
"Baiklah. I see." sahut Bruce. Jika waktu bisa diputar, Bruce juga ingin memiliki orang tua yang lengkap, Bruce juga ingin berada di samping kedua orang tuanya mengurus serta merawat jika mereka sakit atau sudah tua nanti. Tapi, Bruce tidak tau siapa kedua orang tuanya. Bruce hanya anak panti menurut ibu pimpinan panti cerita dia ditemukan didepan pintu gerbang panti dalam keadaan menangis waktu itu dia masih berusia satu bulan. Dia hidup sebatang kara, di usia Bruce delapan tahun, panti asuhan tempat dia dibesarkan tiba-tiba terbakar, dia pun berlari keluar untuk menyelamatkan dirinya dari kobaran api, meninggalkan teman-temannya. Bahkan, sampai saat ini Bruce tidak tau kemana dan dimana teman-teman pantinya dan pemimpin Pantia asuhan itu. Bruce sama sekali tidak menemukan jejak mereka lagi. Dami bertahan hidup Bruce tinggal dijalanan selama delapan tahun lamanya, jika hujan ia berteduh di emperan toko itu pun jika pemilik toko baik dan tidak meminta dia pergi. Jika musim panas Bruce memiliki tempat tinggal di bawah jembatan sebuah gubuk kecil terbuat dari karton bekas dimana, kapan saja bisa ditiup angin. Bruce di paksa mengamen meminta uang lalu uang yang ia dapat di rebut oleh ketua pengamen. Bruce hanya diberi satu dolar itu pun jika ketua pengamen itu salah makan jadi otaknya benar. Beruntungnya soal makanan dia tidak kelaparan karena ada seorang ibu penjual kudapan selalu memberi dia makan, pagi, siang, dan malam.
Namun, naas itu datang suatu malam, Bruce baru pulang dari mengamen, Bruce melihat wanita tua itu di pukul hingga tak bernyawa oleh seorang preman jalanan. Bruce ingin menolong namun waktu itu dia masih berusia dua belas tahun, belum cukup kuat melawan pria berbadan kekar itu. Bruce hanya bisa menangis dari kejauhan seraya mengepal.
Oleh karena itu, setiap malam Bruce melatih fisiknya, dia pun semakin tumbuh dewasa dan lama-kelamaan menjadi ketua preman. Ia dijebak menjadi kurir obat terlarang, lalu Bruce memutuskan untuk berjalan di atas kaki sendiri, upah yang ia dapat dari menjadi kurir obat terlarang, Bruce mencoba kelola dengan baik hingga ia terjerumus dalam dunia hitam sampai saat ini. Bruce menjadi sukses. Karena itu, Bruce menjadi salah satu donatur utama di setiap yayasan kanker, ginjal dan panti asuhan. Bruce tidak kalah dari Alfonso bos mafia yang terkenal sosial tinggi untuk masyarakat ekonomi lemah di Spanyol. Bruce juga terkenal dengan orang bersosial tinggi. Semua itu dia lakukan karena dia tau bagaimana berjuang melawan kerasnya hidup apalagi hidup sebagai anak jalanan.
"Bruce," Lestari memanggil Bruce.
"Hmmm..." Bruce hanya berdehem.
"Kamu kenapa? Apa tadi ucapan ku menyakiti hatimu?" tanya Lestari hati-hati
"Nggak. Aku merenungkan semua ucapan kamu itu. Aku membenarkan itu semua." Dia mengusap kasar wajahnya.
"Maafkan aku ya. Aku tidak berniat menyinggung perasaan kamu. Aku bicara apa adanya, karena kebanyakan anak jaman sekarang seperti itu, termasuk aku sendiri terkadang masih seperti ucapan ku tadi," sesal Lestari.
"Ahh..lupakan itu." sela Bruce. Jika bahas orang tua Bruce merasa sesak di dada. Selama ini ia juga tidak tinggal diam. Dia sudah mencari keberadaan orang tuanya ke mana-mana namun hasilnya nihil. Jika dia menemukan kedua orang tuanya Bruce ingin tau alasan dari mereka, mengapa dia dibuang? Apakah dia anak pembawa sial? Namun, mengapa setiap kotbah para Romo di gereja, mereka selalu mengatakan anak itu anugerah terindah?
Lestari tersenyum.Dia tidak ingin bertanya lagi dimana orang tua Bruce. Bagi Lestari itu Privasi karena selama ia mengenal Bruce, mafia itu tidak pernah menceritakan keluarganya .Bruce hanya menceritakan anak buah dan orang kepercayaannya saja.
__ADS_1
Ting...
Lift sampai di lobby pintu lift pun terbuka.
"Silakan." Bruce memberi jalan untuk Lestari keluar lebih dulu barulah dia mengikuti dari belakang.
Mereka pun bergegas ke depan lobby area parkir VVIP depan hotel. Bisa disebut juga itu parkiran khusus mobil Bruce.
"Selamat pagi, Tuan," sapa security.
"Hmmm..." Bruce menepuk bahu Securitynya.
Bruce menekan remote mobil lalu pintu mobil berwarna putih itu terbuka dengan sendirinya.
"Silakan masuk." Bruce menahan pintu mobil, dia mempersilakan Lestari masuk dan duduk di kursi depan samping kursi pengemudi.
"Terima kasih." Lestari mulai masuk dan duduk.
Bruce kembali menutup pintu mobil. Lalu, Bruce pun bergegas berjalan ke pintu bagian kiri, Bruce segera masuk lalu ia pun duduk di kursi kemudi.
__ADS_1
"Pasang sealtbealtnya dengan benar." ucap Bruce seraya memang sabuk pengamannya.
"Bukannya rumah sakit dekat disini? Lalu, mengapa harus mengenakan sabuk pengaman?" protes Lestari.
"Sebagai warga yang baik, kita harus taat aturan yang buat oleh pemerintah," jelas Bruce.
"Ya, ya!" Lestari memutar mata malasnya. Dia menyerah. Lestari segera memasang sabuk pengaman dengan baik dan benar.
Bruce tersenyum, dia pun menginjak pedal gas mobil melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam perjalanan Lestari memilih menelepon Tati.
Setelah menelpon Tati. Lestari menatap Bruce.
"Menurut info dari Asisten rumah tangga ku. Rico sudah berangkat dari rumah ku. Kemungkinan besar dia akan mampir di rumah sakit. Aku berharap, aku sudah berada di rumah sakit sebelum Rico datang. Karena, akan memalukan sekali jika aku terlambat datang, dia pasti akan berpikir aku wanita yang tidak benar." ujar Lestari.
Bruce hanya tersenyum dia menambah kecepatan mobil. Tidak membutuh waktu lama mobil putih itu sudah berada di depan rumah sakit.
"Sudah sampai, silakan turun." Bruce menaikkan satu alisnya.
Lestari bergegas turun dari mobil, dia menunggu Bruce di depan IGD. Bruce pun datang mereka berdua segera masuk lift menuju ICU.
__ADS_1