
"Mau ngapain, belum puas kemarin bikin Naila takut dan marah. Dan kalian jangan ada yang beri tau alamat Naila ke dia, awas kalian kalau sampai kasih alamat Naila." Dengan tatapan marah Devi mengancam Bagas dan Rere.
"Tunggu tunggu, sebenarnya kalian itu kenapa. Kalau kalian ada masalah tolong selesai kan di luar. Emiil aku kenal kamu, tolong jelasin kenapa ini di antara kalian.?" Kata Bagas merasa bingung melihat wajah Devi sangat marah.
"Nanti saja Gas, aku ceritakan ke kamu. Dev, kebetulan bertemu sama kamu di sini, aku ingin penjelasan dari kamu, sebagai teman baik Naila."
"Baik akan aku ceritakan ke kamu. Tapi aku minta setelah aku menceritakan tentang Naila, aku minta kamu jauhin Naila. Aku tidak mau Naila bersedih kembali dengan kedatangan kamu di sini.. Cukup kamu menyakiti nya saat itu, jangan kamu sakiti dia lagi." Kata Devi dengan serius dari raut wajahnya.
Emiil pun mengangguk, Emiil sebenarnya tidak ingin menjauh dari Naila. Namun Emiil mau bagaimana lagi,Emiil saat ini merasa sedih saat tau kalau Naila sudah menikah.
30 menit kemudian Emiil dan Devi keluar ke suatu tempat. Emiil rela menunggu Devi di toko nya hanya demi mendengar cerita Naila.
Kini Devi dan Emiil berada di sebuah kedai kopi, di mana Emiil dan Devi kini sedang menikmati secangkir kopi. Ya Devi memang menyukai kopi, Mangkanya Emiil mengajak Devi untuk minum kopi.
"Dev, jadi benar Naila sudah menikah dengan pria bernama Brian itu.?" Tanya Emiil dengan serius.
"Kamu kenal namanya Brian.?" Emiil mengangguk."Jadi kalian pernah bertemu.?"
"Ya aku pernah bertemu dengan Naila, yang kebetulan saat itu Naila bersama pria itu. Dan Saat itu Naila bilang dia akan menikah beberapa bulan lagi. Tapi belum juga sampai dua bulan bertemu, ternyata dia sudah menikah."Emiil mengusap wajahnya dengan tangannya merasa gusar.
"Tau seperti ini, dulu aku lebih baik mempertahankan hubungan ku dengan Naila."
Devi mendengar nya tersenyum sinis.
" Kamu menyesal Emiil, sudah mengakhiri hubungan dengan Naila. Menyesal hanya datang di akhir Emiil, mangkya sebelum mengatakan sesuatu harus di pikir terlebih dahulu. Kini Kamu menyesal sudah sudah menyianyiakan gadis seperti Naila, hanya karena ego kamu. Kamu tau, waktu bersama kamu, Naila begitu mencintai kamu. Baginya kamu itu pria baik, dan tempat yang nyaman, dan berharap kamu adalah pria yang akan mempersunting dia. Sekaligus membawanya keluar dari rumah bibinya yang seperti nenek sihir itu. Nyatanya kamu sendiri yang minta mengakhiri nya di saat Naila ingin mempertahankan hubungan nya bersama kamu." Devi menatap Emiil,seraya tersenyum .
__ADS_1
" Sekarang kamu ingin meminta maaf dan mengajaknya kembali bersama kamu,di saat Naila sudah menemukan kebahagiaannya."
"Apa kamu yakin kalau pria itu baik dan sayang dengan Naila. Apa kamu yakin Naila akan bahagia dengan pria itu.?"
"Apa maksudmu Emiil, dia itu pria baik. Bukan hanya dia saja, seluruh keluarga pria itu sangat menyayangi Naila. Emiil Kamu tidak tau penderitaan Naila selama ini. Semenjak kamu meminta untuk mengakhiri hubungan kalian, kamu tau apa yang terjadi pada Naila saat pulang dari rumah kamu.?"
" Maksud kamu apa. Apa yang sudah terjadi kepada Naila saat itu.?"
" Kamu tidak tau kan, sepulang dari rumah kamu, dengan rasa sakitnya. Naila selalu terkena masalah yang bertubi-tubi. Apalagi apa yang sudah di lakukan nenek sihir itu,yang membuat Naila harus keluar dari rumah itu.?"
Devi menceritakan semuanya yang Naila alami sejak pulang dari rumah Emiil hari itu. Sampai Naila akan di lamar dengan pria bernama Sandi, dan akan menikahi Naila untuk menjadi istri ke 3 nya.
Emiil yang mendengarnya sangat terkejut, tangannya terkepal karena merasa kesal saat mendengar nya. Apalagi mendengar Naila di lamar dengan pria dan di jadikan istri ke 3 nya. Bukan hanya itu, Emiil sangat kesal saat mendengar kalau kakaknya si Fandi juga menyukainya juga. Bahkan sampai berbuat nekad ke Naila.
tapi maaf aku juga tidak bisa melihat Naila bersedih lagi. "
"Aku tidak tau Sampai seperti ini Devi, aku menyesal. Seharusnya aku pertahankan Naila saat itu, mungkin Naila saat ini sudah menjadi milikku. Aku menyesal sudah melepaskan gadis baik seperti Naila, kini dia sudah menjadi milik orang lain. Rasanya ini tidak adil Dev." Wajah Emil penuh dengan penyesalan.
" Seandainya waktu bisa berputar kembali, tak kan ku biarkan Naila menjadi milik orang lain. Aku menyesal Dev, aku bisa kembali bisa jalan seperti ini untuk dia Dev. Pasca dia pergi dari rumah, aku bertekad untuk sembuh. Demi untuk bisa mencarinya dan menikahinya. Tapi nyatanya kini dia sudah ada yang miliki bahkan dia sudah ada yang melindungi.Aku harus bagaimana Dev, aku seperti belum rela melepaskan Naila. Satu sisi aku bahagia mendengar kalau pria itu pria baik, dan bukan hanya itu keluarga nya pun sangat menyayangi Naila. Namun hati ini tidak bisa bohong Devi, nama Naila masih di hati ku."
"Jangan menyerah Emiil, Biarkan Naila bahagia. Kelak kamu juga akan menemukan kebahagiaan dan dapat mencari pengganti Naila. Naila saat ini sudah bahagia." Devi menepuk punggung tangan Naila." Jadi begini Emiil Saputra, yang aku kenal play boy. Bisa Patah hati juga karena seorang Naila karena ke bucinan Emiil." Devi mencoba menghibur Emiil.
Emiil terkekeh mendengar Devi meledek nya."Play boy ku hilang saat mengenal Naila Dev. Kenangan aku dan dia begitu manis,dan amat sulit untuk di lupakan. Naila gadis manis, baik, dewasa, kadang sedikit manja. Itu yang membuatku jatuh cinta, dan kadang gemas dengan sikap nya itu. Jarang aku menemukan gadis seperti dia, ibu ku saja baru pertama melihatnya saja sudah suka dengan Naila. Bagiku Naila istimewa Dev, dia beda dari Gadis sebelumnya. "
Emiil melirik Devi, ekspresi Devi begitu amat menyeramkan. Ya Devi sedikit tidak suka dengan ucapan Emiil. Bukan apa-apa Devi hanya khawatir dengan ucapan Emiil untuk Naila itu. Devi hanya takut Emiil berbuat nekad ke Naila.
__ADS_1
"Tenang saja Dev, aku bukan pria yang merebut kebahagiaan orang lain. Tapi jika Naila lepas dari dia ya aku ambil, gak akan aku biarkan dia lepas lagi Dev." Ada penekanan di akhir kalimat nya. Walaupun ada senyuman di bibirnya.
" Untuk saat ini aku senang mendengar dia bahagia. Aku akan berusaha mengikhlaskan Naila dengan pria bernama Brian itu. "
"Kamu pegang ucapan kamu Miil, jangan ganggu kebahagiaan Naila. Kamu ikhlaskan saja Naila, cari wanita yang kamu cintai, dan mencintai kamu." Devi berkata dengan sungguh-sungguh.
"Tenang saja Dev, jangan takut. Tapi kalau berharap Naila kembali kepada Ku boleh kan..?" Emiil tersenyum
" Sama aja oncom, sama aja kamu mendoakan rumah tangganya gak baik." Celetuk Devi dengan sedikit sewot.
Dan akhirnya Devi dan Emiil tertawa. Sedikit Emiil melupakan masalah tentang Naila. Emiil mulai sedikit menerima tentang Naila, walaupun Emiil tau itu berat.
Emiil akan berusaha melupakan Naila, secara perlahan. Walaupun Emiil tau akan sulit, tapi Emiil akan berusaha melepaskan Naila dengan ikhlas. Emiil ingin melihat kebahagian untuk Naila, dan tidak ingin melihat Naila sedih.
Tanpa Devi sadari sejak dari tadi Denis melihat keakraban Devi dan Emiil. Denis duduk tidak jauh dari mereka, dan ada rasa panas yang kini menjalar ke hati Denis. Tangan Denis terkepal melihat Devi tertawa dengan pria yang tak lain Emiil. Ya Denis tidak mengenal Emiil, jadi Denis berpikir yang tidak tidak tentang Devi dan Emiil.
"Sayang." Panggil Denis di belakang Emiil.
Devi terkejut saat yang dia lihat ternyata Denis. Ya Denis berjalan menghampiri Devi dan Emiil.
"Denis kamu di sini.?"
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa kamu di sini. Sedang apa, dan ini siapa.?" Sambil menunjuk ke arah Emiil yang kini juga menatap Denis.
Bersambung.....
__ADS_1