
Lalu pesanan Naila dan Brian pun datang setelah mereka menunggu..
Naila dengan mata berbinar, saat melihat makanan yang mereka pesan sudah datang. Naila melihat nasi putih dan menu ikan gurame nya yang masih keluar asap yang sedikit mengepul . Begitupun juga nasi goreng milik Brian, begitu menggugah selera.
"Nah karena makanan kalian sudah datang. Sekarang silahkan kalian menikmati makanannya, aku akan kedalam melanjutkan pekerjaan ku.. kalau ada yang ingin di pesankan lagi, bilang saja ya.?"
"Raka." Panggil Naila,Brian dan Raka pun menoleh ke arah Naila.
"Iya Nai, Kenapa.? Apa ada lagi yang ingin kamu pesan.?" Brian masih mengamati Naila.
"Di sini ada es krim gak ya.?"
Raka tersenyum." Kamu ingin es krim.?" Naila mengangguk. "Ada ko tenang saja, kamu mau yang mana. Ada di buku menu ko Nai.?"
"Ow ya, aku lihat ya sebentar. Eeemmmm......" Naila melihat lihat menu es krim nya." Ini saja deh, aku pesan yang ini ya Raka..?"
"Ok, nanti pegawai ku yang akan mengantarkan pesanannya. Kamu tunggu saja ya .?" Naila mengangguk." Ok aku ke dalam dulu ya .?
"Oke, terima kasih Raka". Kata Naila dengan senyum manisnya. Raka pun membalas senyumannya Naila, dan Brian melihat ke arah Raka lalu melototi nya. Raka justru tersenyum mendapatkan tatapan tajam dari Brian
"Sama sama Naila." Raka melihat ke arah Brian. " Apa liat liat, cemburu". Kata Raka dengan tersenyum meledek..
Brian justru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Naila dan Raka justru tersenyum.
"Yasudah aku ke dalam dulu ya, dari pada melihat pria yang pencemburu ini.." Raka terkekeh. Lalu meninggalkan Naila dan Raka .
Brian menatap Naila tanpa mengedipkan matanya. Naila tau kalau suaminya kini sedang menatap dirinya, namun Naila pura pura tidak tau,kalau dirinya di perhatikan oleh suaminya.
Naila menikmati makanannya, sengaja Naila mengalihkan pandangannya dari Brian. Yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Nai, kamu kenapa si harus senyum senyum seperti itu ke Raka.?"
"Memangnya kenapa si mas. Terus aku harus bagaimana, aku harus cemberut gitu ke Raka maksud kamu. Eeemmm...." Naila memberikan contoh, dengan mengembung kan pipinya dan bibirnya." Kaya gitu, maksud kamu... Lagian Raka itu teman kecil kita loh, Masa aku harus jutek sama dia."
"Tapi tetap aja kamu jangan senyum senyum ke dia Nai.. Aku gak suka, senyuman kamu itu terlalu manis jika untuk pria, apalagi ke Raka.."
__ADS_1
"Ya ampun mas, sama senyum aja pelit banget si. Senyum itu ibadah dan sedekah mas, gak boleh pelit pelit. Lagian kalau kata lagu dangdut mba Ike Nurjanah nih ya, liriknya seperti ini mas. Senyum lah untuk semua orang, tapi hati mu jangan... Nah aku tersenyum, tapi hati aku untuk kamu seorang mas..." kata Naila dengan tersenyum.
Brian pun tersenyum mendengarnya, karena yang di katakan Naila benar adanya.
"Yasudah lanjutkan makanannya, jangan banyak ngobrol.." suruh Brian , dan Brian pun melanjutkan makannya tanpa merasa bersalah dengan apa yang dia katakan.
Dasar kamu tuh, sisi nyebelin nya gak berubah.. ( Naila)
Naila pun akhirnya melanjutkan makannya kembali. Sedangkan pada Brian terdapat senyuman kecil di bibirnya.
Kini Naila dan Brian sedang menikmati makanannya yang sudah mereka pesan. Naila makan begitu lahap dengan menu pilihannya. Sedangkan Brian memakan nasi goreng seafood nya .
"Sayang aku ke toilet dulu ya sebentar.?"
"Iya mas."
Brian pun selesai menghabiskan makanannya, langsung pergi ke toilet. Sedangkan Naila kini sedang asyik menikmati es krim yang di pesan tadi.
"Enak banget es krimnya. Mungkin aku lagi kepingin makan ini kali ya, mangkanya nikmat banget makan nya..."
Namun saat sedang asyik makan, tiba tiba ada suara yang memanggil Naila.. kini di hadapan Naila ada seorang wanita yang melipat kedua tangannya di depan Naila. Sambil menatap Naila tak suka, dan senyuman sinis.
"Widiiihh.... Enaknya sekarang ya hidup kamu Nai. Bahagia banget sekarang hidup kamu ya.?"
Naila melihat wanita tersebut ternyata Jenny yang ada di hadapannya.
"Jenny, kamu di sini. Apa maksudmu bicara seperti itu.?"
Jenny tersenyum sinis ke arah Naila.
"Ya sekarang kamu di sini enak enakan. Sedangkan keluarga ku menderita karena kamu. Dasar manusia tak tahu diri, bangga banget si bahagia di atas penderitaan orang.." kata Jenny dengan suara kencangnya, sampai semua orang melihat ke arahnya.
"Cukup, kamu bisa kecilkan gak suara kamu itu.. Dan siapa yang kamu maksud bahagia di atas penderitaan orang lain.?"
"Pakai nanya lagi, jelas keluarga ku yang kini menderita karena kamu. Salah satunya ibu ku, karena suami kamu, ibu ku di masukkan kedalam sel. Kamu tau ibu ku di sana sakit sakitan, dan ayahku orang yang selalu melindungi kamu. Sekarang ayah ku sedang sakit, kamu tau ayahku memikirkan ibuku yang di sana. Sekarang kamu bahagia, enak enakan di sini. Dasar tak tau diri, tidak tau terimakasih kasih." Ucap Jenny yang menghina Naila, dan Naila pun mendapatkan tatapan sinis dari pengunjung restauran itu.
__ADS_1
"Aku tidak seperti itu, aku tidak bahagia di atas penderitaan orang. Aku juga memikirkan bibi di sana dan paman juga." Naila sudah tak tahan menahan air matanya, dan kini berhasil lolos di pelupuk matanya." Bagaimana pun paman sudah ku anggap seperti ayahku."
" Alah alasan... Kamu memang gadis yang tak tau diri. Sudah numpang tinggal di rumah bertahun tahun, ternyata ini balasannya ke keluarga ku. Saudara macam apa kamu, kamu yang menyebabkan hancurnya keluarga ku, sejak adanya kamu. Semuanya itu penyebabnya kamu..." Jenny mendorong Naila, dan Naila hendak terjatuh.
Aaaaaa..... Haaapp, ternyata ada tangan kekar yang memegangi Naila. Saat Naila melihat ternyata Raka yang menolong nya.
Untung saja ada Raka yang datang dan langsung menolong Naila, kalau tidak Naila pasti akan terjatuh terkena kursi dan meja di belakang Naila.
"Nai, kamu tidak apa apa.?" Naila mengangguk. Lalu Raka menatap Jenny dengan tatapan membunuh. "Apa apaan ini. Kenapa kmu mendorong Naila, siapa kamu hah...?"Bentak Raka.
"Wah hebat kamu ya Nai, selama ini banyak yang melindungi kamu ya.?" Ucap Jenny dengan sinis.
"Siapa dia Nai, kenapa dia berbuat kasar sama kamu..?"
"Dia sepupu aku Raka. Dia anak paman Tommy, kakaknya ayah aku." Jelas Naila.
" Sudah Raka jangan di perpanjang lagi.."
"Oooww.... Jadi dia anak dari nenek sihir itu, yang selalu memperlakukan kamu dengan kasar. Memang sepertinya kamu harus di masukkan dan di satukan dengan ibu kamu ya. Bisa bisanya kamu ingin mencelakai Naila.." Raka sudah mencengkeram tangan Jenny dengan kencang, Sampai Jenny kesakitan .
Brian yang melihat dari kejauhan, ada keramaian di mejanya. Dan ada Raka juga yang sedang ribut dengan perempuan. Brian segera berjalan menghampiri Naila.
Brian melihat Raka yang begitu marah,lalu Brian melihat istrinya yang menangis.
"Sayang kamu kenapa.?" Naila mendekap Brian sangat erat.
"Raka ada apa ini.?" Brian melihat gadis yang di cengkram oleh Raka, Brian seperti mengenal nya." Kamu, bukannya kamu sepupunya Naila.?"
"Kamu dari mana Brian.?" Bentak Raka dengan marah." Kenapa kamu ninggalin istri kamu sendirian. Gadis ini hampir saja mencelakai istri kamu."
Brain yang mendengarnya langsung marah, dan langsung melepaskan pelukannya Naila. Brian langsung menghampiri Jenny, dan menatap dengan tatapan marah.
Brian menarik tangan Jenny, lalu membawanya ke parkiran karena Brian tidak mau jadi bahan tontonan. Naila mengikuti Brian kemana Brian membawa Jenny.
Bersambung...
__ADS_1