Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Kedatangan paman Tommy


__ADS_3

Tanpa Brian sadari, Naila sejak tadi mendengar kan Brian bicara. Naila pun juga memperhatikan Brian bicara, sampai Naila pun menitikan air mata saat mendengarkan Brian bicara.


"Mas..." Naila menyentuh tangan Brian.


Brian terkejut, karena saat ini Naila terbangun.


"Sayang kamu terbangun ya. Maafin aku ya, gara gara aku kamu terbangun." Naila tersenyum lalu menggeleng kan kepalanya.


Lalu Naila bangun dan duduk berhadapan dengan suaminya.


"Aku belum tidur mas, aku tau saat kamu masuk kamar."Naila menatap Brian lekat lekat." Mas, apa aku boleh tanya. Apa kamu beneran cemburu dengan Denis.?" Tidak ada jawaban dari Brian." Mas lihat aku, apa kamu meragukan aku sampai saat ini.?"


"Bukan ragu sayang, gak ada keraguan aku pada kamu saat ini sayang. Jujur aku hanya sedikit cemburu oleh Denis setiap kali kamu memuji dan mengagumi dia. Apa aku boleh jujur sama kamu.?" Naila mengangguk." Kalau kamu mau tau, sebenarnya Denis itu juga menyukai kamu. Dan dia sepertinya jatuh cinta juga sama kamu." Naila menutup mulutnya karena terkejut mendengarnya.


"Mas kamu kenapa bicara seperti itu. Gak mungkin mas, aku ini istri kamu. Dan lagian dia itu akan menikah dengan Devi."


"Kamu gak percaya kan sama aku. Naila aku ini seorang pria, aku tau stiap kali Denis bicara dan menatap kamu bagaimanapun aku tau. Dia menyukai kamu sayang, dia sering memandangi foto kamu di kamarnya. Tapi karena kita sudah di jodohkan oleh kedua orang tua kita. Dan terutama kamu yang menerima perjodohan kita, dan akhirnya dia memilih untuk mundur dari kamu."


"Kamu serius mas, terus bagaimana perasaannya sekarang dengan Devi.?"


"Kamu tidak perlu khawatir, kalau hubungan nya dengan Devi. Denis pun serius menjalankan nya, aku yakin itu. Kalau tidak yakin mana mungkin dia meminta di percepat pernikahan nya dengan Devi." Naila pun sedikit merasa lega mendengarnya." Ini salah di aku yang cemburu melihat dia yang paling ngertiin kamu. Kata kamu dia itu seperti pahlawan bagi kamu, tidak seperti aku yang selalu nyebelin. Bahkan sekarang aku suami kamu, tapi justru aku yang tidak ngertiin kamu."


"Mas kamu jangan bicara seperti itu. Bagiku kamu suami yang pengertian,dan paling mengerti aku. Dan di hatiku hanya ada kamu, jadi jangan berpikir seperti itu. Maaf kalau aku sudah membuat kamu cemburu karena dekat dengan Denis. Maaf ya mas, aku gak bermaksud membuat kamu marah."


"Gak sayang kamu gak salah. Aku yang di sini yang salah, selalu cemburuan. Karena terlalu sayang dan cinta sama kamu."

__ADS_1


Brian meng...ecup punggung tangan Naila, dengan rasa sayang nya.


Sebulan kemudian, keluarga Brian di sibukkan dengan acara pernikahan Devi dan Denis.Karena acara nya akan di adakan dua hari lagi, jadi paman Tommy dan Melly akan datang ke rumah Naila. Ya paman Tommy sebagai saksi dari Devi.


Ya kerena memang Devi anak yatim piatu, yang di angkat oleh keluarga yang sudah lama belum mempunyai anak. Namun setelah mempunyai anak, Devi di buang begitu saja. Dan bukan hanya itu Devi hampir ingin di jual oleh ibu angkatnya, dan itu yang membuat Devi harus ke Jakarta, dan bertemu Naila. Dan menganggap Naila dan paman Tommy seperti keluarga.


Kini Devi pun juga tinggal di rumah Naila, sampai acara pernikahan nya. Karena bagi Naila, Devi hanya mempunyai dirinya yang dianggap keluarga. Dan Brian pun tak keberatan dengan Devi tinggal di rumah nya untuk sementara waktu.


"Mas, aku mau ke kamar Devi ya."


"Iya sayang, ow iya aku ke luar ya di rumah Alvin."


"Iya mas".


Brian pun berjalan menuju rumah tetangga nya yang tak lain rumah Alvin, teman sekolah, SMA Brian.


Next....


Tok tok tok.... Kini Naila berada di depan pintu kamar Devi, Naila mengetuk kamarnya namun tidak ada jawaban dari Devi..


Ceklak... Naila membuka pintu kamarnya Devi, terlihat Devi kini sedang melamun memandang arah luar jendelanya. Naila berjalan mendekati Devi, dan menyentuh pundaknya. Devi pun terkejut saat tau Naila berada di sampingnya dengan tersenyum. Devi segera menghapus air matanya, Naila memperhatikan sahabat kini sedang tidak baik baik saja.


"Naila kamu di sini, ayo duduk dulu. Bumil gak boleh kelelahan, ayo kakak ipar ku. Hihihi...." Sambil menggandeng tangan Naila.


Naila pun tersenyum dan kini mereka duduk dia atas tempat tidur. Naila tau kalau sahabatnya ini ingin bercerita.

__ADS_1


"Kenapa si Dev, kenapa kamu sedih. Kamu akan menikah, kenapa kamu menangis. Sahabat aku gak boleh sedih, mana Devi yang selalu ceria itu.?"


"Kamu tau Nai, setiap pernikahan adalah keinginan setiap pasangan. Apalagi jika acara sakral itu di hadiri keluarga. Sedangkan aku apa Nai, aku tidak mempunyai siapapun, keluarga angkat ku saja tidak peduli dengan ku. Aku merasa seperti seorang wanita yang di buang keluarga tau gak Nai." Devi menitikan air matanya.


"Hei.. kenapa bicara seperti itu si Dev, kan ada aku. Bukankah katamu aku ini keluarga kamu juga, kenapa kamu berpikir kamu tidak mempunyai siapapun. Dan sekarang kita akan menjadi saudara, jadi kamu jangan sedih lagi." Naila jadi ikut terharu." Nasib kita sama Dev, jadi kita harus saling mendukung dan merangkul. Kita anggap persahabatan kita ini menjadi persaudaraan. Paman ku paman kamu juga, kita sama sama tidak mempunya orang tua. Jadi paman Tommy itu paman kamu juga, jangan sedih lagi ya.?" Devi mengangguk, dan mereka berdua pun saling berpel...ukan.


Tok tok tok... Terdengar suara ketukan pintu. Naila dan Devi pun menghapus air matanya, Naila pun berjalan untuk membuka pintu.


Ceklak.... Saat Naila membuka pintu ternyata Brian yang mengetuk pintunya. Brian terkejut karena istrinya membuka pintu dengan mata sembab.


"Sayang kamu habis nangis, kenapa sayang.?" Ada rasa panik pada Brian.


Naila tersenyum dan menggelengkan kepalanya." Gak apa apa ko mas, ini kami habis nonton Drakor, jadi ikutan nangis deh." Brian membuang nafasnya merasa lega, karena Brian takut kalau Naila kenapa-kenapa.


"Syukurlah lah, aku takut kamu kenapa-kenapa.?" Naila tersenyum."Sayang di luar ada paman kamu, bersama Melly dan .... Fandi." Saat menyebutkan nama Fandi Brian sedikit malas mengatakan nya.


Naila pun faham akan hal itu.


"Yasudah ayo kita kesana.." Brian mengangguk." Devi paman Tommy datang, aku keluar dulu ya.?" Naila memberitahu Devi.


"Ayo... Kita keluar bersama. Kan kata kamu, paman kamu paman aku juga. Aku juga akan bertemu dengan paman ku.." kata Devi tersenyum, Naila dan Brian pun mengangguk..


Akhirnya Devi, Naila dan Brian menghampiri paman Tommy yang berada di ruang tamu. Namun Brian terus menggenggam erat tangan Naila, apalagi dengan kedatangan Fandi. Brian mengingat jelas bagaimana Fandi mengatakan kalau dirinya mencintai Naila, padahal Naila itu adik sepupunya. Tapi masih saja Fandi memiliki rasa, Brian gak habis pikir.


Di sofa paman Tommy, Melly Fandi dan seorang wanita sedang duduk menunggu kedatangan Naila. Naila melihat, kalau Fandi menggenggam tangan seorang wanita di sampingnya. Dan wanita itu juga tersenyum ke arah Naila dan Brian.

__ADS_1


Pak Tommy memberikan senyuman hangat kepada Naila, keponakannya yang dia anggap seperti putri nya sendiri. Yang begitu amat dia sayangi. Pak Tommy merasa bersalah karena kejahatan istrinya, nasib keponakan nya jadi harus menderita.


Bersambung...


__ADS_2