Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Niat ke pasar malam


__ADS_3

Suaminya Bu Leni yang bernama Alfin, dia bekerja sebagai karyawan tetap di perusahaan-perusahaan bagian Admin. Sedangkan pak Tommy dan pak Alfin mereka adalah Teman SMA. Pak Alfin sendiri juga mengenal Fahmi yang tak lain ayah dari Naila. Mangkanya Alfin menyuruh Tommy agar Naila untuk bekerja di toko milik istrinya. Dan di sana belakang toko ada kontrakan di mana pemiliknya adalah teman dari istrinya, dan masih bersaudara.


Flashback.


Di saat pak Tommy datang ke acara reunian angkatan SMA, pak Tommy pun ikut datang ke acara tersebut. Dan pak Tommy pun akhirnya bertemu dengan sahabat lama nya yang sudah lama tidak bertemu bertahun tahun.


"Tommy..?" Saat Tommy serang mengambil minum, Tommy pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya.


Alangkah terkejutnya ada pria yang tersenyum ke arahnya..


"Aaa.... Alfin." Pria itu mengangguk dan tersenyum.


"Tommy..."mereka pun saling bersalaman tanda bertemu nya kembali


Mereka pun berjalan mencari tempat yang tenang untuk mengobrol, dan menjauh dari keramaian teman teman nya.


"Hei sudah berapa lama kita tidak ketemu. Bagaimana kabar keluarga sekarang..?"


" Ya kabar keluarga baik, Ya hampir 15 tahun lah, kita tidak ketemu. Waktu itu kan kalau gak salah, saat anakku si Fandi 4 tahun kita terakhir ketemu.?"


"Iya saat anakmu si Fandi itu ya. Sekarang usia nya berapa tuh anak kamu.?"


" Fandi sekarang sudah 28 tahun. Dia bekerja di Bank, daerah Cengkareng."


"Wah sudah dewasa berarti. Sudah nikah si Fandi.? Anak kamu berapa memangnya, yang aku ingat hanya Fandi.?"


"Belum, entahlah kita sebagai orang tua hanya menunggu. Katanya nunggu tabungan nya cukup untuk keluarga nya. Hihihi...." Pak Tommy pun terkekeh. Dan pak Alfin pun juga terkekeh.


" Ya kamu hanya tau si Fandi, anakku ada 4 yang ke dua dan ke tiga perempuan. Jenny dan Melly, Melly masih SMP sedangkan Jenny dia kuliah, usianya 22 tahun.?"


"Ow sudah besar, terus yang ke 4 anak kamu siapa namanya.?"


"Ow itu putri ku juga Namanya Naila, dia anak adikku. Almarhum Fahmi dan Dina."


"Fahmi, bukan nya dia adik mu kan .? Mantan nya Citra adik sepupuku, yang pernah sempat kamu suka itu.?" Kata Alfin Sambil menaikan kedua alisnya, seraya meledek.


"Syiit... Masih ingat saja kau Fin, itu masa masalalu."

__ADS_1


"Justru masalalu kenangan yang tidak akan terulang kembali. Hahahah...." Alfin tertawa." Eeh tapi serius si Fahmi sudah tiada, aku masih gak percaya. Memang sudah lama meninggal nya.?"


"Cukup lama saat anaknya wisuda kelas 6 SD. Saat perpisahan sekolah anaknya, ternyata perpisahan Naila dengan kedua orang tuanya.. Mangkanya karena aku saudara kandung ayahnya yang dekat, jadi aku bawa dia bersama ku. Adikku yang perempuan satu-satunya ngikut suaminya di daerah Klaten. Nah kebetulan juga Naila hanya dekat dengan ku dengan Tanteh nya kurang dekat."


"Iya ya kasian juga Naila itu. Untung saja ada kamu Tom."


"Mangkanya, tapi ada yang membuat ku pusing dengan adanya Naila di rumah.?"


" Masalah apa.? Materi buat biayanya, kan sudah besar dia sekarang.?"


"Bukan itu, kalau masalah materi, Alhamdulillah dengan adanya dia dirumah rezeki ku lancar. Ini masalah nya sama istriku."


Tommy menceritakan ke Alfin, ya memang sejak dulu Tommy selalu berbagi cerita ke Alfin. Dan begitu pula Alfin suka bercerita, dan mereka suka menukar pemikiran dan memberikan masukan untuk kedua pria itu.


Alfin dan Tommy tipe orang yang senang membantu temannya di kala membutuhkan. Hanya saja saat Alfin menikah dan di pindahkan kerja, persahabatan mereka hilang Begitu saja. Dan di acara reunian itu, persahabatan mereka tersambung kembali.


"Begitu lah Fin, Mangkanya terkadang aku tuh suka mikirin keponakan ku itu saat bekerja. Berharap istri ku tidak menyakiti dia. Sejak ditinggal kedua orang tuanya dan juga teman-teman nya, Naila di rumah menjadi Naila yang pendiam. Terkadang aku lelah dengan sikap kasar dan Arogan istriku itu, ingin sekali aku menyerah. Namun lagi lagi Naila lah yang mengingatkan ku untuk tidak meninggalkan istri ku. Dia memikirkan anak anakku, dan juga aku. Aku sendiri tidak bisa melindungi nya dari kasarnya istri ku memperlakukan nya. Dia tidak punya siapa-siapa di sini, setidaknya aku ingin berperan sebagai orang tuanya."


Alfin menepuk pundaknya Tommy.


"Dia kerja, hanya saja dia itu masih bolak-balik kerumah. Aku ingin nya dia kerja jauh agar istri ku gak ngeliat dia. Naila bekerja di Mall, nah istri ku tau dia kerja di sana. Kadang dia suka minta uang ke Naila untuk berbelanja, Naila mengasih saja, orang di ancam sama bibi nya. Aku ingin nya, Naila kerja nya agak jauh gitu. Aku masih nyari loker buat Naila, biar dia gak kena cacian istri ku".


Alfin nampak berpikir.


" Nanti ku tanyakan ke Leni istri ku, dia punya anak cabang toko Bakery. Barangkali ada lowongan untuk Naila, toko nya cukup terkenal. Nanti ku tanya kan ke dia. Istri ku sangat pintar mengelola usahanya bukan hanya toko Bakery saja. Istri ku punya toko bunga, kalau di toko Bakery nya tidak ada lowongan. Barangkali di toko bunganya mungkin ada lowongan, kamu tenang aja. Kita tukeran nomer telpon ya,nanti ku hubungi kamu Tom". Tommy pun mengangguk.


Nah dari situlah pak Tommy ngajak Naila untuk pindah kerja dan tempat tinggalnya. Karena Alfin menceritakan semuanya ke istrinya, dan Leni pun mau membantunya.


Flashback of.


Tak terasa Devi dan Naila berkerja sudah dua bulan, sudah dua kali juga Mereka mendapatkan gajinya. Walaupun gajinya tidak besar seperti gaji di tempat kerja sebelumnya. Setidaknya Naila di sini tidak khawatir akan marahan dan hinaan dari bibi nya.


"Asyik hari ini kita gajian Devi, bagaimana kita keluar nanti malam. Ajak Naila dan Kiki, kita ke pasar malam." Ajak Rara dengan semangat 45 nya.


"Iya ya kita gajian hari ini, boleh tuh. Tapi dimana pasar malam nya, aku gak tau soalnya.?" Jawab Devi saat pengunjung toko lagi sepi.


"Ya iyalah kamu ga tau Dev, kan kamu baru dua bulan di sini. "Rara dengan terkekeh.

__ADS_1


"Iya juga ya, yasudah nanti aku tanya Naila. Dia mau gak ya, soalnya tuh bocah susah banget kalau di ajak jalan kaya gitu".


"Pasti mau dia, ajak aja.!" Devi pun mengangguk.


Saat sore nya jam 5 sore, waktu jam kerja Naila selesai. Naila kini sedang bersiap siap, memakai tas nya.


"Semuanya aku duluan ya, Dev aku duluan". Pamit Naila.


Daan saat melewati Devi dan juga Rara, Naila di hadang sama Rara.


"Nai, sibuk gak ni hari.?"


"Gak, palingan aku nyuci baju . Kenapa memangnya Ra.?"


"Kan kita udah gajian nih, kita jalan jalan sama Devi dan Kiki. Di dekat pertigaan ujung jalan sana, ada pasar malam. Kita ke sana yuk, dari pada di rumah Mulu bosen tau. ?"


Naila melihat ke arah Devi, yang menunjukkan wajah berharap.


"Kamu mau ikut Dev.?"


"Kalau kamu mau, aku juga mau. Lagian kita di kontrakan terus, kita keluar yuk cuci mata, liat yang bening bening gitu loh Nai." Devi terkekeh


Sedang kan Naila hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, mendengar temannya itu.


"Yasudah iya kita ke pasar malam. Tapi aku balik dulu ya, aku mandi dulu gerah. Dan sekalian ambil motor, jauh kan tempatnya dari sini.?"


"Iya agak jauh, kamu tau Nai.?"


"Iya tau, waktu itu aku keluar dan di sana banyak tukang jualan. Yang aku beliin kamu cilok itu Dev.?"


"Ow, yang cilok nya enak itu ya.?" Naila mengangguk.


"Ya sudah aku balik dulu ya.?"


"Iya Naila.."


Dan akhirnya Naila pun balik ke kontrakan, dan membersihkan tubuhnya. Karena merasa lengket, selesai membuat cake dan roti.

__ADS_1


__ADS_2