
Cukup lama perjalanan dari rumah pak Tommy ke lapas. Mereka membutuhkan waktu 3 jam perjalanan. Kini mobil yang di kendarai Brian sudah sampai d depan kantor polisi, di mana tempat itu adalah tempat bibi Farida di tahan.
Kini pak Tommy, Brian dan Naila sedang berada di kantor polisi.mereka menunggu Bu Farida menemui nya.
"Naila bibi kamu sekarang sudah berubah. Kamu jangan takut lagi dengan bibi kamu ya.?" Naila mengangguk.
"Iya ayah...." Jawab Naila dengan senyuman.
Kini Bu Farida berjalan menuju ruang kunjungan, dengan di temani petugas lapas. Bu Farida tersenyum saat melihat suaminya yang datang. Bu Farida melihat dari samping, jadi yang terlihat hanya suami. Pak Tommy tersenyum ke arah istrinya, tetapi saat Bu Farida berjalan mendekat, senyum Bu Farida memudar.
Mata Bu Farida mengembun saat melihat seorang gadis yang sering dia sakiti selama tinggal bersamanya. Naila pun berjalan mendekat ke arah Bu Farida.
Naila pun sama, matanya sudah mengembun, namun terlihat ada senyuman di bibirnya.
Mata mereka saling bertemu, Bu Farida menunduk seakan dia tak memiliki wajah saat bertatapan dengan Naila.Ya Bu Farida malu akan sikapnya yang telah menyakiti Naila.
"Bibi...." Panggil Naila.
Bu Farida menatap wajah Naila lekat lekat. Bibirnya bergetar saat melihat bola mata Naila yang nampak indah. Bu Farida seakan melihat mata Dina ibunda dari Naila, yang tak lain sahabatnya.
"Nai... Naila.." Semakin lama air matanya nya tak dapat di bendung lagi. Dan akhirnya air mata keduanya berhasil lolos dari pelupuk matanya.
" Bibi... Ba.. Bagaimana keadaan bibi, bibi sehat kan. Maafin Naila, yang baru bisa menjenguk sekarang ya bi..." Sambil menggenggam tangan Bu Farida.
Bu Farida mengangguk, sambil sesenggukan.
"Tidak apa-apa Naila. Harusnya bibi yang bilang minta maaf sama kamu Naila. Selama ini, bibi sering berbuat jahat dengan kamu. Bibi selalu jahat sama kamu Nai, kamu di perlakukan buruk oleh bibi. Tapi justru kamu masih bersikap baik dengan baik , sampai menjenguk bibi. Hiks... Hiks... Hiks .." Bu Farida menangis menyesali kesalahannya.
Naila pun ikut menangis tak tega melihat bibi nya, yang begitu amat menyesal dengan sikap nya dulu. Bukan hanya Naila Brian dan pak Tommy pun ikut terharu melihat Bu Farida yang menangis menyesali kesalahannya.
__ADS_1
Bu Farida pun menghapus air matanya, lalu menelungkup kan kedua tangannya di hadapan Naila.
"Naila... Bibi minta maaf sama kamu, beribu ribu minta maaf sama kamu Nai. Bibi sudah sangat jahat sama kamu, selama disini bibi menyesali sikap sikap bibi yang selalu jahat dengan kamu. Bibi di hantui rasa bersalah sama kamu, terutama pada almarhum ibumu nak.. Bibi sadar, mungkin ini teguran dari Tuhan. Karena bibi sudah jahat sama kamu, bibi mohon maaf Naila. Mohon maaf.... Hiks hiks hiks....." Bu Farida sampai ingin berlutut di hadapan Naila.
Naila pun menahan nya, lalu memeluk bibi nya. Bu Farida menangis memeluk keponakan yang sejak bersama nya, selalu di perlakukan kasar. Inilah pertama kalinya,Bu Farida memeluk Naila,dengan perasaan bersalahnya.
"Bibi... Bibi jangan melakukan seperti ini, Naila sudah memaafkan bibi sejak lama. Naila tidak dendam dengan bibi. Mungkin kalau marah, iya Naila marah. Tapi Naila sudah memaafkan bibi. Jadi Naila mohon bibi jangan seperti ini ya, Naila sudah memaafkan bibi ko." Ucap Naila dengan tangisannya, sambil menghapus air mata di wajah Bu Farida." Naila senang bibi sudah berubah, bibi sudah menyesali kesalahan bibi. Setiap manusia pasti punya kesalahan dan dosa, dan bibi sudah mengakui dan meminta maaf kepada Naila. Naila pun sudah memaafkan bibi, bibi jangan sedih lagi ya.."
"Kamu memang mirip seperti ibu mu, Bibi malu sama kamu. karena kamu selain wajah kamu yang cantik, hati kamu pun juga baik. Bolehkah bibi memeluk kamu nak, sebagai permintaan maaf dari bibi. Bibi yang sudah pernah jahat sama kamu. Bibi harap kamu jangan membenci bibi ya nak, bibi menyesal sudah menyakiti kamu nak..."
"Bibi... Bibi jangan bicara seperti itu. Hanya paman dan bibi keluarga yang aku punya selama kedua orang tua Naila tiada. Jadi mana mungkin Naila bisa membenci bibi.."
Naila dan Bu Farida akhirnya berpelukan, Bu Farida menyesali kesalahannya yang pernah dia perbuat semasa hidupnya. Dia sering berbuat jahat, terutama kepada Naila.
Brian, dan pak Tommy ikut terharu. Terutama Melly yang menyaksikan permintaan maaf ibunya, sampai seperti itu. Melly pun ikut menangis, menyaksikan kedua wanita dewasa itu..
Bu Farida melihat putri bungsunya, yang sedang melihat dirinya.
"Iya Bu..." Melly pun menghampiri ibunya, dengan mata yang basah.
Jujur saja Melly juga sangat merindukan ibunya. Apalagi saat mendengar ibunya sakit, Melly pun ikut sedih mendengarnya. Namun Melly tidak bisa berbuat apa-apa, Melly hanya bisa mendoakan saja...
"Melly kenapa, ko diam aja. Melly masih marah sama ibu ya, karena ibu selalu jahat dengan Ka Naila." Melly hanya diam, dia sendiri bingung harus menjawab apa.
"Ibu minta maaf ya sama Melly, ibu senang anak ibu tumbuh dewasa. Dan ibu senang, kata ayah kamu yang selalu perhatian kepada ayah. Sekarang putri ibu sudah pintar masak." Melly pun mengangguk,dan tersenyum.
"Iya Bu, terimakasih kasih. Bu Melly pun juga minta maaf, selama ini Melly selalu melawan ibu. Selama ini, Melly marah sama ibu, karena Melly tidak ingin ibu Melly menjadi jahat kepada kak Naila. Tapi sekarang Melly senang dan bangga, karena ibu mau mengakui kesalahannya ibu kepada ka Naila. Ibu berani meminta maaf kepada kakak. Melly harap, ibu tidak akan mengulanginya lagi, dan ibu akan mejadi ibu yang baik untuk kami."
Bu Farida pun mengangguk dan tersenyum. Putri bungsunya ini, memang sangat pintar dan dewasa sekali.
__ADS_1
"Iya ibu janji ,dan akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk kalian Semua."
Pak Tommy pun tersenyum melihat putri bungsunya dan juga istrinya sekarang berbaikan.
Tidak lamanya, seorang petugas pun menghampiri Bu Farida.
"Selamat sore Bu Farida, waktu kunjungan sudah habis. Sekarang Bu Farida bisa mengemasi barang barang ibu, karena ibu harus kembali kerumah anda. Dan selamat anda sudah di bebaskan. Dan ibu sekarang bisa kembali berkumpul dengan keluarga anda." Mendengar petugas mengatakan itu, semuanya terkejut.
Dan hanya Brian dengan ekspresi yang biasa saja. Naila dan pak Tommy pun melihat ke arah Brian, yang di mana Brian tersenyum kepada mereka.
"Ba... Baik pak, sebelumnya terima kasih." Ucap Bu Farida dengan rasa tak percaya.
Naila pun menghampiri suaminya, yang kini sedang memberikan senyuman untuknya.
"Mas... Kamu yang melakukan ini. Kamu yang mencabut hukuman dan membebaskan bibi.?" Brian tersenyum, Naila pun ikut tersenyum. "Terimakasih mas, terimakasih. Kamu mendengarkan permintaan ku ini."
"Iya sama-sama sayang... Jika kamu bahagia, aku pun sama..."
"Brian, apa benar kamu yang melakukan ini. Kamu membebaskan istri ayah.?" Brian tersenyum. Pak Tommy terharu.
"Terimakasih ya Brian, kamu sudah membebaskan istri ayah.."Sambil menelungkup kan tangannya.
Lalu Bu Farida pun juga menelungkup kan tangannya, dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Bibirnya pun bergetar, seakan tak sanggup untuk berucap Kata kata...
"Sa... Saya tidak tau harus berkata apa lagi. Saya hanya bisa mengatakan banyak terimakasih sedalam-dalamnya sama kamu. Kamu sudah mencabut masa hukuman saya, dan membebaskan saya. Terimakasih..hiks...hiks...hiks..." Brian mengangguk kan kepalanya, dan memberikan sedikit senyuman.
"Saya melakukan ini, semata-mata hanya demi istri saya Naila. Saya tidak bisa melihatnya terus bersedih, apalagi saat mengetahui anda sakit di sini. Walaupun sebenarnya saya berat menuruti permintaan nya. Beruntungnya anda, mempunyai keponakan seperti Naila. Walaupun anda dulu sering menyakiti Naila, tapi istri saya masih memikirkan anda. Dan di tambah lagi, paman kesayangan nya yang sudah di anggap ayah olehnya, dan ternyata beliau sedang sakit. Dan hampir tiap hari Naila memikirkan kalian, dan sampai mendiami saya.
Brian tersenyum dan menggenggam tangan Naila,dan di kecup nya. Brian membuang nafasnya yang dirasa sesak.
__ADS_1
" Ya intinya, saya melakukan itu hanya demi istri saya. Dia mengajarkan saya untuk tidak menjadi orang yang hatinya di penuhi rasa dendam, dan jadilah orang yang pemaaf.. Dan bagi saya seseorang berhak mendapatkan maaf. Apalagi jika benar benar mau berubah menjadi pribadi yang baik."
Bersambung...