operasi," ucap Bruce sembari mengusap wajahnya.


Lestari mengusap punggung Bruce memberi support agar kekasihnya itu tidak perlu kwatir percayakan saja semua kepada tim dokter.


Lestari melihat ke arah Tifani yang sedang bersender di bahu Rico, "Fani, kamu tidak apa-apa, kan?" tanyanya kwatir.


"Iya kak.Aku baik-baik saja." sahut Tifani tersenyum.


Tidak lama perawat datang, Tifani dinaikkan diatas Brankar keempat perawat itu mendorong Tifani ke ruang persiapan operasi. Bruce meletakkan jarinya dibawa dagu, mafia itu sangat cemas dengan Tifani. Walaupun bagaimana Tifani sudah menjadi tanggung jawab dia sepenuhnya.


Putri menangis dia merengek kepada Rico meminta Rico mengantar dia melihat Tifani. Rico pun menurut ayah dari Putri itu menggendong anak semata wayangnya mengikuti Tifani menuju ruang persiapan operasi.


Sebenarnya Rico sangat cemas namun dia pria yang pandai menyembunyikan perasaannya. Dia mengusap kepala Putri, ''Sayang kita tunggu disini saja ya,'' ucapnya kepada Putri.


Putri mengangguk, keduanya pun hanya bisa melihat Tifani dari batas kaca ruangan. Tampak wajah Rico sangat kwatir menyadari sang Ayah lagi stres, Putri memberi dukungan.


''Papi nggak boleh sedih nanti tante Tifani ikut sedih,'' ucapnya sembari menatap wajah Rico.


''Terima kasih sayang kita doakan tante semoga operasi tante berjalan dengan lancar.'' jawab Rico sembari mendaratkan satu kecupan di kening Putri.

__ADS_1


''Oke, papi.'' jawab Putri.


"Anak pintar.Terima kasih, sayang." jawab Rico.


__ADS_2