
Dan bukan hanya itu Brian juga menceritakan bertapa genit nya Naila saat kecil.
" Kamu ingat gak Nai, saat aku kena Omelan bunda karena menolak ajakan kalian.?"
"Iya, kakak sering kena marahan bunda karena bunda selalu membela aku ya."
"Iya padahal aku anak nya bunda, kenapa aku yang di marahin bunda.?"
Dan akhirnya mereka berdua pun tertawa.
Flashback..
Waktu usia Naila 8 tahun. Naila , Debby dan Denis bermain di rumah bunda Rossa. Biasanya merek bermain di luar, karena hujan, akhirnya mereka bermain di dalam rumah bunda Rossa.
"Hujan kita tidak bisa main di luar.?" Ucap Denis.
"Iya, aku tidak bisa pulang jadi nya. Sarah pun juga tidak ada, kalau ada kan enak ya" timpal Naila.
Brian yang sedang asyik menonton tv merasa pusing dengan 3 anak kecil yang kini ada di sebelahnya.
Debby tersenyum melihat Denis Naila dan kakak nya.
"Kita bisa main di dalam, bagaimana kalau kita main mamah mamahan aja . Bagaimana kamu mau tidak.? Aku dan Denis jadi anak kamu, kamu mamahnya dan kak Brian papahnya." Brian yang sedang serius nonton film Doraemon, langsung menoleh ke adiknya itu.
"Ko kakak di bawa si Debby, gak mau kakak gak mau ikut mainan bareng kalian." Celetuk Brian, membuat Debby cemberut.
"Kakak.." Rengek Debby.
"Gak kakak gak mau ikutan main Seperti itu. Kakak lagi asyik nonton Doraemon tau gak, habis ini film kesukaan kakak ninja Hatori." Jawab ketus Brian.
Alhasil Debby menangis, dan menghampiri bunda Rossa.
'Mengadu dia pasti ke Bunda, urusannya kena lagi dah aku'. Gumam Brian dalam hatinya.
Benar saja bunda Rossa yang sedang berkutat di dapur langsung keluar menggandeng tangan Debby.
"Ada apa si Brian, bunda lagi masak. Temani adik kamu tanpa harus di buat menangis adiknya Kenapa si.?"
"Bunda, Brian sudah temani mereka. Hanya saja permintaan Debby meminta Brian untuk ikut main mamah mamahan dengan mereka. Naila jadi mamah nya ,Brian jadi papahnya, lah Debby dan Denis jadi kakak dan adik. Kan bisa Denis jadi papahnya kenapa mesti Brian si mah.?" Protes Brian, membuat bunda ingin tertawa. Tapi bunda tahan terlihat bibir bunda yang berkedut an.
"Aku sudah bilang Bun biar aku saja, tapi Debby ingin ka Brian. Katanya dia gak mau kalau gak punya kakak.?"timpal Denis.
"Ya sudah Brian ikuti aja ,hanya peran bohongan sebagai ayahnya. Kamu duduk saja sambil nonton tv, kan bisa. Ya kan Debby,tidak apa apa ya kakak kamu main nya sambil nonton tv.?" Debby mengangguk.
"Tuh kan Brian, gak usah repot-repot ikutan aja. Anggap aja kamu jagain adik adik kamu. Yasudah bunda lanjut masak, jangan ada yang nangis lagi ya.?"
__ADS_1
"Iya bun." Jawab Brian dan bunda pun masuk kembali." Yasudah kalian lanjut lagi mainan nya".
"Iya ka." Jawab mereka bertiga yang melanjutkan permainan nya sebagai keluarga.
Brian sendiri menikmati peran nya sebagai ayah yang sedang menonton tv. Setelah itu datang lah Naila dan Debby menghampiri Brian dengan membawa nampan kecil dengan berisi gelas dan piring mainan..
"Ayah ayah." Brian menoleh ke arah Debby, lalu kembali melihat ke arah tv.
"Eeem..." Jawab nya singkat.
"Ayah cobain deh masakan buatan Debby dan mamah. Debby yakin ayah senang dengan masakan mamah Naila.?" Ucap Debby.
"Iya yah cobain masakan aku..?" Kata Naila dengan polosnya.
Dengan memutar matanya karena jengah, Brian pun tersenyum dengan sangat terpaksa ke arah dua anak kecil itu.
"Mana sini aku cobain masakannya. Memang kamu masak apa si .?" Naila memberikan piring kecil mainan yang terbuat dari plastik.
Alangkah terkejutnya, piring tersebut di isi potongan daun singkong yang diiris menjadi kecil kecil.
'Astaga apa ini, ini kan daun singkong, makanan kambing.' Gumam Brian dalam hatinya.
Brian pun berlaga memakan makanan itu, dan juga meminumnya.
"Ssssruuuppp aaah... Enak nih piring trimakasih ya." Brian meletakkan piring dan gelas mainan itu
"Eeem.. dah sana aku mau lanjutkan nonton tv". Debby dan Naila kembali melanjutkan mainan nya.
Setelah itu mereka melanjutkan permainannya yang lain. Saat Brian sedang asyik nonton tv film Naruto, sambil merebahkan badannya di sofa.
Naila yang sedang berlari di kejar Denis, tidak sengaja menyenggol kaki meja. Dan alhasil Naila terjatuh di tubuh Brian, dan mengenai perutnya.
Aaaaaaa.... Triak Brian.
"Naaaiiilaaaa..... Kamu ngapain sih.?" Bentak Brian dan langsung mendorong Naila,hingga Naila terjatuh terbentur meja.
"Aaaaaaa .. Hiks hiks hiks.... Aku gak sengaja ka Brian maafin aku. Denis sakit sikut aku."
Denis melihat sikut Naila berdarah karena terbentur meja yang terbuat dari kayu.
"Astaga, tangan kamu berdarah Nai." Denis menoleh kearah kakaknya yang diam melihat Naila menangis." Ka Brian sikut Naila berdarah.."
"Apa berdarah, astaga Naila. Maafkan aku ya.?" Brian menghampiri Naila dan melihat luka Naila. Benar saja sikut Naila berdarah." Astaga beneran berdarah. Sebentar ya kakak ambilkan obat dan plaster untuk lukanya."
Brian segera ke kamarnya untuk mengambil kotak obat. Lalu Debby datang, dan melihat Naila yang menangis memegangi Sikut nya. Sedangkan Denis menenangkan Naila.
__ADS_1
Dan bunda pun datang dengan berjalan cepat, menghampiri Naila.
"Ada apa Denis, kenapa Naila menangis.?" Denis menceritakan kejadian nya ke bunda.
Saat Brian datang membawa kotak obat, bunda menatap nya tanpa ekspresi.
"Brian kamu apakan Naila, sampai terluka.?"
"Aku tidak sengaja Bun, maaf bunda. Tadi Naila dan Denis bercanda, saat aku ingin tertidur Naila terjatuh dan mengenai perut aku. Karena sakit refleks aku dorong Naila, ini aku mau obati lukanya."
Brian duduk di dekat Naila, dan melihat luka nya yang masih mengeluarkan darah. Brian membuka kotak obatnya,lalu Brian membersihkan lukanya terlebih dahulu, lalu lukanya di pakai kan menggunakan obat merah.
"Maafkan kakak ya Nai, gimana lukanya masih sakit tidak.?"
"Sedikit ka kalau kena gesekan saja."
"Kakak pakai kan plaster ya, sini tangan Kamu". Naila mengarah kan tangan nya ke arah Brian.
Oleh Brian di tempelkan plaster dengan gambar dinosaurus warna kuning. Naila tersenyum melihat Brian yang baik padanya. Bukan hanya Naila ,bunda Rossa pun tersenyum saat melihat putra sulungnya bersikap manis dengan Naila.
"Sudah, Sekarang luka kamu tidak akan sakit lagi. Maafkan kakak ya.?" Brian tersenyum.
Naila pun mengangguk.
"Iya ka aku maafin kakak, tapi kakak janji jangan galak sama Nai lagi.?" Sambil mengarahkan jari kelingkingnya, dan tersenyum.
Brian pun mengarahkan jari kelingkingnya ke arah jari Naila.
"Janji, tapi kamu juga janji jangan pecicilan seperti tadi ya.?" Naila mengangguk.
Brian pun juga tersenyum ke arah Naila. Denis dan Debby pun juga tersenyum melihat kakaknya dan Naila berbaikan. Begitupun juga bunda tersenyum melihatnya. Dan diam diam bunda mengabadikan momen itu di handphone milik bunda.
Naila tersenyum jahil. "Ka lihat di sana ada apa..?" Sambil menujuk ke arah luar rumah. Dan Brian pun menuruti dan menoleh ke arah Naila tunjukkan.
Cup
Naila mengecup pipi samping Brian. Alhasil semua yang di sana bengong melihat kejadian itu, termasuk Brian yang diam mematung.
"Trimakasih ya ka sudah mengobati luka Naila." Dan Naila tersenyum sangat manis ke arah Brian.
Brian tersenyum dan mengangguk kan kepalanya, tanpa menjawabnya. Setelah itu, Brian langsung masuk ke dalam kamarnya. Brian menyentuh pipinya, bekas kecupan Naila, kalau tersenyum.
Flashback of
Kini Naila sudah sampai di rumah sedangkan Brian langsung pulang setelah mengantarkan Naila pulang.
__ADS_1
Bersambung...