
"Sini sayang samping bunda." Suruh bunda Rossa dan Naila menurut.
" Loh ini apa sayang, kamu bawa apa nak.?"
"Ini kue untuk bunda dan semuanya. Dan ini buatan aku sendiri, semoga kalian suka dengan kue nya.?"
"Ya ampun sayang kenapa jadi repot repot si Nai.? Jadi ini kue buatan kamu, baik bunda terima pasti Bunda yakin ini pasti sangat enak." Bunda Rossa mengambil bingkisan yang Naila berikan.
"Iya bunda tadi aku sudah bilang tidak usah repot-repot. Tapi dia kekeh ingin bawa kata nya agar kalian semua mencicipi kue yang dia buat. Kan Naila bekerja di toko kue dekat pertigaan kampus sana Bun."
"Ow ya, jadi sekarang kamu kerja di sana. Itu kan langganan kue bunda loh Nai, kalau bunda ada acara bunda suka pesan di sana loh."
"Ow ya bun.?"
"Iya sayang. Kamu sudah berapa lama di sana .?"
"Aku baru dua bulan di sana Bun".
" Berarti kamu baru ya nak. Yasudah kalau begitu bunda tata kue ini di piring ya nak.?" Naila mengangguk.
Bunda Rossa berjalan menuju dapur, lalu bunda berjalan menaiki anak tangganya untuk memanggil putri nya.
Saat sampai di depan kamar Debby bunda membuka pintu, di sana Debby sedang melihat foto masa kecilnya saat bersama Naila.
"Debby, kamu merindukan Naila nak.?"
"Bunda, ko bunda di kamar ku, aku tidak tau ya.? Iya Bun aku kangen dengan Naila." Debby kembali menatap foto tersebut
Bunda tersenyum melihatnya.
" Kamu tidak keluar nak, kumpul dengan ayah dan kedua saudara kamu.? Di sana ada tamu loh, mungkin kamu akan sangat bahagia jika melihat orang itu.?"
"Siapa bun tamunya.? Pasti kekasih barunya ka Brian kan, dia memperkenalkan pacar barunya.Aku di sini saja lah Bun, aku males keluar.?"
"Jika kamu tidak keluar kamu tidak akan tau siapa tamu nya itu. Dan bunda yakin kamu akan sangat sangat bahagia jika kamu tau siapa tamu nya."
"Bunda memang siapa sih tamu nya.? Dan kenapa aku harus merasa bahagia saat tau tamunya.?"
"Tamu nya itu adalah Naila Aprilia, saudara kembar kamu sudah di depan menemaninya".
__ADS_1
Mendengar nama Naila, wajah Debby berbinar. Senyum nya pun mengembang sempurna. Debby pun berdiri, memegangi tangan bunda Rossa.
"Serius bunda Naila datang kesini.?" Sambil menggoyangkan tangan bunda.
"Iya nak, kakak kamu yang membawa nya ke sini."
"Naila, bunda kalau begitu aku menemui nya dulu ya. Trimakasih bunda sayang, mmmuuuaaaaccchhh...." Debby mengecup pipi bunda Rossa.
Dan setelah itu Debby berlari meninggalkan kamarnya, yang di mana bunda Rossa masih di sana. Bunda tersenyum melihat Debby yang begitu bahagia.
Tap tap tap tap... Suara langkah kaki Debby saat berjalan dengan cepat. Senyum indah pun terukir di bibirnya, saat mendengar teman masa kecilnya datang.
Hoosh hoossh hooosssh.... Suara nafas Debby terengah-engah. Karena sejak mendengar itu Debby berlari, apalagi saat menuruni anak tangganya. Debby melangkah sangat cepat.
Naila berdiri saat melihat Debby yang kini sudah berada di hadapannya. Naila berjalan mendekat ke arah Debby yang kini sedang menatap nya. Dengan senyuman di bibir mereka keduanya, dan dengan mata mereka yang sudah mulai mengembun.
"Debby...?"
"Naila, ini kamu Naila Aprilia..?" Naila pun mengangguk.." Naaaaiiilllaa..." Akhirnya mereka berdua saling berpel.. ukan dan melepaskan rindu." Aku kangen kamu Naila, kangen banget. Uuuuuhhh.. Hiks hikss.. hiks .."
"Sama Debby, apalagi aku sangat merindukan kalian semuanya. Semenjak kalian pergi, aku kesepian. Aku tidak menjadi Naila yang ceria, yang ada hanya Naila yang kesepian." Ucap Naila membuat semuanya diam dan merasa sedih mendengarnya.
"Sekarang kamu tidak akan kesepian lagi nak. Jangan khawatir ada kami di sini, jadi jangan merasa kesepian lagi ya.?" Timpal bunda Rossa yang kini berada di samping Naila.
Brian mengambil piring kue yang ada di tangan bunda Rossa, dan di letakan di atas . Setelah itu bunda Rossa merangkul pundak Naila, dan pundak Debby.
" Sekarang kamu sudah kumpul di sini, jadi jangan merasa kesepian ya.Sekarang putri bunda kembali lagi, bunda sangat bahagia saat ini." Dan akhirnya Debby Naila dan Bunda Rossa mereka saling berpelu..kan
Brian, Denis, dan pak Haris tersenyum melihat 3 wanita di hadapan mereka.
Selama di kediaman rumah bunda Rossa, mereka semua saling bercerita. Bunda tidak ingin bertanya tentang hidupnya tinggal bersama bibi nya. Karena bunda tidak ingin melihat Naila menangis saat mengingat kejahatan bibinya.
"Kamu di kontrakan tinggal sendiri atau sama teman Nai.?"
"Sama teman Bun, tapi Nai sudah menganggap dia lebih dari kata teman. Dia sudah ku anggap seperti kakak ku, karena dia begitu perhatian dengan ku."
"Ow begitu, nanti kenalkan bunda dengan temanmu itu ya. Siapa namanya nak.?"
"Namanya Devi Bun, iya nanti Nai kenalkan dengan temanku itu Bun."
__ADS_1
"Ya sudah, nanti pulang kamu bawa makanan ya. Bunda tadi masak banyak, kamu bawa pulang ya sayang. Biar kamu dan teman kamu bisa nyobain masakan di kontrakan."
"Tidak usah Bun, Naila jadi ngerepotin bunda. Biar makanan nya buat yang lain aja , Naila mah gampang bunda."
"Masih banyak ko sayang, bisa kalau buat kita makan lagi. Kamu bawa ya, bunda merasa bahagia jika kamu menerimanya".
"Iya bunda Naila mau, tapi sebelum Naila trimakasih ya Bun. Naila merasa jadi gak enak".
"Kasih kucing Naila kalau gak enak." Celetuk Denis.
Dan itu membuat semua menjadi terkekeh .
Tepat sore hari, Naila pamitan untuk pulang. Karena Naila sudah seharian main di rumah bunda Rossa.
"Padahal bunda masih ingin sama kamu loh Naila. Nanti kamu main lagi ya sayang, bunda masih kangen sama kamu loh.?" Ucap bunda Rossa memegangi kedua tangan Naila.
"Ya Nai,kita masih kangen sama kamu. Kamu sudah pulang aja, harusnya kamu nginep saja di sini. Kan semalaman kita bisa cerita tentang masa kecil kita.?" Timpal Debby membuat Naila tersenyum.
"Ya nanti aku main lagi, kan sekarang aku tinggal di kota ini. Kamu tinggal chat aku saja Debby."
"Aaah iya nanti kita chatingan ya.?" Naila mengangguk .
"Brian kamu jadi kan antar Naila pulang.?"
"Jadi dong Bun, udah siap kan Nai.? Yuk aku antar." Naila pun mengangguk kan kepalanya.
Setelah Naila pamitan dengan semua nya Naila dan Brian masuk kedalam mobil. Dan meninggalkan kediaman rumah bunda Rossa.
Naila dan Brian selama di perjalanan asik bercerita, sampai keduanya tertawa. Ya mereka menceritakan tentang masa kecil merek, dan kadang Naila menceritakan jahil Brian sering membuat Naila menangis. Sampai sampai Brian sering terkena Omelan dari bunda dan ayahnya, karena sering marah dan jahil ke Naila.
Dan bukan hanya itu Brian juga menceritakan bertapa genit nya Naila saat kecil.
" Kamu ingat gak Nai, saat aku kena Omelan bunda karena menolak ajakan kalian.?"
"Iya, kakak sering kena marahan bunda karena bunda selalu membela aku ya."
"Iya padahal aku anak nya bunda, kenapa aku yang di marahin bunda karena kamu.?"
Dan akhirnya mereka berdua pun tertawa.
__ADS_1
bersambung...