
" Sudah sudah kamu tidur saja nak, kalau kepala kamu pusing." Bunda melarangnya untuk bangun, dan menyuruh Devi untuk istirahat.
Bunda pun berjalan menghampiri Devi, lalu duduk di pinggir tempat tidur di samping Devi berbaring.. Bunda menyentuh kening Devi.
"Kamu sakit Dev.?"
"Iya Bun, kepala Devi pusing. Dan tubuh Devi juga seperti sedikit meriang..."
"Mau ke dokter . Ayo bunda antar, wajah kamu pucat loh sayang.?"
"Tidak perlu Bun, Devi hanya butuh istirahat. Nanti aku coba minum obat parasetamol juga sudah enakkan.."
"Jangan sayang, jangan kamu minum obat sembarangan.?" Devi mengerenyitkan matanya, tidak mengerti apa yang di maksud ibu mertuanya.
Tok tok tok..... Terdengar ketukan pintu dari luar.. Dan pintu pun terbuka, terlihat Naila sedang memberikan senyuman kepada Devi..
"Kamu kenapa Dev.?"
"Agak kurang sehat Nai. Naila maaf ya aku tidak bisa membantu menjaga Briana. Aku tidak mau anak kamu tertular aku."
Naila tersenyum." Gak apa-apa, santai aja Dev. Kamu istirahat aja.." Devi mengangguk." Ow iya Dev, kamu nitip Bilung ya sama Denis. Soalnya dia nanya dan aku juga nitip tadi, aku suruh beli bilung yang di dekat kampus. Bilung nya bang Diki. "
"Ow iya Nai, tadi aku minta beliin Denis bilung.. "
"Sejak kapan kamu suka Bilung, bukannya kamu tidak suka bilung.?"
"Gak tau nih Nai, kayaknya aku bayangin makan bilung seperti nya enak. Soalnya tadi aku lagi liat foto kita di toko. Terus kamu lagi makan bilung itu, dan aku jadi kepingin aja. Soalnya kalian ber3 suka suka banget makan Bilung aku mau coba.."
"Dev, aku boleh tanya.?" Devi mengangguk." Akhir akhir ini, kamu sering
Merasa ada yang aneh gak.. ?"
"Aneh, aneh bagaimana si Nai. Kepala ku pusing,kamu kasih pertanyaan yang membuat aku tambah pusing.."
Bunda Rossa tersenyum. "Sayang, maksudnya Naila kamu merasa ada yang aneh tidak sama diri kamu nak... Kaya suasana hati kamu, terus makanan kamu. ?" Devi nampak berpikir, lalu mengangguk kan kepalanya..
__ADS_1
"Devi maaf sebelumnya jangan tersinggung ya nak...Kamu bulan ini sudah datang bulan belum.?"
Devi mengubah posisinya menjadi duduk, namun Devi masih diam. Ya Devi merasa bingung dengan pertanyaan ibu mertuanya tersebut. Yang pertanyaannya menuju ke arah hamil, Devi bingung harus menjawab bagaimana.
Bunda menatap Naila, untuk membantu Devi agar dia tidak salah faham.. Naila pun mengerti, dan mengangguk kan kepalanya...
"Dev, maksud bunda dan aku gini. Beberapa Minggu ini, sikap kamu tuh aneh tau.. Nah apalagi dengan permintaan aneh kamu yang meminta jajanan yang tidak pernah kami sukai.. Tapi hari ini kami meminta itu Dev. Kamu ngerasa tidak ada yang aneh sama kamu akhir akhir ini...?" Yang di angguki bunda Rossa membenarkan pertanyaannya Naila.
"Iya Devi sayang, bunda tidak bermaksud buat kamu sedih.. Maksud bunda hanya ingin bertanya, masalah nya akhir akhir ini kamu itu minta es krim di pagi hari. Dan bukan hanya itu, kamu itu sering ngambek kalau Denis sedang ngeledekin kamu...?"
Devi nampak berpikir dan mengingat ingat, apa yang di katakan bunda Rossa.
Devi memang baru sadar, kalau bulan ini dia belum datang bulan. Harusnya dua Minggu lalu, tapi sampai sekarang belum datang juga tamu bulanan. Bahkan sekarang sudah mau berganti bulan..
"Iya Bunda maaf ya, sebenarnya sikap aku akhir akhir ini agak sedikit sensitif sekali dengan Denis. Kadang suka marah sama Denis,kalau bercanda nya keterlaluan. Dan aku juga baru sadar kalau bulan ini, tamu bulanan aku belum datang
Bunda Rossa dan Naila pun tersenyum..
"Nah maksudnya bunda seperti itu Devi. Mangkanya kami penasaran dengan tingkah kamu yang aneh, mangkya kami datang kesini untuk memastikan.."
"Memastikan apa ya Nai, aku tidak ngerti deh...?"
Devi mengamati bentuk kemasan benda itu. Raut wajah Devi berubah menjadi lesu, saat membaca nama benda itu.
"Kamu coba ya sayang. Bunda yakin kalau kamu akan mendapatkan kabar baik."
"Iya Dev kamu coba aja dulu, bismillah ya.." timpal Naila.
Devi melihat ke arah bunda dan Naila.
"Tapi kalau hasilnya gagal lagi bagaimana.? Aku tidak ingin kecewa dengan hasil ku yang gagal lagi..."
"Tidak apa-apa, masih ada lain waktu. Yang terpenting sekarang kamu tes dulu. Jika memang belum ada hasil,kita ke dokter untuk mengobati kamu yang kurang sehat ini."
"Tapi aku selalu membuat bunda kecewa dengan hasilnya bunda..?" Mata Devi mulai mengembun..
__ADS_1
"Tidak nak tidak, kamu tidak pernah membuat bunda kecewa. Bunda justru bahagia mempunya menantu seperti kamu dan juga Naila.. Sudah jangan sedih lagi, bunda tidak pernah marah atau kecewa sama kamu..." Ucap bunda dengan tersenyum.." Sekarang kamu coba pakai alat itu ya Dev."
Devi pun akhirnya mengangguk, membuat bunda dan Naila tersenyum..Lalu dengan langkah yang gontai Devi pun melangkah menuju kamar mandi...
Naila dan bunda menunggu dan berharap ada kabar baik yang Devi dapatkan...
"Semoga ada kabar baik ya Bun, dari alat itu.?" Tanya Naila, bunda pun mengangguk..
10 menit Devi berada di dalam kamar mandi. Naila dan bunda menunggunya dengan perasaan tak sabar.
Ceklak, pintu kamar mandi pun terbuka.. Terlihat Devi keluar dari kamar mandi dengan langkah yang lesu. Bunda dan Naila saling menatap, lalu menghampiri Devi.
"Sayang, anak bunda kamu kenapa. Bagaimana hasilnya nak, kalau belum kamu harus sabar ya sayang...?"
Tak ada jawaban dari Devi, hanya terdengar suara Isak tangisnya saja. Naila jadi merasa bersalah dengan usulan nya, yang membuat Devi menjadi sedih kembali.
"Devi bagaimana hasilnya, coba aku lihat alat nya Dev.?" Devi pun memberikan alat testpack nya itu kepada Naila.
Naila pun mengambil alat tes kehamilan itu dari tangan Devi. Saat Naila melihat alat itu, mata Naila terbelalak.
Naila tersenyum melihat alat testpack nya. " Devi, ini serius.?" Devi mengangguk..
Bunda yang penasaran langsung melihat hasil dari alat itu, yang berada di tangan Naila. Naila pun memberi tau kepada bunda, dan bunda pun langsung memeluk Devi.
"Sayang, ini benar kan hasilnya yang tadi.?" Tanya bunda, Devi pun mengangguk.. Barulah di situ Devi memeluk ibu mertuanya yang begitu amat menyayangi nya.
Bukan hanya Devi, Naila pun memeluk dua wanita yang sangat Naila sayangi...
Ceklak, terdengar suara seseorang membuka pintu kamar Devi. Dan ternyata yang datang adalah Denis. Denis merasa heran melihat istrinya, bunda dan kakak iparnya, mereka saling berpelukan...
Denis pun menghampiri nya dan melihat 3 wanita itu menangis,dan saling berpelukan.
"Hallo... Ada apa ya, ko kalian bertiga menangis dan saling berpelukan.. Apa kalian habis melihat film drama yang membuat kalian menangis berjamaah seperti ini..?"
Ppuuukk... Denis mendapatkan hadiah dari bunda yang memukul kepala putranya...
__ADS_1
"Aduh... Lagi sedih aja, bisa ya memukul aku Bun.?" Sambil mengusap-usap kepala." Lagian kalian kenapa si, ko menangis berjamaah. Kalau ada Debby, aku yakin Debby akan ikutan nangis juga.. Udah deh pas kaya film Teletubbies, yang selalu saling berpelukan."
Bersambung.....