Cinta Masa Kecil Naila

Cinta Masa Kecil Naila
Perjodohan


__ADS_3

"Ow ya ka Brian selalu mencari ku.?" Denis mengangguk.


"Iya ka Brian yang selalu mencari kamu, kami pun juga. Pernah ya ka Brian sampai cuti kerja mencari alamat yang para tetangga paman mu dulu. Tapi mereka tidak ada yang tau alamat baru paman kamu itu Nai."


"Sampai segitunya Ka Brian mencari alamat pamanku demi aku.?"


"Mungkin ka Brian menyesal, karena dia kan yang paling sering bikin kamu nangis. Dan mungkin dari situ dia juga merasa bersalah karena dia sering menjahili kamu, sampai bunda marah sama Kaka. Padahal kan ka Brian anak bunda tapi kamu yang di bela bunda." Kata Denis dengan terkekeh.


Naila pun juga ikut tertawa mendengar cerita Denis.


"Iya ya, itu yang membuat aku heran. Bunda selalu membela aku, ketimbang Ka Brian."


"Tapi semenjak kita pindah dari situ, Ka Brian jadi lebih banyak diam. Dan setelah lulus sekolah dan kerja, Ka Brian berubah menjadi pria yang pengertian dan perhatian. Sama bunda dan sama kami. Apalagi dengan bunda, dia akan melakukan apapun agar bunda bahagia." Cerita panjang lebar Denis ,ada rasa kagum yang Naila rasakan pada Brian.


Karena mereka berbicara terlalu lama, sampai mereka lupa kalau waktu terus berjalan. Dan jam pun sudah menunjukan jam 9 malam.


"Waduh Nai, sudah malam kita balik yuk ."


"Iya lama juga kita ngobrol gak sadar sampai jam 9.?" Brian tersenyum, dan mereka pun akhirnya pun mereka pun pulang. Denis mengantar Naila ke kontrakan..


Esok harinya, Naila dan Devi seperti biasa mereka kerja bakti di kontrakan mereka. Membersihkan rumah. Walaupun kontrakan kecil tapi Devi dan Naila melakukan nya bersama- sama.


Setelah selesai membersihkan kontrakan mereka berdua merebahkan tubuhnya di kasur. Agar rasa pegalnya hilang. Saat itu terdengar suara panggilan masuk dari handphone nya Naila. Naila pun melihat nama bunda Rossa yang menghubungi nya.


Klik Naila mengangkat panggilan telponnya.


"Hallo assalamualaikum Bun".


"Waalaikumsallam sayang, Naila kamu jadi main ke rumah bunda nak.?"


"Aaah... Iya bunda nanti aku kesitu."


"Ajak teman kamu jangan lupa ya, bunda ingin kenal sahabat baik kamu itu.?"


"Nanti aku ajak Devi sekalian". Devi yang mendengar namanya di sebut langsung menoleh ke arah Naila." Iya bunda nanti Naila datang."


"Bunda sudah masak banyak untuk kalian anak bunda.?"


"Iya bunda terima kasih sampai di masakin segala si Bun.."


"Iya gak apa-apa. Yasudah bunda tunggu loh kedatangan kalian.?" Sedangkan di samping bunda Rossa ada seseorang yang sedang tersenyum." Yasudah bunda tutup ya telpon nya . Assalamu'alaikum..."


"Waalaikumsallam bunda...."


Klik panggilan pun terputus...


Kini Naila dan Devi sudah rapih dan bersih. Dan mereka berdua pun kini sedang memakai make up, makeup yang natural. karena tanpa makeup tebal pun mereka sudah terlihat cantik.

__ADS_1


Kini Naila sudah siap. Saat Devi sedang mencari kunci motor terdengar suara ketukan pintu.


Tok tok tok.. Naila dan Devi saling menatap.


"Biar aku yang buka." Naila pun mengangguk.


Devi pun membukakan pintunya. Dan ternyata ada seorang pria yang sudah berdiri di depan pintu, dan tersenyum manis kepada Devi.


"Selamat siang."


"Kamu Denis kan.?" Denis pun mengangguk.


"Ternyata memang Kamu cantik, apalagi dengan menggunakan makeup seperti." Devi pun tersenyum mendengar Denis menujunya.


"Terima kasih". Denis pun mengangguk dan tersenyum." Sebentar ya aku panggilkan Naila.?" Denis pun mengangguk.


"Manis..." Gumam Denis.


Dan Denis pun tersenyum, lalu mengambil handphone nya di kantong celananya. Karena ada panggilan masuk dari kakaknya.


" Iya ka , aku sudah sampai." Brian tersenyum." Iya iya ka".


panggilan pun terputus.


"Kebiasaan kalau nelpon main tutup sembarangan. Untung saja punya kakak satu, kalau tiga macam Kaka Brian bisa darah tinggi aku."


"Kamu jemput kita, aku baru mau naik motor".


"Jangan naik motor, nanti aku kena ceramah bunda dan kakak." Naila tersenyum." Sudah siap kan yuk kita berangkat.?"


Naila dan Devi pun mengangguk, dan mereka bertiga pun bejalan menuju mobil yang berada di depan pagar kontrakan.


Devi yang mudah akrab dengan orang, jadi tidak membuat nya canggung untuk mengobrol.


30 menit perjalanan menuju rumah bunda Rossa, akhirnya mereka bertiga kini sudah sampai dirumahnya bunda.


Di sana bunda Rossa, Brian, Debby dan ayah Haris. Merek sudah menyambut kedatangan Naila dan Devi dengan senyum ceria.


"Naila sayang, anak bunda. Bagai mana kabar kamu sayang, seminggu tidak ketemu bunda sudah kangen sama kamu Nai". Bunda Rossa cipika cipiki dengan Naila.


"Baik bunda, bunda sendiri bagaimana kabarnya.?"


"Baik sayang, apa lagi sekarang kamu sudah di sini,bunda selalu sehat nak." Bunda tersenyum melihat Naila, begitupun Naila ikut tersenyum .


Devi melihatnya merasa sedikit heran kenapa wanita di depannya itu sangat menyayangi Naila. Namun Devi hanya bisa tersenyum melihatnya.


Bunda Rossa melihat ke arah Devi dan tersenyum.

__ADS_1


"Hallo, pasti kamu Devi kan sahabatnya Naila. Salam kenal ya saya bunda Rossa, senang bisa kenal kamu." Bunda Rossa pun cipika-cipiki ke Devi.


Devi sedikit terharu dengan pelukan hangat dari bunda Rossa, namun Devi berusaha menahannya.


"Iya tanteh, saya sahabatnya Naila. Jadi tanteh yang Naila maksud,ternyata tanteh benar baik dan penyayang ya."


"Terimakasih sayang, kamu juga baik, dengan Naila selain itu juga kamu cantik. Terimakasih ya kamu sudah baik dengan Naila". Devi pun mengangguk." Dan satu lagi, jangan panggil tanteh ya. Kamu harus panggil bunda juga seperti Naila dan anak Bunda.!" Devi pun mengangguk.


"Iya Tan... Eeh bunda.." Devi meralat ucapannya. Bunda Rossa pun tersenyum.


"Devi, kenalkan ini Debby kembarannya Denis, dan ini suami bunda, namanya Haris, dan ini Brian kakaknya Debby dan Denis". Bunda mengenal kan semuanya ke Devi.


"Iya kalau Brian saya mengenalnya, karena Brian waktu itu pernah men.... Mmmppphh..." Lagi lagi mulut Devi dibekap oleh Naila.


Brian tersenyum melihat tingkah Naila dan Devi. Bukan hanya Brian tapi keluarga Brian menyaksikannya ikut tersenyum.


"Yasudah yuk masuk kedalam,bunda sudah masak loh. Ayo, Naila ajak Devi masuk sekalian ." Naila pun mengangguk.


Kini Naila, Devi, dan keluarga bunda Rossa sedang berada di ruang makan. Mereka sedang menikmati makan bersama-sama.


Brian yang duduk berhadapan dengan Naila, sesekali mencuri pandang menatap ke arah Naila.. Bunda Rossa pun yang memergoki putranya itu hanya tersenyum melihatnya.


Dan kini Mereka semua selesai menikmati makan bersama. Dan mereka pun pindah duduk di ruang keluarga.


"Naila sayang,bunda ingi bicara serius sama kamu." Naila nampak bingung.


Sedangkan Naila melihat, ayah Haris, Brian, Debby dan Denis. Semua nya tersenyum akan ucapan bunda.


"Bicara serius, bicara apa ya Bun.?"


Devi yang berada di samping Naila, merasa tak enak hati karena mereka akan bicara serius masalah pribadi.


"Maaf kalau begitu, saya keluar sebentar. Saya tidak enak...?"


"Tidak usah nak Devi, kamu di sini saja." Ucap ayah Haris.


Dan Devi pun akhirnya duduk di samping Naila kembali.


"Naila, sebelum nya kami ingin meminta maaf sama kamu.Mungkin kamu sedikit tidak nyaman bunda menyampaikan ini, tapi memang ini yang harus kami sampaikan. Sayang bunda akan memberitahu kami, karena ini juga pernah menjadi pesan dari ibu dan ayah kamu, sewaktu beliau masih ada. Dan bukan hanya itu, kami sebagai orang tua juga sudah berjanji untuk melakukan itu ."


"Maaf bunda Naila tidak mengerti pesan dari ibu dan ayah. Pesan apa bunda.?"


Bunda Rossa tersenyum.


"Pesan mereka untuk menitipkan kamu kepada kami. Dan berjanji untuk melakukan perjodohan antara kamu dan Brian.."


Naila sangat terkejut dengan ucapan bunda Rossa. Naila melihat Brian yang sedang menatap nya dengan sangat serius, lalu Naila melihat melihat ke arah Devi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2