Cinta Dibalas Pengkhianatan

Cinta Dibalas Pengkhianatan
Jadi istri.


__ADS_3

Malam semakin larut terlihat Rose berulang kali menguap. Akhirnya Bruce pun pamit pulang. Setidaknya dia sudah mengenal bunda Rose, wanita humble dan ramah. Bruce yang biasanya tertututp sekarang belajar menyapa dan bisa diajak ngobrol.


"Baik.Saya pamit pulang dulu. Ibu dan Lestari nanti tidur saja di ruang kerja saya dilantai atas. Nanti saya akan suruh security antar Ibu dan Lestari," Pesan Bruce.


"Terima kasih." jawab Rose tersenyum.


"Sama-sama. Tari aku pulang ya," Dia melirik tari.


"Iya hati-hati," sahut Lestari.


"Terima kasih." jawab Bruce.


Lestari melirik Rose," Bunda...Tari antar Bruce sampai depan sebentar," izin Tari.


"Iya nak," sahut Rose.


Karena sudah mendapat izin dari Rose. Akhirnya, Lestari dan Bruce berjalan menuju lift mereka menggunakan lift ke lantai lobby. Lift berhenti keduanya masuk dalam lift.


"Aku pulang dulu.Nanti aku akan suruh dokter segera melakukan operasi. Kamu jangan stres lihat kantung matamu mulai menghitam,," ucap Bruce dia menggandeng tangan Lestari.


"Terima kasih. Masa sih kantung mataku hitam?'' Lestari menatap matanya dipantulan kaca lift, dia mengamati kantung matanya dengan seksama. Benar mulai terlihat hitam, seketika rasa percayanya berkurang.


"Aku sudah bilang jangan ucapkan terima kasih terus. Jika, sekali lagi kamu ucapkan terima kasih. Maka, siap-siap jadi istri aku." Wajahnya serius menatap Lestari.


''Satu lagi, walaupun kantung matamu menghitam kamu tetap cantik dimataku. Aku sekarang bukan mencari wanita yang cantik diwajahnya melainkan aku cari wanita yang cantik hatinya, agar bisa membimbing aku dan mendukung aku melakukan aksi sosial. Cantik wajah itu hanya nilai plus bagiku,'' lanjut Bruce lagi, Dia menangkup kedua sisi wajah Lestari. Ingin rasanya dia menyesap bibir itu tapi dia harus menahan diri lagi. 'Tinggal dua hari lagi sabar,' batin Bruce.


"Ihh.. apa-apaan sih kamu ini. Aku omong apa kamu bahasnya apa," sela Lestari. Pipinya sudah mirip tomat merah segar.


Melihat wajah Lestari begitu Bruce menggigit bibir bawahnya.Rasanya dia ingin menelan itu utuh-utuh jika bisa. Namun, saat Bruce sedang berimaginasi tiba-tiba lift berbunyi.


Ting...


Bruce menarik kasar rambutnya. Lagi-lagi dia harus menahan sakit dikepalanya karena semua tidak dituntaskan. Dia harus segera pulang menuntaskan dikamar mandi atau diclub?


''Ayo,'' Bruce menganguk pada Lestari. Keduanya berjalan keluar dari lift menuju lobby.

__ADS_1


Setelah sampai di lobby. Bruce menerima kunci mobil. Tangannya menekan remote kunci.Pintu mobil mewah itu terbuka dengan sendiri nya.


''Aku pulang ya. Jangan cemas ayah pasti cepat sembuh dan yang terpenting ada hatiku menjaga kamu disini,'' Bruce berkedip lalu segera masuk mobil mewahnya.


Lestari hanya tersenyum. Dia sudah salah tingkah. Bruce melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan Lestari.


Setelah melihat mobil Bruce sudah menjauh. Lestari kembali ke ruang ICU dimana ia ditunggu Rose.


*****


Semenatara, Rico sudah tiba dirumah. Putri yang sudah lama tidak pernah bertemu Rico langsung berlari memeluk kaki Rico.


''Papa...''panggilnya sudah mulai jelas.


Rico langsung mengangkat tubuh kecil itu dan megendong lalu mendekapnya begitu erat. Hidungnya terus mencium pipi kiri-kanan Putri bergantian. Harum dari minyak wangi bayi dan bedak penyegar tubuh Putri membuat Rico betah berlama-lama mencium balita itu melepas kangen yang sudah lama ia tahan. Eindu bermain dan menggoda bayi itu tertawa lepas seperti dulu lagi.


''Sayang, bentar ya papa mandi dulu. Papa habis dari rumah sakit jenguk Opa. Mama malam ini nggak pulang jadi Putri tidurnya sama Papa,'' ujar Rico lalu menempelkan hidungnya diujung kepala Putri.


''Mama? No...'' Balita kecil itu menggeleng lalu membuka kedua tanganya manik matanya birunya menatap lekat wajah Rico.


''Kan ada papa. Malam ini terserah Putri mau main apa saja dengan papa? Papa nggak akan suruh Putri tidur awal,'' jawab Rico.


Putri yang paham segera menepuk tangan gembira. Lalu, Rico menurunkan Putri dari gendongannya.


''Sus...titip Putri dulu. Aku masih mandi sebentar,'' ujar Rico. Kemudian, Ia berlalu masuk kamar. Kamar dia dan Lestari dulu.


Rico meletak'kan tas laptopnya diatas nakas lalu dia mengedar disekeliling ruangan itu. Hatinya seperti ditusuk begitu terasa sakit. Rico menghela napas, lalu ia mengusap kasar wajahnya.


Setelah melepas rindu menatap kamar kenangan itu. Dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu makan dan bermain dengan Putri. Setelah sepuluh menit berada didalam kamar mandi, Rico keluar dengan lilitan handuk dipinggangnya. Semua barangnya masih sama seperti semula waktu dia bersama Lestari tidak berubah. Jadi, Rico tidak pusing mengambil baju gantinya.


Setelah mengenakan baju ia berjalan keluar. Dimana Putri sudah menunggu dengan manis diruang tamu.


''Papa...'' Ia berlari dan memeluk Rico. Ayah satu anak itu langsung menyambut dan menggendong Purti, dia mengajak balita itu bersembunyi sofa lalu Rico mencari Putri sembari menunggu Tati menghidangkan makan malamnya.


''Tati...ternyata tuan baik banget ya. Lihat cara dia menyayangi Putri,''ujar Suster Putri yang membantu Tati menyajikan makan malam untuk Rico. Wajar Suster Putri bilang begitu karena ini pertama kali dia melihat Rico bermain dengan Putri.

__ADS_1


''Tuan itu sebenarnya dulu baik banget. Bahkan, sayang bangat dengan ibu. Tapi, setelah--'' belum juga Tati selesai bicara.


Rico menggendong Putri sudah berdiri ditembok pembatas dapur. Tati dan suster saling sikut, mereka pun diam.


''Sudah selesai? Aku uda lapar banget,'' ujar Rico.


''Sudah, Tuan.'' Tati meletak'kan pisau dan garpu diatas piring.


''Putri sini main dengan Nany dan Tati. Biar papa makan dulu,'' ucap susternya.


''No..'' Putri menggeleng. Dia menolak ajakan Susternya dengan memeluk erat leher Rico.


''Nggak apa-apa biar Putri temani aku makan,'' ucap Rico.


Karena Rico juga mau Putri menemani dia makan. Tati dan Suster segera ke belakang menunggu kapan-kapan dipanggil Rico.


''Nah, Putri duduk disini ya. Papa makan dulu, Putri mau makan juga?'' tanya Rico seraya mendudukkan Putri dikursi khusus anak. Putri terus menepuk tangan dia mengabaikan pertanyaan Rico.


Rico juga segera makan. Karena, perutnya yang sudah meronta, Dia dari siang tidak makan setelah terjadi perang di ruang kerjanya. Lalu, Rico langsung ke rumah sakit menjenguk Filipo.


****


Di Apartemen, Tifani terus menelpon Rico. Namun, sama sekali tidak ada jawaban hampir ratusan kali telpon biasa maupun videocall. Jika, panggilan saja sudah diabaikan maka chat pasti hanya diread lalu didiamkan.


Rico mungkin masih kecewa dengan Tifani. Jadi, dia tidak ingin nama itu menggangu waktunya dengan Putri tercintanya.


''Lu benar-benar nggak datang malam ini...'' teriak Tifani dia menjatuhkan semua make upnya dimeja rias itu.


Bunyi jatuhan make dan parfum dilantai dan yang kaca langsung pecah. Tifani tidak peduli dia berjalan lagi kearah ranjang meraih ponselnya lalu menelpon Bruce. Berharap pria itu menerima panggilannya dan dia akan mengomel Bruce habis-habisan tapi sayang itu hanya hayalan Tifani saja. Bruce hanya melirik lalu menolak panggilan Tifani.


Tifani menangis dengan menangkup kedua kakinya diatas tempat tidur. Dia takut ancaman Rico benar terjadi, tidak pulang dan mereka bubar. Bahkan itu bukan harapan Tifani. Dia sudah kehilangan segalanya demi Rico lalu dia tidak mendapatkan Rico. Itu tidak bisa dibiarkan begitu saja. Tifani harus mendapatkan Rico kembali.


"Jangan bilang aku akan membiarkan kau. Karena kau, aku kehilangan semua yang dikasih Bruce dan juga Bruce sendiri. Lalu, sekarang seenaknya kau pergi begitu saja.Lihat aku akan merebut kembali hatimu." Dia menyembunyikan wajahnya dikedua lutut. Malam ini Tifani tidak ingin tidur dia tidak mau malam ini berlalu tanpa Rico disampingnya.


♥️♥️♥️

__ADS_1


Salah sendiri ya siapa suruh jadi pelakor iya kan readers tersayang😘


__ADS_2