
Sambil menggenggam tangan Naila, Emiil mengajak nya sampai parkiran. Dan mereka baru melepaskan genggaman tangannya saat berada di motor mereka masing-masing.
Kini mereka berjalan menaiki motor masing-masing. Benar saja sebelum sampai pertigaan rumah Naila, Emiil memanggil Naila menggunakan klakson motornya.
Tin.. Tin... Motor Naila pun berhenti, lalu melihat motor Emiil berada di samping Naila.
"Nai, kamu pulang nya hati hati ya. Kita pisah di sini dulu." Naila mengangguk dan tersenyum. Tentunya Emiil juga membalas senyuman Naila. "Nanti aku chat ya, kalau kamu sudah gak sibuk kamu balas."
"Iya nanti aku balas chat kamu. Kamu hati hati ya".
"Ya sayang, sekarang kamu jalan duluan sana." Naila pun mengangguk.
Lalu Naila menyalakan mesin motornya kembali, lali jalan meninggalkan Emiil yang masih melihatnya dengan senyuman. Setelah motor Naila berbelok, barulah Emiil mengendarai motor nya. Dengan senyuman yang menghiasi bibirnya itu.
Bibir Naila pun tak lepas dari senyuman. Naila mengingat saat Emiil mengatakan isi hati nya. Padahal bukan hanya sekali atau dua kali saja, sudah berkali-kali Naila menolak Emiil. Namun Emiil nya tidak menyerah juga.
Kini Naila sudah sampai rumah, dan Naila pun mematikan mesin motor nya.
Ceklak.. Saat pintu Naila buka, Naila dapat tatapan tak enak dari bibinya.
"Bagus kamu sudah pulang, kamu ternyata sadar diri juga ya. Sudah menumpang ya harus sadar diri lah." Sindiran yang di lontarkan bibi nya membuat Nai mengepalkan tangannya.
"Hei keponakan tak tau diri, di kulkas ada sayuran jangan lupa habis ini kamu masak. Untuk makan malam kami, dan satu lagi. Masakan nya harus enak, karena putra saya akan datang malam ini. Awas sampai tidak enak, kamu akan saya kasih pelajar." Naila pun mengangguk.
Dan saat Naila berjalan beberapa langkah, bibi nya memanggil nya kembali.
" Hai kamu, jangan lupa tugas kamu menyetrika baju. Sampai kamu lupa kamu tau sendiri.! "
__ADS_1
" Iya bi. "Tanpa menoleh Naila menjawab. Lalu melanjutkan langkah nya menuju kamar nya.
Tanpa Mereka sadari Melly melihat kalau Naila di marahi oleh ibunya. Ada rasa sedih saat Melly melihat itu, Melly tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau Melly membantunya, Melly akan di kurung dan pasti Naila lah yang akan di hukum sama ibunya. Jadi Melly tidak bisa berbuat apa-apa.
Naila berjalan masuk ke Kamarnya. Kamar Naila berada di belakang, persis nya di belakang dapur. Karena itu dulunya adalah gudang, ya Naila tidur di kamar bekas gudang.
Sebenarnya paman nya menyuruh Naila untuk tidur bersama Melly, dan Melly pun tak keberatan. Tapi Naila menolaknya, karena tidak mau di sebut anak tak tau diri. Kamar Naila itu kecil, karena dulu nya bekas gudang. Nah gudang yang sekarang lebih sedikit besar dari kamar Naila. Untungnya kamar Naila terdapat satu jendela dan ventilasi untuk keluar masuknya angin. Di kamar Naila juga terdapat kipas angin di atas meja. Itupun pemberian dari pamannya yang tak tega melihat Naila kepanasan saat di kamar.
Dengan beristirahat sejenak, lalu Naila melanjutkan pekerjaan yaitu memasak.
Kini Naila sedang berkutat di dapur seorang diri. Rasa lelah yang Naila rasakan di tahan nya demi memasak untuk keluarga nya. Apalagi di tambah Fandi, yang tak lain kakak sepupunya datang karena libur kerja. Dan bukan hanya itu, Pasti paman nya saat pulang kerja langsung makan saat tau Naila yang memasaknya.
Naila membersihkan sayuran, memotong sayuran, ayam dan juga ikan. Karena malam ini, Naila akan memasak ayam teriyaki dan ikan gurame, serta lalap sayuran dengan sambal lalap nya. Karena itu semua makanan kesukaan paman dan kakak nya..
Saat sedang mengiris bawang, tanpa sengaja jari Naila teriris.
Melly yang sedang mengambil minum, mendengar kakak nya meringis langsung mendekat.
"Kenapa ka.?" Saat melihat tangan kakaknya berdarah. "Astaga kakak, itu tangan nya berdarah. Ayo di cuci dulu di air mengalir, sini ka. Biar aku ambilkan kotak obatnya, biar jari kakak di plester."
Naila mencuci tangannya, sedangkan Melly mengambil kotak obatnya.
"Sini ka duduk, biar Melly obati." Melly mengajak Naila duduk di kursi, lalu di obati luka di jari Naila.
"Ada Apa ini, di suruh masak malah duduk di sini." Suara bibi Farida membuat Naila dan Melly terkejut.
"Mamah ngagetin aja sih. Liat nih tangan ka Nai terpotong kena pisau.?"Jawab Melly.
__ADS_1
" Alasan aja dia tuh Mell.. "
" Alasan gimana sih bu, Nih liat. "Sambil menunjukkan jari Naila yang masih keluar darah segar. Dan bu Farida nampak jijik melihatnya." Mau masakan yang ibu makan nanti ada darahnya ka Nai, mau gak.?"
" Ya gak lah. Yasudah obati luka nya. Nanti lanjutkan masak nya, ibu mau keluar dulu ketempat bu Maya. Ingat Naila masak nya kamu lanjutkan dan yang enak. Awas saja sampai tidak, habis kau sama aku nanti.! " Ancam bu Farida ke Naila.
" Iya bi". Suara Naila sedikit bergetar, dan Melly tau itu.
"Sini ka, aku obati lagi lukanya. Nanti Melly bantu kakak masak ya.?"
"Tidak usah Mell. Biar kakak saja yang masak, nanti ibu tau, nanti kakak di marahin lagi."
"Ck.. Jangan khawatir, ibu Melly alias nenek sihir itu sudah pergi, jadi aman ka." Sambil tersenyum ke arah Naila.
"Nenek sihir, kamu manggil ibu kamu nenek sihir Mell. Jangan seperti itu Mell, dia itu ibu kamu. Ibu kandung yang sudah melahirkan kamu, masa kamu panggil dengan sebutan itu sih. Gak boleh begitu ya, seburuk buruk nya ibu kamu, dia yang sudah melahirkan kamu Mell. Kalau sudah tidak memiliki ibu seperti kakak, pasti nanti kamu menyesal Mell. Tidak enak Mell, tidak mempunyai orang tua, tidak ada tempat untuk berkeluh kesah."
Melly mendengar kakaknya bicara membuatnya menyesal, bukan karena dia nyebut ibunya nenek sihir. Tetapi membuat kakak nya sedih, mengingat keluarganya.
Melly memang kesal dengan ibunya itu, selain sering marah marah, ibunya pun tidak peduli dengan kegiatan Melly di sekolahnya. Bahkan untuk sekedar mengambil rapot sekolah, ibu nya selalu tidak bisa mengambilnya. Yang mengambil rapot nya itu ya Naila, kalau tidak ayah atau kakak laki-laki nya. Ibu nya seakan tidak peduli dengan anaknya.
Bahkan bu Farida tidak tau kalau Melly itu murid yang berprestasi di sekolahnya. Sering sekali Melly mengikuti kuis cerdas cermat di sekolahnya. Bukan hanya itu, suatu ketika saat Melly sedang jalan-jalan bersama teman-teman nya. Ada sebuah acara yang memang Melly sendiri tidak tau acara apa. Tiba-tiba saja Melly di beri pertanyaan tentang pengetahuan alam, dan Melly berhasil menjawabnya. Dan Melly berhasil mendapatkan hadiah uang tunai 5 juta, dan juga Handphone keluaran terbaru.
Sebagian uangnya di buat makan bersama teman-teman nya, sebgian uangnya di tabung untuk sekolah. Tak lupa Melly juga menyisihkan uangnya untuk orang yang membutuhkan. Sedangkan handphone nya, Melly simpan di lemari nya. Dan semuanya itu Melly ceritakan ke Naila yang sudah di anggap sebagai kakaknya sendiri.
Lalu di dapur itu, Naila melanjutkan masak nya. Dengan di bantu oleh Melly untuk mengiris bawang dan cabai dan lain-lain nya. Melly senang bisa membantu kakaknya itu, karena kak Naila lah yang bisa di ajak bercerita.
Bersambung.....
__ADS_1